Ps Bobby Butar Butar MTh blog

Sakit Hati – Memahami & Menyembuhkannya

Posted on: Maret 3, 2010

Sakit Hati

Memahami dan menyembuhkannya

Penulis: Ps. Bobby MTh


Pendahuluan

Hampir setiap orang pernah mengalami perasaan sakit hati. Faktor pemicunya bisa  bermacam-macam. Ada yang sakit hati karena diputus pacar, disakiti teman, ditinggal suami atau istri, kehilangan orang yang dikasihi, dsb. Sakit hati memang merupakan suatu perasaan yang umum dalam kehidupan manusia.

Bagaimana menghadapinya? Ada berbagai reaksi yang dilakukan manusia terhadap rasa sakit hati. Ada yang menerimanya menjadi dendam/kebencian namun menyimpannya di dalam hati, sehingga membuat jiwa terasa berat dan tertekan. Ada juga yang melampiaskannya menjadi tindakan yang destruktif seperti menganiaya, memukul, menyakiti diri sendiri, bahkan membunuh orang yang menyebabkan sakit hatinya. Dan ada pula yang menerimanya sebagai suatu perasaan yang harus dikalahkan dan kemudian melalui suatu proses akhirnya berhasil mengalahkan rasa sakit hati dan mengampuni orang yang melukai hatinya.

Pada orang-orang tertentu, sakit hati biasanya sangat sering terjadi. Dengan kata lain, ada orang-orang yang memang “mudah” mengalami rasa sakit hati. Hal itu ternyata ada penyebabnya. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Los Angeles (Detik.Com 29/12/2009), ada “gen” yang memicu sakit hati. Gen sakit hati ini membuat seseorang mudah sakit psikis dan fisiknya. Peneliti juga menemukan hubungan yang jelas antara sakit hati dan sakit fisik terhadap orang yang memiliki gen sakit hati. Seseorang yang baru dipecat atau dicampakkan kekasihnya tidak hanya akan tersiksa batinnya tapi juga fisiknya akan sakit-sakitan jika dilahirkan dengan gen pemicu sakit hati.

Peneliti dari University of California-Los Angeles melakukan survey terhadap 122 orang untuk mengetahui seberapa sensitif seseorang terhadap sebuah penolakan. Setelah melakukan scan otak dan tes air liur, diketahui bahwa mereka yang lebih mudah sakit hati punya sebuah penanda genetik yang sama. Di sisi lainnya, gen tersebut juga akan mempengaruhi bagian otak yang mengontrol rasa sakit, dimana rasa sakit akan lebih mudah terasa. Itulah sebabnya mengapa ada sebagian orang yang lebih rentan sakit-sakitan ketika sedang patah hati atau mengalami penolakan, bukan karena faktor psikologisnya yang membuat demikian, tapi memang ada gen pemicunya.

Dalam American Psychological Association, psikolog Naomi Eisenberger yang juga terlibat dalam studi tersebut mengatakan, “Terkadang seseorang sulit menerima kenyataan bahwa ia adalah tipe orang yang mudah sakit hati, tapi dengan fakta biologis bahwa ia memiliki gen sakit hati, semuanya akan lebih mudah diatasi”.

Ciri-ciri

Sakit hati yang berlarut akan menimbulkan pahit hati (akar pahit atau kepahitan) yang bisa merusak batin. Sebab kepahitan biasanya akan mengubah cara seseorang memandang kehidupannya, cara bertutur kata dan bersikap.

Pada umumnya orang yang mengalami hal tersebut akan mudah terlihat ciri-cirinya. Biasanya ia akan amat sensitif perasaannya, mudah tersinggung, mudah mengeluarkan kata-kata yang sinis, kasar, tajam dan menyakitkan (berbeda dengan saat-saat lain). Sebuah ilustrasi, ada seorang yang sakit hati berjalan ke ruangan dimana ada dua orang bercakap-cakap. Tiba-tiba mereka diam, ketika ia melewati mereka. Orang yang sakit hati biasanya akan berpikir “mereka sedang membicarakan aku”. Padahal kedua orang itu sedang membicarakan hal yang lain.

Ciri lainnya adalah orang tersebut akan tidak perduli dengan orang di sekitar, suka menggerutu, marah-marah tanpa alasan, membenci tanpa sebab yang jelas, apatis dan cenderung menjauhkan diri dari orang-orang. Ia juga sukar mengucapkan terima kasih kepada orang lain, kurang punya motivasi untuk mengasihi dan membantu serta diliputi perasaan kejiwaan yang tidak stabil dan gampang mengalami depresi. Bisa kadang-kadang ceria, namun juga dapat berbalik tiba-tiba menjadi diam, sedih, mengasihani diri sendiri dan merasa diri tidak berarti.

Beberapa waktu lalu dunia dikejutkan dengan bunuh diri yang dilakukan oleh desainer kondang Alexander McQuenn (10/02/2010) di rumahnya. Kematiannya di usia 40 tahun tersebut menimbulkan banyak tanda tanya karena hanya berselang sembilan hari sejak kematian ibunya. Kesedihan dan amarah Alexander karena kematian sang ibu, tertulis dalam postingnya di laman jejaring sosial twitter. Ia memberi tahu penggemarnya mengenai kematian sang ibu. Kemudian menulis, “But life must go on!!!!!!!” Menurut Inilah.Com, pada Minggu (7/2), Alexander menyatakan bahwa ia menjalani sepekan yang sangat berat dan sedang mencari cara menyadarkan dirinya serta menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi tampaknya, ia tidak mampu mengatasi semua rasa sakit di hatinya tersebut dan mengambil jalan yang salah.

Akibat destruktif

Tahun 1960-an di New York seorang pemuda melakukan kejahatan sadis. Ia menikam seorang pria yang sedang duduk di taman sebanyak 120 kali. Ketika polisi menangkapnya, ia ditanyai motif tindakannya. “Kamu kenal siapa orang ini?” Jawabnya, ” Aku tidak tahu”. Polisi bertanya lagi, “Nah, apa yang ia perbuat kepadamu?” “Tidak ada.” “Apa yang telah ia katakan padamu?” “Tidak ada”. “Jadi apa maksudmu mendatangi orang yang tidak kamu kenal dan membunuhnya?”

Pemuda itu menjawab, “Kalian betul-betul ingin tahu? Aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang tampan, pandai dan sangat disayang orang tuaku. Ia juga seorang atlit hebat. Pokoknya ia punya segala-galanya, sedang aku tidak. Ibuku selalu berkata, “Mengapa kamu tidak terkenal seperti kakakmu?” “Aku tahu aku tidak memiliki kepandaian atau bakat yang membuatku terkenal. Lalu aku membayangkan  akan terkenal dengan cara lain maka aku memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat kulakukan, sebab itu aku keluar dan melakukannya, sehingga setidak-tidaknya ibuku akan mengingatku sekarang …” Pemuda tersebut korban dari rasa sakit hati terhadap ibunya. Ia tidak mampu mengendalikan kebenciannya terhadap “pilih kasih” yang dilakukan ibunya, sehingga melakukan tindakan yang destruktif.

Dalam beberapa kasus lesbianisme/gay, setelah diteliti ternyata salah satu penyebabnya adalah rasa sakit hati yang begitu dalam terhadap lawan jenisnya (dikhianati berkali-kali) sehingga membuat orang tersebut akhirnya menjadi pahit hati terhadap cinta heteroseksual dan memilih mencintai sesama jenis.

Dalam sebuah riset yang dirilis di “Journal of Studies” pada Agustus 1993 di Amerika Serikat terhadap 472 wanita, disimpulkan bahwa “9 dari 10 wanita pecandu alkohol menderita penyiksaan fisik atau seksual semasa gadis.” Hasil riset itu membuktikan bahwa mayoritas wanita tsb, tdk mampu menangani sakit hatinya dengan positif, sehingga memutuskan utk “melarikan” diri ke alkoholisme, yang kemudian hanya semakin menghancurkan diri mereka.

Memahami sakit hati

Sakit hati perlu dipahami secara dewasa. Sakit hati adalah bagian dari proses interaksi kehidupan. Salah satu akibat dari interaksi sosial dengan orang lain, selain rasa bahagia maka bisa timbul pula sakit hati. Oleh karena itu, marilah melihatnya secara proporsional.

Kehidupan setiap orang dikuasai oleh hati dan pikiran. Segala yang dipikirkan, dirasakan, diucapkan dan dilakukan biasanya bersumber dari isi hati. Apabila ingin hasilnya (output) adalah positif, maka marilah mengisi hati dengan hal-hal positif. Namun hasil yang negatif dapat juga terjadi, bila hati diisi dengan hal-hal yang negatif, seperti sakit hati dan kebencian.

Firman Tuhan mengingatkan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Apakah maknanya? Secara tegas Tuhan hendak berkata bahwa hati kita adalah pusat kehidupan. Oleh karenanya, hati harus dijaga ekstra ketat. Sering kita dengar hamba Tuhan berkata kepada jemaat “jaga hati!” Maksud pernyataan tersebut sebenarnya hendak mengingatkan agar jangan membiarkan hal-hal yang “pahit dan merusak” sampai menguasai hati kita.

Untuk itulah setiap orang sebaiknya selalu hidup dalam kasih karunia Tuhan, yaitu hidup di dalam kehendak dan kasihNya dan tidak menjauhkan diri dari Tuhan. Mengapa? Karena ketika seseorang hidup dalam kasih Tuhan, maka ia akan mempunyai kekuatan untuk menolak “kebencian dan akar pahit” meskipun dia sedang mengalami rasa sakit hati.

Charles Graber seorang penulis Kristiani mengatakan bahwa kepahitan adalah “ketidaksediaan untuk mengampuni.” Kepahitan merupakan salah satu emosi kesukaan iblis. Melalui kepahitan hati, iblis bekerja mempengaruhi emosi manusia dengan hal-hal negatif. Bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru untuk “kepahitan” adalah PIKROS, yg artinya adalah “tajam, meracuni, menusuk dan sangat pahit.”

Nasihat Firman Tuhan, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang,” (Ibr.12:15). Apabila kita selalu melekat dengan Tuhan, maka kasihNya yang lembut akan terus memenuhi dan menjaga hati, sehingga kita akan mempunyai cukup banyak kekuatan untuk menolak kepahitan dan kebencian.

Mengampuni dan mengasihi adalah ilahi. Tanpa kasih Tuhan, akan sangat sukar bagi manusia untuk mengasihi orang yang telah menyakiti hatinya. Sebab, natur manusia akan cenderung memerintahnya untuk “membalas” setiap orang yang telah menyakitinya. Oleh sebab itu, hiduplah senantiasa di dalam kasih dan hadiratNya.

Solusi

Ada banyak cara untuk mengalahkan rasa sakit hati. Beberapa ahli psikologi menyarankan untuk melepaskan rasa emosi yang menyebabkan sakit hati. Penyalurannya dapat dengan menangis mengeluarkan kekesalan dan kesedihan di hati. Bisa juga dengan curhat kepada sahabat yang dapat dipercaya.

Diagram diatas adalah “Kubler Ross Grief cycle“, suatu diagram yang bisa berguna untuk mengukur sejauh manakah tahapan emosi seseorang. Apakah hatinya msh dalam taraf amarah? Menolak mengakui keadaan yang ada sekarang? Masih meluap dgn kemarahan dan kebencian? Memasuki masa depresi batin akibat sakit hati? ATAUKAH berhasil keluar dari “kubangan” sakit hati dan masuk dalam tahap acceptance.

Hal terpenting adalah “membersihkan” hati dari segala emosi negatif. Untuk itu, jangan segan dan malu untuk datang kepada Tuhan Yesus. Dia sanggup menyembuhkan setiap hati yang luka. KasihNya mampu memulihkan semua luka hati. Datanglah dengan kerendahan hati kepadaNya. Pintu kasih karuniaNya selalu terbuka menanti kedatangan anak-anakNya. Lepaskanlah pengampunan dan berkat kepada setiap orang yang telah melukai hatimu.

Jangan lagi menyimpan sakit hati dan kebencian, karena hal-hal itu hanya akan merusak damai sejahtera kita. Menyimpan sakit hati hanya akan mematahkan semangat hidup (Amsal 15:13). Berdamailah dengan masa lalu, sepahit apapun itu (Yesaya 43:18-19). Sebab, hati yang damai akan memberi kehidupan bagi tubuh kita (Amsal 14:30).

Tuhanpun mengingatkan bahwa Dia akan mengampuni orang yang juga mengampuni sesamanya (Matius 6:14-15). Biarlah hati kita kembali ceria dan penuh kegembiraan, sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur untuk menyembuhkan setiap luka hati (Amsal 17:22).

 

10 Tanggapan to "Sakit Hati – Memahami & Menyembuhkannya"

Hai, salam kenal yah. Sakit hati memang dapat diamati dari berbagai sudut dan cara penulisan, ada yang analitis, ada yang puitis, ada yang dramatis. Tulisan Anda cukup menarik, dan bisa terkait dengan artikel saya Lima Aksi Menuju Bahagia Instan.

Saya yakin kita bisa saling memperkaya pemahaman satu sama lain.

Sekali lagi salam kenal, sobat, nanti saya akan berkunjung lagi..

Lex dePraxis
Unlocked!

Bagus banget topiknya, cuma mau tanya, kalau semua sudah dilakukan & yang keluar adalah rasa sedih karena disakiti bagaimana?

Wah saya ni termasuk orang yang ketinggalan berita, topik sakit hati ini keren buangeettt… bikin lagi dong topik yang berkenaan dengan hati. YBU

makasih sebelumnya atas artikelnya. saya merasa seperti orang yang masih mempunyai rasa sakit hati, tapi lebih tepatnya saya merasa seperti orng yang depresi karna begitu banyak hal yang tidak saya inginkan terjadi tapi terjadi dalam hidupku. bingung tolong kase solusi

Sakit emang harus dialami oleh setiap orang, buat anak Kristus sakit hati itu hanya pemanis hidup karna Yesus lah yang akan menyembuhkan sakit hati mu

GBU. Choklat forever

o maksudnya jaga hati itu begitu ya. oke oke.
nice. gbu.

bagaimana kalo qt menyembuhkan orang yg sedang kepahitan ?

Saya senang membaca artikel ini.. Jujur sebenarnya saya menyimpan sakit hati terhadap teman saya. Sampai sekarang saya masih merasakan sakit hati terhadap apa yang telah dia katakan kepada saya. Sudah hampir beberapa bulan kami tidak bertegur sapa. Saya sempat meminta maaf kepada dia jika pada saat itu saya sempat emosi, tapi sampai sekarang dia tidak menegur saya, padahal itu bukan salah saya sampai saya marah. Itu karena ucapan yang telah diucapkan kepada saya.
Saya sudah memafkan dia, tapi hati saya masih merasa kesal terhadap dia. Pada saat berdoa kepada Tuhan, terkadang saya merasa malu bahwa saya masih belum sepenuhnya memafkan teman saya tersebut. Saya tau pasti Tuhan merasa sangat sedih dengan apa yang telah saya perbuat.
Dari artikel ini, saya mendapatkan pelajaran mengenai makna dan inti dari Ibrani 12:15. Saya akan berusaha untuk mengingat nast ini dan belajar agar dapat membuang rasa pahit dan sakit hati yg telah dilakukan teman saya.

Saya adalah orang yang mudah tersinggung,kadang aku selalu kepikiran terus sama aorang yang dianggap musuh atau tersayang,aku kadang suka egois,dan aku selalu gampang terpengaruh emosi . Yang saya tanyakan apakah penyakit yg cirinya diatas tersebut dapat merusak kejiwaan kami,Kami mohon solusinya yg terbaik.termakasih .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 638,270 hits

Readers

tracker
Follow Ps Bobby Butar Butar MTh blog on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: