Ps Bobby Butar Butar MTh blog

Bolehkah orang Kristen merayakan imlek?

Posted on: Februari 9, 2010

BOLEHKAH ORANG KRISTEN MERAYAKAN IMLEK?
(Imlek Dalam Perspektif Iman Kristiani)

Penulis: Ps. Bobby MTh

Sejarah & tradisi

Tahun Baru Imlek 2561 tahun ini dirayakan pada tanggal 14 February 2010. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan pertama dari sistem kalender lunisolar yang dipakai oleh orang Tionghoa. Imlek dikenal juga sebagai Sin Tjia dan Festival Musim Semi (Chun jie). Perayaan tahun baru ini tentunya tidak bisa lepas dari segala mitos dan ritual yang melekat kuat di dalamnya.

Pada mulanya Imlek adalah perayaan yang dilakukan para petani di Cina dalam menyambut musim semi. Menurut legenda, Nián adalah binatang raksasa pemakan manusia dari dasar laut yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri, para penduduk menaruh makanan di depan pintu rumah dengan harapan Nian akan memakan makanan tersebut dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen.

Pada suatu waktu, penduduk melihat Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, mereka akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Masyarakat juga mengetahui bahwa Nian ini takut akan bunyi yang keras. Karena itu, untuk mencegahnya datang, mereka memukul beduk, gong dan membakar bambu yang akan menimbulkan suara ledakan (terakhir ini telah diganti dengan petasan dan kembang api, setelah diketemukannya mesiu pada dinasti Sung).

Secara tradisi penyambutan imlek diisi dengan aktivitas menjadi “baru” mulai dari membersihkan dan mendandani rumah, membersihkan tempat ibadah, menyiapkan angpao, membeli pakaian baru dsb. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Ritual & Kebiasaan

Segala rangkaian prosesi perayaan Tahun Baru imlek ini dimulai dengan suatu ritual yang dinamakan Cap Ji Gwee Jie Shie. Pada permulaan hari itu, sesuai tradisi, orang Tionghoa menyalakan puluhan hio (dupa bergagang) berketinggian tiga meter di klenteng-klenteng. Bagi yang tidak mampu membeli itu, pelaksanaan sembahyang cukup dengan hio biasa, lilin kecil, minyak nabati, serta sesaji buah-buahan, kue serba manis, dan pembakaran hu (kertas merang bergambar kuda terbang). Ritual ini juga sering disebut dengan Shang Sheng. Shang Sheng merupakan salah satu dari rangkaian ritual keagamaan pemeluk Kong Hu Cu.

Biasanya pada malam sebelum tahun baru atau Chu Si Ye, seluruh anggota keluarga harus kumpul bersama dan makan Thuan Yen Fan (makan malam sekeluarga). Sayur yang disajikan cukup banyak dan mengandung arti tersendiri, seperti Kiau Choi yang melambangkan panjang umur, ayam rebus yang disajikan utuh melambangkan kemakmuran untuk keluarga. Sedangkan bakso ikan, bakso udang dan bakso daging melambangkan San Yuan atau tiga jabatan yaitu Cuang Yuen, Hue Yuen dan Cie Yuen. Tiga jabatan tersebut adalah jabatan yang sangat dihormati masyarakat Tionghoa pada jaman kekaisaran dahulu. Jika ada keluarga yang tidak sempat atau berhalangan untuk pulang ke rumah, di meja akan disiapkan mangkok dan sepasang sumpit untuk mewakili yang tidak sempat datang tadi. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa. Pada waktu ini disediakan camilan khas imlek berupa kuaci, kacang, dan permen.

Tradisi lain pada malam tahun baru adalah menggunakan pakaian tidur berikut pakaian dalam yang masih baru. Maksudnya adalah untuk membuang kesialan tahun lalu. Pada malam tahun baru setelah berdoa dan makan malam, orang akan tidur dengan menggunakan pakaian tidur yang baru dan umumnya berwarna merah.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti “kemakmuran,” “panjang umur,” “keselamatan,” atau “kebahagiaan,” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur. Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan. Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran.

Pada hari pertama Sin Nien atau tahun baru, pertama yang akan dilakukan adalah sembahyang pada leluhur bagi yang ada altar di rumah. Bagi yang tidak punya altar, akan ke klenteng terdekat untuk sembahyang mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun. Setelah itu memberikan hormat kepada kedua orang tuanya, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat.

Selain itu bagi anak-anak muda mereka akan menyambut tahun baru dengan memasang petasan dan main barongsai yang mengandung arti mengusir segala yang jahat dan menyambut segala yang baik. Banyak pantangan yang dilakukan pada hari tersebut. Seperti tidak menyapu dan tidak membuang sampah yang katanya akan mengusir rejeki keluar dari rumah. Pantangan lainnya yaitu tidak boleh bertengkar atau mengeluarkan kata-kata fitnah dan tidak boleh memecahkan piring.

Hari kedua tahun baru adalah saatnya hue niang cia atau pulang ke rumah ibu. Hari ini bagi wanita yang sudah menikah akan pulang ke rumah ibunya dengan membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpao (kantong merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi angpao atau Hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan orang tua. Pada hari ketiga, mereka lebih banyak tinggal di rumah, tidak banyak melakukan perjalanan dan aktivitas.

Pada hari keempat adalah hari menyambut para dewa untuk kembali ke bumi. Konon menurut kepercayaan, Dewa Dapur (Co Kun Kong) dan para dewa dari langit akan kembali ke Bumi. Pada hari kedatangan kembali para dewa-dewi itu, khususnya Dewa Dapur, akan disambut bunyi-bunyian antara lain dengan kentongan. Warga Tionghoa biasanya ke klenteng untuk Hi Fuk atau memohon kepada dewa untuk mendapatkan perlindungan dan rejeki. Sesaji yang dibawa biasanya berupa buah-buahan juga ciu cha (arak) dan teh.

Perspektif iman Kristen

Sebagai suatu perayaan menyambut tahun baru, merayakan imlek bukanlah sesuatu yang buruk. Sebab sama halnya ketika orang-orang larut dalam kegembiraan menyambut tahun baru masehi yang berdasarkan kalender matahari, demikian juga dengan kaum tionghoa yang menghitung kalender berdasarkan sistem lunisolar.

Hanya saja, orang tionghoa yang telah menjadi Kristen, diharapkan lebih “teliti” dalam memilah mana bagian dari tradisi imlek yang dapat dirayakan, dan mana bagian yang sudah tidak bisa lagi karena bertentangan dengan prinsip firman Tuhan. Sebagai contoh, tradisi yang motifnya bertujuan untuk “menjamu” leluhur sudah tentu tidak dapat lagi dirayakan. Mengapa? Karena kita percaya dalam Kristus, bahwa orang yang telah mati alamnya telah berbeda dengan orang hidup. Oleh sebab itu, tidak ada gunanya lagi mencoba untuk “menjamu” mereka. Sebab orang yang sudah mati adalah urusan Tuhan sebagai pencipta, dimana roh mereka sudah kembali kepada Allah (Pengkotbah 12:7). Justru kita yang masih hidup harus berusaha keras agar dalam hidup ini Tuhan senantiasa berkenan dan memberkati kita.

Oleh karenanya, orang-orang yang telah percaya kepada Kristus, sebaiknya tidak lagi menyalakan hio di klenteng, membakar hu, memberikan sesaji (makanan) di meja sembahyang dsb. Hal itu bukan berarti kita bersikap kurang ajar atau tidak menghormati leluhur, justru karena telah memahami firman Tuhan, makanya dengan yakin kita tidak lagi menuruti tradisi yang bertentangan dengan kebenaran. Sebab, justru roh-roh jahatlah yang mengambil keuntungan dengan ber”manifestasi’ menyerupai leluhur yang sudah meninggal. Mereka datang dan berbicara dalam mimpi menyerupai orangtua/leluhur yang telah meninggal. Penipuan ini adalah akal si jahat dalam membodohi manusia.

Tradisi bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa, kebiasaan tidak menyapu dan tidak membuang sampah yang katanya akan mengusir rejeki keluar dari rumah perlu dikritisi juga. Mengapa? Bukankah kita percaya bahwa berkat/rezeki itu berasal dari TUHAN saja (Amsal 10:22)? Bagaimana mungkin berkat Tuhan Yesus bisa terhalang oleh pintu rumah yg tertutup, oleh aktivitas pantang menyapu sampah? Bukankah Dia adalah Allah yang maha kuasa? Justru nanti badan kita yang gatal-gatal diserbu pasukan nyamuk karena membuka pintu rumah lebar-lebar sampai pagi dan rumah menjadi kotor oleh debu dan sampah.

Tradisi lain seperti menggunakan pakaian tidur dominan merah berikut pakaian dalam yang masih baru pada malam imlek dengan maksud untuk “membuang kesialan” tahun lalu juga harus dicermati. Membuang sial bukanlah dengan cara seperti itu. Sial/kegagalan justru harus disikapi dengan keinginan kuat untuk “bangkit” dan melangkah ke depan. Percaya bahwa dalam Yesus kita lebih dari pemenang. Bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberikan hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10b). Kombinasi iman dan semangat, kerja keras serta disiplin pasti akan membawa keberhasilan dalam melangkahkan kaki di tahun baru. Paradigma berpikirlah yang seharusnya dirubah. Boleh-boleh saja memakai pakaian tidur baru berwarna merah, memakai baju dominan merah di tahun baru, namun sekarang dengan pemahaman baru. Bukan lagi sebagai sarana untuk membuang sial.

Tradisi lainnya seperti memberikan angpao, sesungguhnya merupakan suatu hal yang baik. Bukankah hal tersebut sama dengan saling membagi berkat? Alkitab bahkan memerintahkan agar kita saling memberkati (1 Petrus 3:9). Yang penting janganlah kita bermurah hati dan memberkati hanya saat imlek saja, tetapi di hari-hari lain pelit. Alangkah indahnya bila kita mengembangkan sikap hidup yang senang untuk memberkati keluarga dan orang-orang pada setiap waktu. Akhir kata saya ucapkan Gong Xi Fa Cai (selamat dan semoga banyak rejeki). Tuhan memberkati.

Data-data ttg sejarah, tradisi, ritual dan kebiasaan diantaranya diambil dari:

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Imlek

2. http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Budaya_Bangsa/Pecinan /Imlek.htm

3. http://www.kapanlagi.com/a/tahun-baru-imlek-dengan-mitos-dan-ritual-di-dalamnya.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 638,270 hits

Readers

tracker
Follow Ps Bobby Butar Butar MTh blog on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: