Ps Bobby Butar Butar blog

Posts Tagged ‘Alkitab

FENOMENA HOMOSEKSUAL (MENYUKAI SESAMA JENIS)

Perspektif firman Tuhan terhadap gay/lesbian

Penulis: Ps. Bobby MTh

Pendahuluan

Dunia yang dihuni lebih dari enam milyar manusia terbagi dalam dua jenis kelamin, yaitu pria dan wanita. Kecenderungan seksual manusia adalah heteroseksual (menyukai lawan jenis). Namun tidak dapat dipungkiri ada juga kalangan yang menyukai sesama jenis baik itu gay (pria menyukai pria) maupun lesbian (wanita menyukai wanita).

Kecenderungan menyukai sesama jenis tersebut wilayahnya sangat luas melewati batas-batas  agama, budaya, sosial dan usia. Saat ini bahkan ada beberapa negara yang melegalkan perkawinan sejenis, seperti di Belanda, Belgia, Norwegia dan Swedia. Di lingkungan Kristianipun ada perilaku tersebut. Tidak jarang bahkan terdengar adanya pelayan Tuhan yang perilakunya cenderung menyukai sesama jenis. Baca entri selengkapnya »

Mengapa Kata “Allah” dan “TUHAN”

Dipakai dalam Alkitab Kita?

Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini. Baca entri selengkapnya »

Kenapa nama YHWH tdk ada di Perjanjian Baru

Artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan sementara orang yang “ngotot” bahwa nama Sangyhwh Pencipta (Allah) adalah YHWH. YHWH kemudian disamakan dengan BAPA. Satu hal yang menarik adalah nama tersebut (YHWH) tidak ada di dalam teks-teks asli Perjanjian Baru yg tertulis dalam bahasa Yunani. Kalau demikian, mengapa nama YHWH tidak ada dalam Kitab Suci Perjanjian Baru?

 

Apakah demikian adanya?

 

Pernyataan Perjanjian Lama

Memang, ketika kita membaca Alkitab, terutama di Perjanjian Lama, nama diri (proper name) yang dipakai adalah YHWH. Nama “YHWH” ini ketika diterjemahkan ke dalam Alkitab berbahasa Indonesia menjadi “TUHAN”.

Orang Israel, dalam tradiri keagamaannya kemudian ketika “membaca” nama YHWH, membaca/menyebutnya sebagai ADONAI. Mereka tdk pernah melafalkan YHWH tersebut dalam ucapan.

 

Pernyataan Perjanjian Baru

1. Yesus menggunakan panggilan BAPA dan bukan YHWH. Dalam setiap pengajaran-Nya, Tuhan Yesus selalu mengajar orang percaya untuk memanggil Sang Pencipta dengan panggilan BAPA (Matius 6:9). Tidak pernah sekalipun Yesus memakai nama YHWH.

2. Kitab suci Perjanjian Baru menyebut-Nya THEOS, dan bukan YHWH.

Kalau YHWH adalah proper name (nama diri) yang mutlak harus dipertahankan, maka meski Perjanjian Baru ditulis dlm bahasa Yunani mestinya para penulis yg diilhamkan Roh Kudus ini pasti mempertahankan YHWH. Namun kenyataannya tdk begitu. Mereka menyebut Sang Pencipta tersebut sebagai THEOS.

Hal ini berarti YHWH bukanlah Proper Name (Nama diri yg bersifat Pribadi) yang HARUS dipertahankan. Baca entri selengkapnya »

Lokasi Pertarungan Daud VS Goliath Ditemukan Arkeolog Israel

Penulis: Ps. Bobby M.Th


JERUSALEM 21 Nopember 2008, Penemuan gerbang kuno di Israel memberi petunjuk kepada lokasi kota Sha’arayim, yang menjadi tempat pertarungan Daud dan Goliath. Alkitab mengisahkan Daud sewaktu muda belia, telah mengalahkan dan membunuh Goliath, musuh bangsanya di di Lembah Elah dekat Sha’arayim. Baca entri selengkapnya »

MENGENAL BACKGORUND DUNIA PERJANJIAN BARU


Penulis: Ps Bobby MTh

 

Ketika mempelajari Alkitab maupun mendengar kotbah, setiap orang pasti rindu rabbimendapat pengetahuan yang lebih dalam lagi mengenai Allah dan firman-Nya. Dalam tulisan ini, diharapkan pembaca mendapat pengetahuan dan informasi yang memadai mengenai latar kisah dunia Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama berakhir dengan pembuangan bangsa Ibrani (Israel) ke Babel selama 70 tahun. Beberapa abad sebelum peristiwa itu terjadi, nabi-nabi Tuhan telah menubuatkan tentang hukuman Allah yang akan dijatuhkan atas bangsa pilihan-Nya. Pembuangan ini disebabkan karena kemerosotan iman dan moral mereka. Hukuman Allah tersebut dikenal dengan nama “Pembuangan Babel”.

 

Perubahan Keagamaan

Salah satu akibat dari pembuangan bangsa Israel ke Babel adalah perubahan kehidupan keagamaan. Pahitnya pengalaman hidup selama 70 tahun di Babel mendorong mereka untuk mereformasi kehidupan rohani yang benar-benar dipimpin oleh Tuhan. Sebelum pembuangan, bangsa Israel kerap menyembah berhala. Setelah pembuangan terjadi revolusi, pertobatan nasional sehingga mereka menjadi bangsa yang hanya percaya kepada Tuhan saja (monoteisme).

Kebangunan rohani terjadi, karena Israel menyaksikan semua yang dinubuatkan para nabi itu terjadi, yakni: Yerusalem dihancurkan, pembuangan bangsa Israel ke Babel, kejatuhan negeri Babel secara tiba-tiba, sampai raja Koresy memerintahkan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Semuanya itu telah dinubuatkan para nabi, seperti nabi Yeremia, bertahun-tahun sebelumnya.

Salah satu mujizat yang dipakai Tuhan untuk membangun kerohanian bangsa Israel selama pembuangan adalah Daniel, seorang tokoh yang oleh anugerah Tuhan diangkat sebagai pemimpin kedua di bawah Raja Babel. Ada ribuan orang Israel yang kembali ke tanah Palestina untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Allah sebagai pusat keagamaan mereka.

 

Beberapa Istilah Penting

Ketika membaca kitab-kitab Injil, kita pasti akan betemu dengan istilah-istilah seperti orang Farisi, Saduki, Herodian, orang Zelot, Sanhedrin dan sebagainya. Tidak banyak orang yang mengetahui arti dari istilah-istilah tersebut. Karena memang pemahaman akan istilah-istilah itu biasanya hanya didapatkan di sekolah-sekolah Alkitab.

  • Synagoge Agung

Synagoge Agung adalah suatu dewan yang terdiri dari 120 orang anggota, yang menurut tradisi Yahudi dibentuk oleh Nehemia dan diketuai oleh Ezra sekitar tahun 410 S.M. Dewan ini bertujuan menghidupkan kembali ibadah kepada Tuhan dan hidup keagamaan para tawanan yang kembali dari Babel. Dewan Synagoge Agung ini berperan untuk menghidupkan, memulihkan dan mengumpulkan 39 kitab-kitab suci dalam satu golongan kitab kanon Perjanjian Lama.

  • Sanhedrin

Dalam perkembangan kemudian Dewan Synagoge Agung berganti nama menjadi Sanhedrin. Dewan Sanhedrin terdiri dari 71 orang anggota. Mereka adalah para Imam, bangsawan Saduki, dan beberapa orang Farisi. Patut diketahui, rasul Paulus, dahulumya tatkala masih bernama Saulus, adalah anggota Sanhedrin. Sanhedrin akhirnya dihancurkan pada tahun 70 M, bersamaan dengan penghancuran kota Yerusalem oleh Jenderal Titus dari Romawi.

Sanhedrin adalah lembaga tertinggi bangsa Israel. Mereka mengatur tata cara ibadah, hukum taurat sampai masalah-masalah sosial. Para anggota Sanhedrin bertemu setiap hari di “chamber of Hewn Stones” di dalam kompleks Bait Allah Yerusalem. Sanhedrin tidak bersidang di saat-saat khusus, seperti Hari Sabat maupun Perayaan keagamaan Yahudi. Sanhedrin diketuai oleh seseorang yang disebut sebagai “nasi” (Ibrani) yang artinya “prince“. Dan seorang wakil ketua yang disebut av bet din (Ibrani) yang artinya “father of the court“.

Sanhedrin mengadili para pelanggar hukum, namun tidak berhak menahan/memenjarakan mereka. Proses hukum di Sanhedrin memerlukan minimum dua saksi gar dapat mendakwa seseorang. Seorang terdakwa, dapat memanggil saksi yang meringankannya.

  • Orang Farisi

Orang Farisi adalah golongan pemimpin agama. Mereka mempercayai bahwa Tuhan memberikan Musa Hukum-Nya secara Verbal (oral/diucapkan) dan dalam Taurat (Torah). Taurat adalah hukum yang tertulis dan karenanya dapat ditafsirkan maupun diaplikasikan sebaik mungkin. Secara tradisi golongan farisi menafsirkan Hukum Taurat dan memberikan panduan aplikasinya secara turun temurun. Dikemudian hari, penafsiran Taurat dan cara melaksanakannya itu dibukukan dan disebut sebagai TALMUD.

. Mereka menjalankan hukum Taurat dengan sungguh-sungguh. Orang Farisi sangat dihormati dan disegani oleh rakyat. Pemerintah penjajahan Romawi pun tidak berani meremehkan kedudukan mereka. Mereka dibiarkan pemerintah untuk mngurusi rakyatnya, kecuali orang-orang yang menghadapi hukuman mati. Contoh: peristiwa penyaliban Yesus Kristus.

  • Orang Saduki

Nama Saduki berasal dari Zadok. Orang-orang Saduki adalah anak cucu Zadok. Bani Zadok memegang jabatan sebagai Imam Besar. Mereka adalah pembesar-pembesar Yahudi yang mempunyai jabatan-jabatan dalam pemerintahan. Mereka lebih mementingkan status sosial daripada agama. Golongan ini hanya mempercayai kelima “ “kitab Musa”, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan & Ulangan. Mereka tidak percaya adanya kebangkitan orang mati dan eksistensi atau keberadaan malaikat.

  • Herodian

Herodian bukan suatu golongan agama, tetapi organisasi politik yang membela dan mempertahankan kedudukan raja Herodes. Orang Farisi pada umumnya sangat membenci mereka, karena mereka adalah orang-orang Yahudi yang pro penjajahan Romawi (mendukung penjajahan).

  • Orang Zelot

Zelot berarti fanatik. Orang Zelot adalah Partai Nasionalis Yahudi yang radikal. Mereka sangat membenci penjajah Romawi. Menurut catatan sejarah, mereka akhirnya memimpin pemberontakan bangsa Yahudi/Israel atas bangsa penjajah Romawi. Perjuangan mereka berakhir tahun 70 M tatkala pasukan Romawi dibawah pimpinan Jenderal Titus menyerang dan menghancurkan Yerusalem. Patut diketahui pula, bahwa salah satu murid Tuhan Yesus, Simon orang Zelot, adalah anggota kelompok ini.

Sangat menarik untuk mengenal dunia Perjanjian Baru, karena di dalamnya kita akan belajar dan memahami banyak hal yang berkaitan dengan pertumbuhan iman Kristiani. Tuhan memberkati!

 

Referensi:

Blackman, Philip. Introduction to Tractate Sanhedrin of the Mishnah. New York: The Judaica Press, 1963.

Dimont, Max. Jews, God and History. New York: The New American Library, 1962.

Encyclopedia Judaica “Sanhedrin“. Jerusalem: Keter Publishing House, 1971.

Kung, Hans. Judaism. New York: Crossroad, 1992.

Seltzer, Robert M. Jewish People, Jewish Thought. New York: Macmillian Publishing Co, 1980.

http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/sadducees_pharisees_essenes.html

 

BAGAIMANA MENAFSIR ALKITAB

Penulis: Ps Bobby MTh


Penafsiran firman Tuhan yang tepat dan benar merupakan landasan orang percaya. Setiaphermeneutics kali kita membaca Alkitab, pasti akan bertemu dengan proses penafsiran mengenai makna ayat-ayat yang dibaca. Mencari makna atau arti yang sesungguhnya dari firman Tuhan, harus dilakukan oleh setiap orang yang rindu mengenal Tuhan, mau menjadi pengkotbah, hendak memimpin sharing atau pendalaman Alkitab dan aktivitas rohani lainnya.

Dalam lingkungan ilmu teologi, proses penafsiran Alkitab disebut sebagai ilmu hermeneutika. Kata hermeneutika berasal dari kata Yunani Hermeneuo, yang berarti menginterpretasikan, menjelaskan atau menterjemahkan. Sebuah definisi yang disepakati para ahli adalah, menunjuk seluruh proses penafsiran yang membawa pembaca modern mengerti akan berita yang disampaikan oleh Alkitab. Sebagai ilmu, hermeneutik menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari arti sesungguhnya dari Alkitab. Prinsip yang dipakai hermeneutik merupakan suatu sistem yang masuk akal, dapat diuji dan dipertahankan.

Kegunaan Hermeneutik:

v Hermeneutik penting didalam keperluan untuk memahami firman Tuhan dengan benar.

v Hermeneutik berguna untuk menyusun kotbah yang baik dan benar.

v Hermenutik berguna di dalam menyusun doktrin atau ajaran gereja.

Dasar Menafsir Alkitab:

Sebelum menafsirkan Alkitab, setiap orang harus mengerti lebih dulu beberapa kebenaran mengenai Alkitab. Dengan mengerti akan kebenaran-kebenaran ini maka setiap orang akan dapat menjadi seorang penafsir Alkitab yang baik, kompeten, benar dan tidak sesat di dalam menafsir. Beberapa kebenaran yang mutlak harus kita pahami, mengerti dan imani adalah sebagai berikut:

1. Alkitab adalah firman Tuhan.

Alkitab merupakan firman Tuhan. Hal ini harus dimengerti dan menjadi sikap iman kita. Mengapa? Sebab ada beberapa pandangan sesat yang tidak sesuai dengan iman Kristen bertalian dengan hal ini. Pandangan-pandangan itu diantaranya menyebut:

Ø Alkitab bukan firman Tuhan

Ø Alkitab berisi firman Tuhan

Ø Alkitab mengandung firman Tuhan

2. Alkitab adalah kitab yang diwahyukan oleh Allah.

Alkitab ditulis sejak jaman Musa sampai masa rasul-rasul Kristus. Masa penulisannya sangatlah panjang, kira-kira 1500 tahun. Para penulisnya merupakan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka menulis atas inspirasi dan ilham dari Roh Kudus (Keluaran 34:27; Yeremia 30:1-2; Habakuk 2:2; I Korintus 14:37; Wahyu 1:11; II Timotius 3:16).

Alkitab 100% benar. Ia tidak salah dalam hal sejarah, fakta, angka, ajaran, etika, teologi dan sebagainya. Sebagai ilham Allah, kata-kata seperti, “Allah berfirman, maka firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya…” dan sejenisnya tercatat ada lebih dari 3800 kali.

3. Alkitab terdiri dari 66 buku.

Alkitab hanya terdiri dari 66 buku, yang terdiri dari 39 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru. Alkitab disebut sebagai kitab kanonikal.

  1. Pandangan gereja Roma Katolik & Ortodoks Yunani

Gereja Roma Katolik percaya bahwa gerejalah yang menentukan Alkitab dan bukan Alkitab yang menentukan gereja, sehingga gereja Roma Katolik boleh menerima tambahan kitab-kitab, yang disebut sebagai Apokrifa. Keputusan itu diambil melalui konsili Vatikan (1870). Kitab-kitab apokrifa itu oleh gereja Roma Katolik disebut sebagai “deutero-kanonika”. Gereja Ortodoks Yunani juga percaya bahwa apokrifa merupakan kitab kanonikal.

  1. Pandangan gereja-gereja Protestan

Kalangan gereja protestan mempunyai dua pandangan mengenai kitab-kitab apokrifa. Golongan pertama berpendapat bahwa buku-buku itu tidak diilhamkan, tetapi adalah tulisan yang historis. Ia dapat membantu pembaca modern lebih mengenal keadaan zaman itu. Gereja Anglikan termasuk dalam golongan ini.

Golongan kedua berpendirian kitab-kitab itu tidak diilhamkan, nilainya tidak melebihi buku-buku biasa yang lain. Mereka berpendapat apokrifa merupakan kitab-kitab “sampah”.

Belakangan ini, banyak sarjana Alkitab mengambil posisi yang lebih terbuka terhadap buku-buku apokrifa. Ia tidak ditolak sebagai buku yang tidak baik untuk dibaca, tetapi diselidiki sebagai suatu sumber kesenian, literatur, sejarah dan agama zaman itu.

Prinsip & Metode Menafsir Alkitab:

I. Analisa Teks

Analisa teks adalah langkah pertama dari penafsiran Alkitab. Sebab sebelum seorang menafsir bagian Alkitab, ia terlebih dulu harus yakin bahwa naskah atau teks ayat yang dibacanya merupakan Firman Tuhan. Dalam konteks kita, Alkitab yang diterbitkan LAI merupakan terjemahan yang baik dan dapat dipercaya. Apabila ingin memperkaya penafsiran, ada beberapa Alkitab versi bahasa Inggris yang bagus dan dapat dijadikan referensi. Diantaranya versi New International Version (NIV), King James Version (KJV) dan New King James Version (NKJV).

II. Analisa Isi Alkitab

Suatu kekurangan yang sering ditemukan di antara orang-orang percaya saat menafsir Alkitab adalah kurangnya penguasaan akan isi Alkitab. Seseorang baru akan dapat menafsir dengan tepat bila ia sudah mempersiapkan dirinya membaca Alkitab dengan teratur dan terencana.

Cara menafsir dari Isi Alkitab:

  • Bacalah bagian Alkitab yang akan ditafsir dengan penuh konsentrasi. Baca beberapa kali. Bahkan bila perlu buatlah suatu garis besar atau diagram dari kitab, pasal atau bagian yang akan ditafsir. Dengan demikian ia akan sungguh menguasai bagian tersebut.
  • Selalu mengajukan pertanyaan, seperti apa, kapan, siapa, siapa, mengapa, bagaimana (5 W 1 H) dan lainnya.
  • Coba cari kata atau pokok penting dari kitab, pasal atau bagian yang ingin ditafsir. Hafalkanlah ayat-ayat yang penting.
  • Perhatikan hal-hal kecil yang biasanya lalai diperhatikan. Coba menyelami perasaan dari tokoh-tokoh di dalam Alkitab atau membayangkan keadaan dan situasi waktu itu. Carilah dimensi baru dalam pembacaan Alkitab.
  • Biarlah Alkitab sendiri yang berbicara. Bila Alkitab berbicara keras tentang satu hal, maka kita juga berbicara dengan keras. Bila Alkitab tidak berbicara, maka kita juga tidak berbicara. Hal ini merupakan prinsip yang harus dipegang setiap orang yang ingin menafsir Alkitab.
  • Memperhatikan kesejajaran/paralelisme kepada ayat-ayat atau kisah-kisah yang berhubungan atau sejajar. Misalnya membandingkan cerita penyaliban Yesus yang terdapat di dalam kitab-kitab Injil. Hal ini berguna untuk mendapatkan hasil penafsiran yang komplit dan baik.
  • Perhatikan tujuan penulisan kitab tersebut, latar belakang budaya, tempat dan penulisnya. Misalnya kita ingin menafsir kitab I Korintus, maka sangat dianjurkan untuk membaca buku-buku mengenai latar belakang kota-kota di Perjanjian Baru. Contoh lain, berkaitan dengan pemakaian kerudung bagi wanita seperti yang terdapat dalam tulisan rasul Paulus. Ternyata dalam analisa latar belakang budaya, agama dan kota alamat surat rasul Paulus tersebut, disebutkan bahwa para perempuan pelacur/nakal disana biasanya berdandan genit dan tidak berkerudung. Untuk itulah ia meminta wanita Kristen disana memakai kerudung, agar mereka membedakan dirinya.

III. Analisa Sejarah dan Latar Belakang

Analisa ini mencakup dimensi yang luas. Yakni latar belakang dari apa yang ditulis dalam kitab, tempat/daerah dimana kitab tersebut ditulis, tempat/daerah pembaca pertama. Dalam analisa ini terdapat beberapa hal penting:

Ø Unsur-unsur Geografis

Dalam pengumpulan data geografis, seorang penafsir dapat memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk mengerti kitab yang akan ditafsir. Beberapa catatan: berapa jauh jarak dari Mesir ke tanah perjanjian Palestina? Berapa jarak yang ditempuh nabi Elia dari gunung Karmel lewat jalan yang menuju Yizreel sampai Bersyeba? (I Raja-raja 18-19).

Ø Unsur Waktu

Unsur waktu merupakan salah satu unsur yang penting dan perlu diperhatikan penafsir. Kitab Daniel pasal 1-6 sebenarnya mencakup masa tiga raja yang cukup lama. Perhatikan unsur waktu ini dari surat-surat rasul Paulus:

1. I Korintus 15:9, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul…”

2. Efesus 3:8, “Kepadaku, yang paling hina diantara segala orang kudus…”

3. I Timotius 1:15, “…Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa dan diantara mereka akulah yang paling berdosa.”

Rupanya pengenalan Paulus akan Allah dari hari ke hari semakin dalam dan membuatnya semakin rendah hati.

Ø Unsur Politik & Ekonomi

Unsur ini perlu diperhatikan di dalam menafsir. Terutama dalam menafsir keempat kitab Injil. Karena situasi sosial ekonomi pada masa itu, bangsa Yahudi sedang berada dalam penjajahan bangsa Romawi. Tuhan Yesus hidup dalam masa penjajahan mereka.

IV. Analisa Sastra 

Analisa sastra menafsir kitab-kitab dari segi kepenulisan dan garis besarnya. Dalam Alkitab terdapat berbagai macam gaya sastra, mulai dari gaya bahasa yang dikenal luas, seperti catatan sejarah, pidato, peribahasa, riwayat, kotbah, perumpamaan hingga gaya bahasa yang kurang diketahui, misalnya apokaliptik, nubuat, salam, dialog, syair, nyanyian, kredo, liturgi dan lainnya. Sebagai contoh: Kitab Kidung Agung harus dipahami sebagai syair-syair yang menggambarkan hubungan mesra Allah dengan umat-Nya (orang Israel). Kitab ini sukar bila ditafsir ayat per ayat.

Ada kesalahan yang sering dibuat orang yaitu menafsirkan perumpamaan secara harafiah. Teks-teks Alkitab yang besifat perumpamaan, seperti perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, harus dilihat sebagai bentuk perumpamaan, suatu penggambaran mengenai kebenaran. Jadi tidak dapat ditafsirkan kata per kata. Harus dilihat maksud perumpamaan tersebut.

Demikian juga bila mencoba menafsirkan kitab-kitab yang bergaya sastra apokaliptik seperti kitab Wahyu. Kitab ini harus dipahami dan ditafsirkan sebagai suatu bentuk nubuatan. Karena mencakup peristiwa-peristiwa masa yang akan datang. Harus sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat dalam kitab ini. Sebab, fakta membuktikan bahwa ajaran-ajaran sesat kerap lahir dari penafsiran yang “semau gue” dari kitab Wahyu.

V. Analisa Konteks

Kata “konteks” berasal dari dua kata bahasa Latin yang berbunyi Con, yang berarti “bersama-sama/menjadi satu”, dan textus yang berarti “tersusun”. Jadi kata “konteks” disini dipakai untuk menunjukkan hubungan yang menyatukan bagian Alkitab yang ingin ditafsir dengan sebagian atau seluruh Alkitab. Salah satu contoh analisa konteks. Bila ingin menafsir Ibrani 1:1, maka kita harus menafsir ayat 2 juga, karena dalam terjemahan Alkitab LAI kalimat itu baru selesai pada ayat ke-2. Bahkan jikalau seorang penafsir menyelidiki Alkitab bahasa Yunani, rupanya kalimat itu baru selesai pada ayat ke-4. Bila seseorang kesulitan menafsir suatu ayat tertentu, maka ia perlu melihat konteks perikop ayat tersebut. Bila masih kurang jelas, ia perlu melihat konteks pasalnya, bahkan kalau perlu kitabnya.

Perhatikan contoh kesalahan yang sering dibuat. Ada orang yang mengkotbahkan bahwa istilah “singa dari Yehuda” adalah jemaat Tuhan. Padahal apabila diteliti dari konteks ayatnya (Wahyu 5:5), singa dari Yehuda menunjuk pada tunas Daud, yaitu Yesus Kristus Tuhan. Sangat tidak tepat bila menafsirkannya secara sepotong-sepotong.

VI. Analisa Arti Kata (Semantik/Lexicon)

Kata adalah unit terkecil dalam kalimat. Di dalam Filipi 4:3 tertera kata “Sunsugos”. Jika diselidiki artinya berarti “teman sepenanggung kuk” (terjemahan LAI: temanku yang setia). Jadi kata ini boleh dipakai untuk nama seorang teman Paulus atau secara artinya “temanku yang setia”. Kata “Kasih” yang tertulis dalam Alkitab LAI, sebenarnya bila diselidiki dari bahasa asli Alkitab, bahasa Yunani, kata itu ditulis dalam beberapa kata yang berbeda artinya, yaitu Agape, Phileo dan Eros. Ketiga kata tersebut mempunyai arti yang tidak sama. Agape menunjuk kepada kasih Allah, kasih yang berkorban tanpa pamrih. Phileo menunjuk pada kasih persaudaraan, sementara eros adalah ekspresi kasih kepada lawan jenis.

Secara umum di dalam menafsir Alkitab kita harus:

ü Berdoa memohon hikmat dan tuntunan Roh Kudus

ü Membaca bagian Alkitab tersebut berulang-ulang

ü Memakai alat-alat bantu, seperti konkordansi, terjemahan-terjamahan Alkitab, buku-buku penunjang, seperti buku mengenai sejarah Israel, Romawi, kota-kota Perjanjian Baru, buku tafsiran dan sebagainya.

Kesimpulan

Sangat disarankan agar setiap orang percaya yang ingin mengenal Tuhan lebih dalam, maupun hamba-hamba Tuhan yang ingin lebih baik lagi dalam berkotbah agar tidak merasa puas diri dengan keadaan masing-masing. Carilah pengetahuan yang lebih dalam lagi mengenai cara menafsirkan Alkitab yang benar melalui pendidikan Alkitabiah seperti Sekolah Orientasi Melayani (SOM), kursus-kursus Alkitab (bible course), maupun Institusi pendidikan Teologi berjenjang Sarjana Teologi dan sebagainya. Tuhan memberkati!


Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 332,034 hits

visitors

Readers

tracker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.