Ps Bobby Butar Butar blog

Ibadah raya Kristiani: Sabat (Sabtu) atau Minggu ?

Posted on: Juni 28, 2011

Ibadah raya Kristiani

Sabat (Sabtu) atau Minggu?

 

Sampai hari ini gereja-gereja se dunia, pada umumnya mengadakan ibadah raya pada hari Minggu. Akan tetapi ada juga yang menyelenggarakan ibadahnya pada hari Sabtu (Sabat). Perbedaan waktu ibadah raya atau kebaktian itu di satu sisi merupakan bagian dari khasanah kekayaan budaya Kristiani, sebab kita percaya bahwa semua hari adalah harinya Tuhan. Jadi, hari apapun yang dijadikan saat kebaktian ketika dua tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan Yesus, maka IA pasti hadir.

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)  

Adanya perbedaan cara pandang dalam menentukan waktu atau hari beribadah inilah yang melatarbelakangi mengapa saya tertarik untuk membahas topik ini. Tentunya memandang dari perspektif sejarah (historisitas) perkembangan Gereja dan referensi peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Alkitab. Pentingnya memahami sejarah ini, akan membantu kita memahami mengapa Gereja-gereja ada yang beribadah pada hari Minggu dan Sabtu (Sabat).

Sabat = Sabtu?

Kejadian 1:5,8,13,19,23,31 berbunyi, Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama…itulah hari kedua…itulah hari ketiga…dan seterusnya. Pada hari ketujuhpun demikian, tetapi pada hari ketujuh Allah berhenti dari penciptaan dan menguduskan serta memberkati hari ketujuh itu.

Dalam kalender Ibrani (Israel) pada masa Perjanjian Lama sampai zaman Yesus, perhitungan hari dimulai dari petang, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam. Imamat 23:32 menulis, “Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu.”

Perhitungan hari dimulai kira-kira pukul 18.00 sampai 18.00 keesokan harinya. Hal ini berbeda dengan perhitungan waktu internasional yang berlaku masa sekarang ini, dimana hari dimulai pukul 00.00 malam sampai pukul 24.00.

Sebagai contoh peristiwa kematian dan penguburan YESUS di hari Jumat sore:

Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, Lalu YESUS berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. (Lukas 23:44,46,54)

 Hari apakah hari persiapan itu? Dari Kamus Alkitab didapat penjelasan bahwa hari persiapan adalah hari jumat berarti hari Sabat adalah hari Sabtu, yaitu hari sesudah Jumat. Saat YESUS mati dan dikuburkan adalah hari jumat pada sore hari dan sebentar lagi matahari akan terbenam dimana hari akan segera berganti menjadi hari Sabtu.

Apa yang dilakukan pd Sabat?

Apakah yang dilakukan oleh orang Ibrani (Israel) pada hari Sabat?

Berikut penjelasan Alkitab dari Keluaran 20:8-11

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

 Hari sabat atau hari ketujuh dimaksudkan Tuhan agar umat Israel mengingat-Nya sebagai Sang Pencipta atau Tuhan alam semesta, dan mereka adalah ciptaan-Nya. Kemudian sebagaimana Tuhan beristirahat pada hari Ketujuh, maka umat Israel juga harus beristirahat dari segala pekerjaan mereka pada hari Sabat. Dengan kata lain, hari Sabat adalah hari libur dalam sistem kehidupan bangsa Israel.

Hari Sabat juga menjadi hari kebaktian atau ibadah bangsa Israel. Pada hari itu, mereka akan mendatangi sinagoge-sinagoge yang terdekat untuk beribadah. Pola ibadahnya sendiri biasanya diisi dengan doa-doa, mazmur pujian, pembacaan kitab suci, kotbah dan penjelasan kitab suci.

Demikian kesaksian Alkitab:

Markus 1:21 

Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.

 Lukas 4:16

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

 KPR 17:2

Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci.

Mutlakkah Ibadah Gereja harus di hari Sabat?

Hari Sabat memang merupakan hari WAJIB bagi orang Israel untuk beristirahat dari segala pekerjaan dan beribadah kepada TUHAN. Sebab perintah untuk itu tercantum dalam Hukum Taurat Musa. Sebagaimana kita ketahui bahwa kehidupan orang Israel diatur oleh Hukum Taurat.

Bagimana dengan Gereja Kristen? Apakah kita juga HARUS melakukan segala ketentuan Hukum Taurat termasuk didalamnya beribadah pada hari Sabat (Sabtu)?

Mari perhatikan pernyataan Firman Tuhan:

Perkataan Tuhan Yesus

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (Lukas 16:16)

 Paulus atas inspirasi Roh Kudus

Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (Efesus 2:15)

Jelas sekali bahwa Hukum Taurat telah selesai. Gereja (baca: orang Kristen) tidak diwajibkan untuk melakukan segala ketentuan hukum taurat. Kita dapat beribadah pada hari apa saja. Tidak ada lagi hari khusus yang disucikan untuk beribadah, sebab semua hari adalah harinya Tuhan.

Bagaimana dengan ayat-ayat dalam Ibrani 4:4,9

Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.” (ayat 4)

Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. (ayat 9)

 Kedua ayat tersebut ada dalam Perjanjian Baru dan menyebut tentang Sabat? Ya memang benar bahwa Hari Ketujuh adalah hari dimana Allah berhenti dari segala pekerjaan-Nya. Namun ayat itu tidak ada korelasi dengan keharusan gereja Kristen untuk beribadah pada hari Sabat.

Jadi apakah yang dimaksud “masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah”? Ayat itu berbicara tentang suatu keadaan di masa depan (future) dan bukannya saat ini (present). Konteks keseluruhannya berbicara tentang umat Allah akan memasuki masa “Sabat” atau “perhentian” suatu hari nanti, yaitu masa ketika kita akhirnya bersama-sama dengan Tuhan di surga selama-lamanya.

Kita umat-Nya justru diingatkan untuk “berusaha masuk” ke dalam “perhentian” itu, “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” (Ibrani 4:11). Jadi sama sekali tidak berbicara tentang kewajiban bagi gereja Kristen untuk memelihara Sabat.

Bagaimana dengan ayat-ayat yang mencatat bahwa Paulus datang ke rumah ibadah (Sinagoge Yahudi) pada setiap hari Sabat?

Memang Perjanjian Baru mencatat bahwa rasul Paulus kerap datang ke sinagoge setiap hari Sabat, misalnya:

Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. (KPR 17:2)

Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. (KPR 18:4)

Tujuan kehadirannya pada setiap Sabat di sinagoge justru untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus. Sebab ia mengetahui bahwa hanya pada hari Sabatlah orang-orang Yahudi  akan berkumpul untuk beribadah. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus. Rasul Paulus bahkan mengingatkan kita, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (Kolose 2:16-17).

Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan analisa Alkitab Perjanjian Baru, gereja Kristen tidak diwajibkan untuk menyucikan hari Sabat sebagai hari ibadah/istirahat.

 Mengapa hari Minggu?

Kebiasaan beribadah pada hari Minggu dalam Gereja Kristen sudah terjadi JAUH hari, bahkan sejak masa para rasul.

Perhatikan 2 ayat ini:

Yohanes 20:19

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid YESUS di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah YESUS dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

 Kisah Para Rasul 20:7

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

Perhatikan: Pada masa hidup para rasul, mereka berkumpul/bersekutu pada hari pertama, yaitu hari Minggu. “Memecahkan roti” adalah ibadah Kristen waktu itu, yang mencakup Perjamuan Kasih (Agape) dan Perjamuan Kudus.

Bukti dr “Surat dari Plinius”

Plinius (Lahir th 62) adalah Gubernur Romawi di propinsi Pontus dan Bitinia. Ia menulis surat pada Kaisar Trayanus tentang kumpulan orang Kristen.

Sebagian isi suratnya:

“Mereka berkumpul untuk beribadah kepada KRISTUS “sebagai Allah” setiap Minggu satu hari, pagi dan sore.

Pagi mereka mendengarkan Firman Tuhan dan menyanyi;

sore mereka mengadakan “Agape” (Perjamuan kasih) dan Perjamuan Kudus.”

 
Bukti dari Apologetika Yustinus martir (100-165)

Kebiasaan Gereja Kristen yang beribadah pada Hari Pertama atau hari Minggu terus berlangsung sejak masa para rasul sampai masa hidup Yustinus Martir (meninggal martir tahun 165).

Ia menulis hal tsb dalam Apologetikanya kepada Kaisar Romawi Antonius Pius.

Berikut sebagian isi apologetika dari Yustinus martir:

“Dan pada hari Minggu diadakan kumpulan semua orang yang diam di kota atau di pedalaman, setiap kali di tempat yang tetap; di tempat itu diadakan pembacaan-pembacaan rasul-rasul (injil-injil dan surat-surat) dan nabi-nabi (kitab-kitab PL), selama waktu mengijinkannya.

Kemudian usai pembacaan, pemimpin kebaktian memberikan ajaran dan nasehat, sehingga kami mengikuti segala hal yang indah ini. Maka kami semua berdiri dan mengucapkan doa-doa kami. Dan sebagaimana telah dikatakan di atas..pemimpin kebaktian mempersembahkan doa dan pengucapan syukur sekuat-kuatnya dan jemaat mengakuinya dengan suara nyaring: Amin! (Perjamuan Kudus).”

Jadi, hari Minggu adalah hari yang menurut kebiasaan, kami semua berkumpul karena hari itulah hari pertama.”

 

Bukti dari surat Ignatius (sekitar tahun 100 pd jemaat di Magnesia)

Dalam suratnya Ignatius menggambarkan orang-orang Kristen berlatar belakang Yahudi sebagai orang-orang yang telah memiliki harapan baru, tidak lagi mengamati/memelihara hari Sabat, tetapi hidup dengan memperhatikan Hari Tuhan, dimana hidup kami juga nyata oleh-Nya dan kematian-Nya ” (Magnesians 9) [catatan editor : Magnesians adalah surat yang ditulis untuk jemaat di Magnesia oleh Ignatius , seorang bapa gereja (tokoh gereja), juga disebut Theophorus]  

 Note:

Pd masa hidup Yustinus martir (meninggal th 165) gereja Kristen telah biasa mengadakan ibadah reguler pada hari Minggu.

Barulah pada masa hidup Kaisar Romawi Konstantin Agung, yaitu pada tahun 321, ia menetapkan hari Minggu (hari kebaktian gereja Kristen) sebagai hari libur umum dalam kekaisaran Romawi.

Dengan menjadikannya sebagai hari libur, merupakan fakta dukungannya pada Agama Kristen (secara resmi dalam Edict Milan th 313). Meskipun Konstantin sendiri baru dibaptis menjelang kematiannya.

 

 Kesimpulan

Pada prinsipnya, hari apapun yang digunakan untuk beribadah, ada janji Tuhan Yesus bahwa IA sendiri akan hadir (hadirat-Nya menyertai). Gereja-gereja yang beribadah pada hari Sabtu (Sabat) maupun yang beribadah pada hari Minggu adalah bagian dari Tubuh Kristus. Kebiasaan gereja beribadah pada hari Minggu merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak masa para rasul dan gereja mula-mula.

Kekristenan tidak lagi terikat untuk memelihara hari-hari tertentu, bulan maupun tahun tertentu (Kol 2:16-17). Sabat disebut sebagai bayangan, sedangkan wujudnya adalah Kristus. Dengan kata lain, Yesus Kristus adalah Sabat itu sendiri.

Dan kita semua tahu bahwa di dalam Yesuslah orang mendapat Sabat atau “perhentian” sejati, yaitu kepastian keselamatan. And, no one should judge us in regard to the day we keep. We are free in Christ, not under law (Rom. 6:14).

 

Referensi:

G Riemer, Cermin Injil, YKBK/OMF, Jakarta, 1995

http://carm.org/questions/about-doctrine/why-do-we-worship-sunday-instead-saturday

http://www.christiananswers.net/q-acb/acb-t007.html

 

About these ads

17 Tanggapan to "Ibadah raya Kristiani: Sabat (Sabtu) atau Minggu ?"

Mantap, gitu aja koqk repot amat. Hari Saptu atau hari Minggu silahkan saja, yang penting pada hari apa saja dimana satu atau dua orang berkumpul memuliakan Aku maka Aku akan hadir dalam pertemuan tersebut, Amien.

Gue tadinya juga bingung nih, sabtu atau minggu, minggu atau sabtu setelah membaca blog-nya Ps Bobby Personal, mantap gue pilih hari Minggu aje, daaaag hari sabtu gue tinggalin luh.

>> “Perkataan Tuhan Yesus

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (Lukas 16:16)

Paulus atas inspirasi Roh Kudus

Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (Efesus 2:15)

Jelas sekali bahwa Hukum Taurat telah selesai. Gereja (baca: orang Kristen) tidak diwajibkan untuk melakukan segala ketentuan hukum taurat. Kita dapat beribadah pada hari apa saja. Tidak ada lagi hari khusus yang disucikan untuk beribadah, sebab semua hari adalah harinya Tuhan.”

>> Dengan demikian, apakah di benarkan jika kita mengingini istri orang lain, sebab “Sebab dengan matin-Nya sebagi manusia Ia telah membatalkan hukum.?

>> Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (Lukas 16:16)
>> bagaimana halnya dengan (Lukas 16:17) Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik daru hukum Taurat batal.
>> apakah Allah membatalkan HukumNya yang di tulis dengan tangannya sendiri?

>>Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (Efesus 2:15)
>> pada dasarnya Yesus datang untuk menebus dosa manusia.
kita ketahui, Pada jaman itu bangsa Yahudi menganggap bangsa2 lain adalah bangsa kafir dan tidak layak mendapatkan keselamatan. bangsa kafir tidak menuruti Hukum Taurat.

kita percaya, jika tidak menuruti Hukum Taurat, akan di hukum.
ketika Yesus mati, yang di batalkan adalah hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, dimana setiap orang yang melanggar Hukum Taurat ada hukumannya. Dia membatalkan hukuman bagi semua manusia yang melanggar Hukum Taurat, baik itu orang Yahudi maupun non-Yahudi. sekaligus mempersatukan semua umat manusia dalam penebusan dan memberikan jaminan keselamatan. jadi sudah tidak ada lagi bangsa pilihan. yang ada semua manusia adalah umat pilihan. selanjutnya tergantung kepada masing-masing kita, jika ikut hukum Tuhan kita akan di selamatkan pada saat Yesus datang pada kedatanganNya yang kedua kali, dan sebaliknya jika kita tidak mengikuti hukum Tuhan, kita akan kehilangan jaminan keselamatan.

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berserukepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Semoga penjelasaan ini bermanfaat bagi kita semua, dan kita lebih mengetahui kehendak Bapa yang di sorga, dan pada saat Yesus datang pada kali yang kedua, kita semua bisa bersama-sama di selamatkan dalam Kerajaan soraga.
inilah Doa dan harapan saya.
Amin..

sekedar Tambahan,, semoga bisah bermanfaat.

PERUBAHAN HARI SABAT

Dalam Alkitab terdapat perintah ilahi supaya memelihara hari ketujuh sebagai hari Sabat. Baca Keluaran 20:8-11. Karena hukum hari Sabat Allah begitu jelas, mengapa sangat banyak orang yang percaya kepada Alkitab memelihara hari yang sama sekali berbeda dari hari yang disebutkan Allah dalam hukum itu? Ini adalah benar-benar suatu situasi yang membingungkan. Banyak yang mengatakan hari Sabat sudah diubah oleh Kristus ketika la disalibkan dan hari Sabat baru telah ditetapkan pada peristiwa yang sama. Kita harus mengetahui bagaimana perubahan itu terjadi. Kita dapat mengetahui apa yang dikatakan Alkitab mengenai pertanyaan hari Sabat ini. Baca Mazmur 119:18.

1. Bergantung kepada fakta apakah tugas kita untuk menyembah Allah?

Di manapun Allah membuat suatu tuntutan supaya dihormati dan disembah diatas allah orang kafir biasanya Dia menyebutkan bukti dari kuasaNya yang kreatif. Baca Mazmur 96:5; Yesaya 40:25, 26; 45:18; Mazmur 100:3; 95:6. A asan yang diberikan oleh makhluk-makhluk sorga atas penyembahan mereka kepada Allah ialah, “Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu.” Wahyu 4:11.

Catatan: Hari Sabat sebagai peringatan penciptaan yang selalu kita hormati adalah karena Allah – Dia adalah pencipta, dan kita adalah ciptaanNya. Selama Allah sebagai pencipta kita terus menjadi sebab yang sah untuk penyembahan Ilahi. Hari Sabat akan tetap sebagai suatu peringatan kepada fakta itu.

2. Apakah Kristus mengubah hari Sabat?

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Matius 5:17, 18.

Catatan: Yesus memelihara hari yang dipelihara orang Yahudi yang setiap orang mengetahuinya adalah hari yang ketujuh. Ini adalah kebiasaanNya. Baca Lukas 4:16. Dia juga menyatakan murid-murid itu akan memeliharanya sesudah kenaikanNya (Matius 24:20).

3. Apakah rasul-rasul membuat perubahan dari hari ketujuh ke hari pertama?

Alkitab mencatat mereka selalu memelihara hari Sabat hari ketujuh yang sama yang dipelihara orang Yahudi. Baca Kisah 13:14, 42, 44; 17:1-3; 18:4.

4. Bagaimanakah terjadinya perubahan hari kebaktian dari Sabtu menjadi Minggu?

Banyak ahli sejarah gereja memperkirakan permulaan adanya perubahan hari-hari itu secara perlahan-lahan. Sesudah kehancuran kota Yerusalem pada tahun 70 M dan pecahnya pemberontakan orang Yahudi terhadap bangsa Romawi (saat itu orang Yahudi dalam penjajahan bangsa Romawi) yang dipimpin oleh Bar-Kokkba pada tahun 135 M, orang-orang Yahudi itupun terpencar di seluruh kekaisaran itu. Nama dan agamanya ditentang habis-habisan. Di beberapa tempat, orang Yahudi diperlakukan sebagai “orang yang tidak disenangi”. Setelah pemberontakan Yahudi yang dipimpin oleh Bar-Kokkba dihancurkan oleh Kaisar Hadrian, Hadrian melarang praktek agama Yahudi di seluruh kerajaan, khususnya melarang pemeliharaan Sabat. (“Divine Rest for Human Restlessness”, Dr. Samuele Bacchiocchi, hal 238)

Salah satu ciri yang paling nyata dari orang Yahudi adalah pemeliharaan hari Sabat. Karena pemeliharaan hari Sabat adalah juga bagian dari gereja Kristen, maka beberapa penguasa Romawi menganggap Kekristenan sebagai satu sekte Yahudi. Karena dihubungkan dengan sekte Yahudi inilah maka banyak orang Kristen dianiaya di zaman permulaan sejarah gereja ini. Dan penganiayaan ini telah menuntun beberapa bishop gereja untuk mencari jalan keluar agar tidak menghubungkan Kekristenan mula-mula itu dengan agama Yahudi. Maka secara berangsur hari ibadah berpindah ke hari Minggu, demi membedakan diri dengan bangsa Yahudi dan menghindari penganiayaan Roma.

5. Lalu mengapa hari Minggu yang dipilih sebagai pengganti hari Sabtu?

Orang-orang kafir dalam Kerajaan Roma adalah penyembah matahari yang meng-keramat-kan hari Minggu (sun’s day). Para kaisar Roma pun menyatakan diri mereka sebagai dewa matahari, memeteraikan lambang matahari di atas mata uang mereka dan membangun serta menuntut penyembahan dari rakyat. Beberapa ahli teologia percaya bahwa gereja melihat suatu keuntungan dalam berkompromi dengan agama kafir. Dengan mengambil beberapa kebiasaan kafir, maka orang-orang kafir akan bertobat menjadi orang Kristen lebih cepat dan lebih merasa senang. Juga akan menguntungkan kerajaan Roma karena menyatukan rakyatnya menjadi satu agama yang besar.

Kebangkitan Kristus pada hari pertama dalam minggu telah menjadi jembatan antara kekafiran dan keKristenan. Dengan jalan berkompromi, maka para pemimpin gereja yang mula-mula secara bertahap sudah meninggikan hari Minggu sebagai pengganti hari Sabat yang benar. Namun demikian permeliharaan hari Sabat masih tetap dipraktekkan. Di berbagai tempat pembela-pembela kebenaran Allah yang setia tidak rela menyerahkan pernyataan Allah yang sudah ada dalam hati nurani mereka. Bagi mereka, hari Sabat itu bukanlah sekedar hari saja. Hal itu adalah masalah ketaatan kepada Allah.

6. Mulai dari kompromi, selanjutnya ke arah mana?

Pemeliharaan/penyucian hari Minggu semakin diteguhkan di abad-abad selanjutnya :

~ Undang-undang sipil yang pertama mengenai hari Minggu, diberlakukan oleh Kaisar Constantine di Roma tanggal 7 Maret tahun 321 M, yang berbunyi : “Pada Hari Matahari yang dihormati hendaknya para pembesar dan rakyat yang bertempat tinggal di kota berhenti, dan hendaknya semua bengkel ditutup. Namun di pedesaan, orang-orang yang bertani boleh dengan bebas dan sah meneruskan pekerjaan mereka.” (History of the Christisn Church, edisi tahun 1902, jilid 3, hal 380).

~ Langkah berikutnya dalam menjadikan pemeliharaan hari Minggu lengkap sebagai bagian agama Kristen, diambil oleh gereja di Roma dalam Konsili Laodekia. Konsili itu membuat undang-undang agama pertama mengenai memelihara hari Minggu. “Pada tahun 325, Sylvester, Bishop Roma … secara resmi mengubah sebutan hari pertama, dengan menyebutnya hari Tuhan.” (Historia Ecleslastica, hal 739).

~ Pada Konsili Laodekia lain, tahun 364, dibuat undang-undang berikut :

“Orang-orang Kristen bukanlah penganut agama Yahudi dan tidak boleh bermalas-malas pada hari Sabtu …, tetapi harus bekerja pada hari itu; tetapi hari Tuhan khususnya harus mereka hormati, dan sebagai orang-orang Kristen, jika sekiranya mungkin, tidak boleh bekerja pada hari itu. Namun, jika mereka ketahuan sebagai penganut agama Yahudi ( memelihara Sabat ) , mereka akan dikeluarkan … dari Kristus.” (A History of Councils of the Church, jilid 2, hal 316).

~ Meskipun demikian, orang-orang Kristen masih tetap memelihara hari Sabat (Sabtu) pada abad keenam, sehingga Paus Gregory mengumkan, “mereka yang mempertahankan bahwa pekerjaan tidak boleh dilakukan pada hari yang ketujuh adalah sebagi nabi-nabi antikristus.” (The Law of Sunday, dikutip dalam Carlyle B. Haynes, From Sabbath to Sunday, hal 43).

~ Yang terakhir, bulan Juli 1998, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Pastoral Dies Domini (Hari Minggu), yang menyerukan agar umat Kristen beribadah di hari Minggu sebagai penggenapan Sabat, dan meminta perundang-undangan sipil untuk memberi sarana kepada peribadahan Minggu ini.

7. Ketika berabad-abad kemudian lahir Reformasi Protestan, bagaimana dengan hari Sabat?

Penting diingat bahwa Alkitab tidak mudah diperoleh orang pada zaman itu seperti sekarang ini. Ajaran-ajaran disampaikan dengan perkataan yang keluar dari mulut, sehingga para anggota harus dengan susah payah membedakan antara ajaran Kitab Suci dan tradisi. Hanya sedikit yang betul-betul mengetahui kebenaran sebagaimana diajarkan Kristus dan murid-murid-Nya.

Martin Luther berkata, “Mereka (para paus) menyatakan perubahan hari Sabat menjadi hari Tuhan, bertentangan, kelihatannya, dengan Sepuluh Hukum; dan mereka tidak memiliki contoh lain kecuali perubahan hari Sabat itu. Mereka tentunya memerlukan kekuasaan gereja yang sangat besar, karena mencabut salah satu perintah Sepuluh Hukum.” (The Creeds of Christendom, Philip Schaff, jilid 3, hal 64).

Pandangan gereja Kristen ttg Sabat Pandangan beberapa denominasi gereja mengenai hari Sabat, meski mereka tidak berbakti di hari Sabat.

8. Ketika dikatakan bahwa Gereja Katolik merubah hari Sabat dan memasukkan tradisi, apa reaksi mereka?

Gereja Katolik membenarkan dan menyatakan bahwa memang mereka mempunyai kuasa / wewenang untuk hal itu.

~ “Akhirnya, pada akhir pembukaan tanggal 18 Januari 1562, semua keragu-raguan telah dilenyapkan : Archbishop dari Regio mengadakan suatu pembicaraan di mana ia secara terang-terangan memaklumkan bahwa tradisi berada di atas Kitab Suci. Dengan demikian kekuasaan gereja tidak boleh dibatasi oleh kekuasaan Kitab Suci, sebab Gereja telah mengubah … hari Sabat menjadi hari Minggu, bukan oleh perintah Kristus, melainkan oleh kekuasaannya sendiri.” (Canon and Tradition, H.J. Holtzman, hal 263).

Gereja Roma Katolik memahami bahwa perubahan hari Sabat itu merupakan suatu tanda kekuasaan gereja. Di bawah ini terdapat pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para penguasa gereja :

~ “Anda boleh membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dan Anda tidak akan menemukan satu pernyataanpun yang memgizinkan penyucian hari Minggu. Firman Allah menekankan pemeliharaan hari Sabtu sebagai hari perbaktian agama, suatu hari yang kami (umat Katolik) tidak pernah kududskan.” (The Faith of Our Father, James Cardinal Gibbons, hal 89, James Murphy Company, New York, 1917).

~ “Gereja Katolik untuk selama lebih dari seribu tahun sebelum Protestan lahir, dengan kekuatan tugas ilahinya, telah mengubah hari itu dari hari Sabtu menjadi hari Minggu. Dunia Protestan pada waktu itu baru lahir merasa bahwa hari Sabat Kristiani masih terlalu keras untuk diterobos, karena itu mereka terima saja dulu yang artinya menerima kuasa gereja itu (Katolik-red) untuk mengubah hari itu selama tiga ratus tahun lebih. Hari Sabat Kristiani pada dewasa ini adalah turunan gereja Katolik yang diakui sebagai pasangan Roh Kudus tanpa perlawanan dari pihak dunia Protestan.” (The Catholic Mirror, 23 September 1893, dikutip dari seri terakhir dari empat seri berjudul “Hari Sabat Kristiani”. The Catholic Mirror adalah organ resmi dari Kardinal Gibbons, Baltimore, Maryland, USA).

~ “Adalah gereja Katolik, yang dengan kuasa Yesus Kristus, yang mengganti hari perhentian itu menjadi hari Minggu sebagai peringatan kebangkitan Tuhan kita. Jadi, pemeliharaan hari Minggu oleh gereja Protestan adalah sebagai penghormatan mereka pada kuasa gereja itu” (Plain Talk about the Protestanism of Today, Monsignor Segur, Thomas B. Noonan & Co., Boston, 1868).

~ Di bawah ini dikutip suatu tanya-jawab :

Tanya : “Apakah engkau mempunyai cara lain untuk membuktikan bahwa gereja mempunyai kuasa untuk menetapkan hari raya atau peraturan?”

Jawab : “Sekiranya ia tidak mempunyai kuasa demikian, ia tidak dapat melakukan itu dimana semua pemimpin agama modern setuju kepadanya – ia tidak dapat menggantikan pemeliharaan hari Sabtu hari ketujuh, suatu perubahan yang tidak ada wewenang dari Alkitab”

(A Doctrinal Cathechism, Stephen Keenan, hal 174, Edward Dunigan & Brothers, New York, 1851)

Tanya : ” Yang manakah hari Sabat?”

Jawab : ” Hari Sabtu adalah hari Sabat.”

Tanya : “Mengapa kita memelihara hari Minggu dan bukan hari Sabtu?”

Jawab : “Kita memelihara hari Minggu gantinya hari Sabtu karena gereja Katolik pada konsili Laodekia (336 M) telah memindahkan kekudusan hari Sabtu ke hari Minggu.”

(The Convet’s Cathechism of Catolic Doctrine, Peter Geiermann, hal 50, London, 1934. Disahkan oleh Vatikan tanggal 25 Januari 1910).

~ “Sekarang kita sudah mengetahui bahwa hukum hari Minggu dan pemeliharaannya itu bukanlah dekrit yang berasal dari Allah melainkan adalah hukum yang kita buat sendiri. Lalu faktor yang sama (hukum Kristen dan Tradisi), yang ditempa, digubah dan ditafsirkan supaya sesuai dengan kebutuhan pada abad keenam, bisa kalau perlu ditempa lagi atau ditafsirkan kembali untuk memelihara kebutuhan sekarang ini. (Artikel, “Hari Minggu bukanlah Hari Sabat”, karangan Lawrence L. McReavy, hal 58 dalam majalah The Australian Catholic Digest, September 1941. Diterbitkan oleh the Advocate Press, Melboune, Australia).

- “Karena hari Sabtu, bukan hari Minggu, ditetapkan dalam Alkitab, tidakkah aneh rasanya melihat bahwa non-Katolik yang mengaku mengambil agama mereka langsung dari Alkitab dan bukan dari gereja Katolik juga memelihara hari Minggu dan bukan hari Sabtu ? Ya, tentu tidak konsisten; tetapi perubahan ini dibuat kira-kira lima belas abad sebelum aliran Protestan lahir. Pada waktu lahirnya Protestan kebiasaan itu sudah menyeluruh di bumi ini. Mereka melanjutkan kebiasaan itu sekalipun hanya didasarkan atas kekuasaan gereja Katolik dan bukan atas ayat Alkitab. Pemeliharaan hari Minggu itu menjadi suatu kenangan dari gereja induk dari mana berasal sekte-sekte non-Katolik ibarat seorang anak lari meninggalkan rumah tetapi masih mengantongi potret ibunya atau jepitan rambut ibunya. (The Faith of Millions, hal 543, 544, John A. O’Brein, kata pengantar oleh Kardinal Griffing. W.H. Allen, London, th 1958).

- “Tentu, Gereja Katolik mengaku bahwa perubahan itu adalah tindakannya sendiri. Tidak mungkin yang lain melakukan seperti itu, karena pada waktu itu tidka ada yang lain berambisi untuk melakukan hal yang sama dalam bidang spiritual atau masalah keagamaan tanpa persetujuan gereja itu. Dan perbuatan tersebut menjadi tanda kekuasaan kegerejaan dalam masalah-maslaah agama” H.F. Thomas – Perwakilan Kardinal, 11 November 1895.

- “Alkitab menyuruh kita untuk menguduskan hari Sabtu. Perubahan itu terjadi karena tradisi Kristiani sejak zaman rasul-rasul. Tetapi tidak ada seorang pun dari rasul-rasul itu yang berkata sepatah kata pun tentang perubahan itu pada waktu mereka menulis buku Perjanjian Baru itu.” (Commentary of the Cathechism, hal 88, W.Frean, “Majellan” office, Redemption Fathers, Ballarat, Vic, Dicetak di Australia, 1959. Kata Pengantar dari yang mulia, Kardinal Gilroy).

9. Bukankah yang penting adalah kepada siapa kita menyembah, bukan masalah hari apa?

Masalah yang utama ialah bukan sekedar soal hari saja. Tetapi masalahnya ialah siapa yang membuat perintah. Bilamana kita berhenti pada hari ketujuh dalam minggu dan beribadah dengan hikmat kepada Allah, siapakah yang kita turuti? Jawabnya mudah saja: kita sedang menuruti Allah.
Sebaliknya jika kitabekerja pada hari ketujuh atau menggunakannya untuk kepentingan diri atau urusan dagang tapi kemudian kita berhenti serta berbakti pada hari pertama, siapakah yang sebenarnya sedang kita turuti? Tentu bukan Allah. Tuan manakah yang kita turuti?

Alkitab berkata: “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? (Roma 6:16). Mereka yang berani mengikuti hukum Allah sepanjang zaman telah mendapati bahwa dari waktu ke waktu perintah-perintah manusia dan perintah-perintah Allah sering bertentangan. Rasul Petrus mengalami hal yang sama namun ia berketetapan “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” Kisah 5:29.

10. Apakah Allah mengetahui bahwa suatu kekuasaan akan timbul yang akan menuntut hak untuk mengubah hukumNya? Jika demikian bagaimana Dia memberitahukannya?

“la akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.” Daniel 7:25.

(Untuk bahasan lebih lengkap mengenai kekuasaan sistem dalam Daniel 7 ini, silakan mempelajarinya dalam topik “Menerobos Waktu” Bab 8)

Kesimpulan

Peralihan dari pemeliharaan hari Sabat ke pemeliharaan hari Minggu adalah proses yang berangsur-anggur yang dimulai pada suatu waktu sebelum tahun 150 Tarikh Masehi dan diteruskan hampir tiga abad. Ada suatu usaha oleh beberapa Kristen untuk menjelaskan bahwa mereka bukanlah orang Yahudi; oleh karena itu, mereka meninggalkan hari Sabat dan memihak kepada hari Minggu. Eusebius, salah seorang dari para ahli sejarah gereja yang terkemuka pada zaman itu, menulis dalam bukunya Commentary on Balm 92, “Segala sesuatu yang wajib dilakukan pada hari Sabat, ini telah kami pindahkan ke hari Tuhan, karena semua itu lebih layak pada hari tersebut, karena hari itu mendapat prioritas dan tingkatan pertama, dan lebih terhormat dari pada hari Sabat Yahudi.” Keputusan resmi yang pertama dari gereja memihak kepada hari Minggu diambil di Majelis Laodekia pada abad. keempat. Tetapi, hukum yang berhubungan dengan pemeliharaan hari Minggu memerincikan pemeliharaan (menjadi seperti orang Yahudi) sebagai alasan untuk tidak memelihara hari Sabat.

Mengapa kesucian hari Minggu dikembangkan? Pertama, itu adalah suatu usaha supaya jangan seperti orang Yahudi dan dengan demikian untuk menghindarkan penganiayaan. Kedua, setelah Roma semakin berkuasa dia menempatkan pengaruhnya. di pihak hari Minggu, bukan di pihak hari Sabat. Ketiga, sebagai akibat pengaruh Roma hari Minggu dibuat menjadi masalah hukum gereja sebagaimana dengan tradisi-tradisi lain yang tidak sesuai dengan kitab suci.

Apa yang harus saya lakukan mengenai pemeliharaan hari Sabat? Biarkanlah Firman Allah memberikan jawaban. Baca Kisah 5:29; 1 Raja-raja 18:21; Yesaya 56:1, 2.

Syalom HambaNya…Saya menjadi Bingung..kalau hukum Taurat ( sabath) Tidak berlaku lagi, Bagaimana dengan hukum yang lainnya …berarti,saya boleh membunuh/mencuri dll.mohon pencerahannya Brur..

@ Nefo Tombeng

Hukum Taurat disarikan Tuhan dlm 2 perintah yg kita kenal sbg “Hukum Kasih” atau “Hukum yang terutama”. Yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati/jiwa/akal budi dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:37-40).

Apabila Anda mengasihi sesama seperti diri sendiri, maukah Anda mencuri uangnya? menyakitinya? membunuhnya? mengambil istrinya? Saya yakin Anda tidak akan mau melakukannya.

Semoga memberkati

Jika kita benar2 mengasihiNya, maka kita akan menjalankan semua perintahNya bukan hanya sebagian. Tolong tunjukkan jika ada ayat dalam Alkitab yang menuliskan perintah Tuhan bahwa manusia boleh menguduskan semua hari, dan boleh memindahkan hari peribadatan (Sabat) ke hari apa saja sesuai dengan keinginan manusia itu sendiri! Bukankah Tuhan Yesus juga selalu mengatakan “ada tertulis”, jadi kita pun harus jelas “ada tertulis” atau “semau gue”. Gbu

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (Lukas 16:16)

kesan saya atas ayat tersebut adalah, bahwa hingga sampai zaman Yohanes Taurat itu masih berlaku. karena tidak dikatakan ‘hanya sampai kepada zaman Yohanes dan setelahnya tidak berlaku lagi’.

sudah jelas dikatakan begini: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Matius 5:18

Hari Sabat (Sabtu) bukan diciptakan Tuhan untuk orang Yahudi saja tetapi untuk manusia. Tuhan Pencipta juga memberi contoh dengan berhenti dari segala macam pekerjaan pada Sabat hari ketujuh di taman Eden, merayakannya dengan Adam dan Hawa yang notabene bukan orang Yahudi. Itu dikuatkannya dalam Markus 2:27-28, bahwa hari Sabat diciptakan untuk manusia & Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Jadi sebagai manusia, kita harus beribadah dan mengakui bahwa Sabat adalah hari kudus yang sah dari Tuhan Yesus, kecuali kalau kita ini tidak lagi merasa sebagai manusia. Seandainya (dalam segala hal) ada perubahan dari Tuhan sendiri, tentu seharusnya dia mengatakannya kepada manusia dan harus tertulis dalam Alkitab sebagai friman-Nya yang sah, bukan tertulis dalam adat dan tradisi orang2 zaman dahulu saja. Setelah Yesus terangkat ke surga pun, para rasul tetap beribadah pada Sabat kudus Tuhan yaitu hari Sabtu.

Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (Lukas 16:16)
Jangan dilupakan baca juga ayat 17nya : “Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titk dari hukum Taurat batal.”

tolong perhatikan juga kalimat, “…dan setiap orang menggagahinya. berebut memasukinya.” menggagahinya = memperkosanya, (merusak dan mengabaikan hukum).

Sudah waktunya kita umat pilihanNYA kembali beribadah dan menguduskan hari Sabat. Perintah yg manakah ps Bobby ingin lakukan, perintah Tuhan atau perintah yg dibuat manusia? Tuhan YESUS datang bukan utk meniadakan hukum Taurat.

@yanm, yeniwati
Kalau Anda penganut Yudaisme silahkan beribadah pd hr Sabat (Sabtu), krn memang bagian dr Taurat.

Namun bagi orang Kristen, tdk ada keharusan utk beribadah hanya di hari Sabat (Sabtu). Sebab Tuhan Yesus sendiri berkata,”Hukum Taurat dan kitab para nabi BERLAKU sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. (Lukas 16:16)

Perhatikan kalimat “berlaku sampai kepada zaman Yohanes.”. Hal itu menandakan masa berlakunya hanya sampai zaman Yohanes. Taurat tdk dihapus/ditiadakan oleh Yesus. Ia justru menggenapi taurat. Dan sebagai Tuhan, Dia sudah berfirman bahwa masa BERLAKUNYA huk Taurat sampai pada zaman Yohanes. Artinya setelah itu, orang Kristen dituntun oleh Hukum Kristus (kedua hukum utama).

Seorang Kristen tentu akan mematuhi firman Tuhan Yesus.

Blessings,

to Erick.
… supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati (roma 12)… dan sikap ketaatan itu bukan cuma kita lakukan setiap sabtu bukan,
jadi menurut saya bukan masalah hari apa kita beribadah, tapi bagaimana sikap hati dan perbuatan kita. apa dalam hidup kita sudah memuliakan TUHAN?? tugas aktivitas kita setiap hari (pekerjaan, sekolah,apapun)harusnya menjadi ibadah buat TUHAN. seperti halnya TUHAN YESUS menyembuhkan orang sakit pada hari sabat..

Terima kasih atas penjelasan tentang hari sabbath hari untuk penyembahan (beribadah )hari sabtu atau minggu.
Saya beribadah selalu minggu.
Saya sangat paham sekarang, dalam kis 20:7,mengatakan” hari pertama dalam minggu itu, paulus dan para saudara2 yg lain berkumpul dan memecahkan roti, di adakan perjamuan kudus”.
Roma 14:23″Barang siapa yg bimbang kalau ia makan , dia telah di hukum,karena tidak mekakukan berdasarkan iman, segala sesuatu yg tidak berdasarkan iman adalah dosa”.
Banyak org yg saling mengahimi dalam perbuatan dan agama, ini ada ayat yg bisa mnguatkan iman kita, Roma 14:13″janganlah kita saking menghakimi lagi,krn itu kan membuat saudara2 kita jatuh atau tersandung”
Tuhan memberkati.

Saudara Ps Bobby, yang terhormat. Memang ada beberapa hal dalam Alkitab yang tidak begitu jelas, dan untuk itu kita jangan memaksakan diri, baca Ulangan 29 : 29 dan Ayub 11 : 7-11. Akan tetapi Kebenaran tentang Sabat, adalah Kebenaran yang sangat terang benderang, dimana Tuhan tidak mau kita bingung, salah jalan atau tersesat. Kebenaran Sabat adalah kebenaran yang terlalu jelas untuk di salah mengerti. Dengan hanya berpatokan pada Lukas 16 : 16 saja, kemudian kita sudah berkesimpulan bahwa orang Kristen sudah terlepas dari kewajibannya untuk menuruti hukum Sabat, adalah suatu kesimpulan yang sangat terburu-buru. Sebenarnya kalau kita mau mencari ayat-ayat alkitab yang bisa kita jadikan dalih untuk tidak menerima kebenaran Sabat, bukan hanya ayat itu saja. Efesus 2 : 15 , Kol 2 : 16, 17, Gal 4 : 10 dan beberapa ayat yang lain. Sekarang apakah benar bahwa Rasul Paulus yang Ps Bobby katakan diinspirasi oleh Roh Kudus bermaksud untuk mencabut salah satu hukum Allah yang Agung, Suci, Kudus, benar dan Baik ? Dari manakah wewenang rasul Paulus untuk malakukan itu ? Jika ini benar maka dunia ini akan kacau, karena Hukum Taurat yang berkata ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat, juga berkata Jangan mencuri jangan berzinah, dan jangan membunuh. Tentunya kita tidak akan secara konyol mengatakan bahwa hanya hukum hari Sabat yang sudah tidak berlaku dan 9 hukum yng lain masih berlaku. Jika kita sekonyol itu maka kita tidak jujur terhadap 2 ayat berikut ini ; Yak 2:10 “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”. Mat 5:18 “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”. Jika kita benar-benar mau jujur, maka kita harus mengakui bukti-bukti berikut ; John Wesley (Methodist) : “Surat hutang dan ketentuan-ketentuan hukumnya di hapuskan Tuhan, tidak berlaku lagi dan dipakukan di kayu salib. Tetapi 10 hukum moral yang berisi 10 Firman dan ditekankan oleh para nabi, tidak di hapuskan-Nya. Hukum moral berdiri atas fondasi yang sama sekali berbeda dari hukum upacara. Setiap bagian dari hukum ini tetap mengikat semua manusia pada segala jaman.” Sermon on Several Occasions 2 Vol hal 221. John Calvin (Presbitarian) : “Kita tidak boleh membayangkan bahwa kedatangan Kristus telah membebaskan kita dari kekuasaan hukum. Karena hukum itulah peraturan yang abadi dari pengabdian dan hidup yang suci dan harus karena itulah keadilan Allah yang tidak pernah dapat berubah.” Commenting of Harmony of evangelist terjemahan William Pringle. 1949 jilid 1 hal 277 Lutheran : T: Berapa banyakkah hukum yang terdapat dalam perjanjian lama ? J: Tiga. Pertama Hukum Upacara yang mengatur ibadah Israel, pengorbanan dan hari-hari raya. Kedua Hukum Sipil yang mengatur urusan politik dalam negeri Israel. Dan ketiga adalah Hukum Moral yang berhubungan dengan tanggung jawab antara Allah dan manusia yaitu 10 Hukum Allah secara ringkas. T: Apakah kita masih wajib memelihara hukum Upacara ? J: Tidak. Hukum Upacara itu hanyalah bayangan Kristus dan sudah digenapi dengan kematiannya, dan jarak antara Yahudi dan non Yahudi tidak ada lagi. T: Apakah kita masih wajib memelihara Hukum moral ? J: Ya. Karena itu adalah sifat allah yang tidak bisa diubah. Kristus meminta untuk menuruti Hukum-Nya. Katekismus Lutheran. Jadi jelas para reformator mengerti bahwa dalam perjanjian lama terdapat 3 jenis Hukum Taurat. Hukum Upacara sudah tidak berlaku karena sudah di pakukan di kayu salib. Hukum Sipil Israel hanya berlaku khusus secara bangsa atau negara bagi orang Israel dan 10 Hukum moral yang disebut juga 10 Hukum Allah, masih tetap berlaku/mengikat sampai selama-lamanya. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai Hukum Upacara Korban dan perbedaannya dengan Hukum moral. Berikut ini adalah perbedaan dari kedua Hukum Taurat itu. HUKUM MORAL HUKUM UPACARA 1 Sempurna. Maz 19:8 Tidak Sempurna. Ibr 7:18, 19, 10 :1-3 2 Rohani Rom 7:14 Kiasan/Insani Ibr 9: 9,10 3 Diucapkan langsun oleh Allah di gunung Sinai dengan Gemuruh dan api. Ulg 4:12,13, 5:22, Kel 20:1 Diucapkan oleh Allah melalui Musa. Im 1:1-3 4 Ditulis oleh jari Allah sendiri di 2 Loh Batu. Kel 31:18 Ditulis oleh Musa disebuah kitab atau gulungan Ul 31:24-26 5 Disimpan di dalam Tabut. Kel 40:20. Ibr 9:4 Disimpan di samping Tabut. Ulg 31:26 6 Tidak Berat. 1 Yoh 5:3,Mat 11:30 Mendakwa/Mengancam. Kol 2:14 7 Kekal. Mat 5:17,18, Maz 119:151,152, Ibr 13:8, Yak 1:17, Mal 3;6 Berakhir saat Yesus mati, Efe 2:15, Kol 2:14,15, Dan 9:27, Gal 3 :23-25, Luk 16:16, Ibr 8:13, Ibr 9:10, Ibr 7:18,19 Alasan kedua adalah sebenarnya dalam Alkitab seperti juga Hukum Taurat, hari Sabat juga ada 2 macam/jenis. Hari Sabat dalam Hukum Moral, yaitu hari Sabat mingguan yang bersifat kekal dan hari sabat hari raya orang Israel yang jatuh pada tanggal-tanggal dan bulan-bulan tertentu pada kalender Yahudi. Hari sabat yang kedua inilah yang memang sudah di hapuskan oleh Tuhan Allah di kayu salib dan dicatat dalam Kolose 2:14-17 itu . ada banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang hukum taurat bayangan ini. Berikut adalah 2 contohnya ; Imt 23:37,38 “Itulah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus untuk mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, yaitu korban bakaran dan korban sajian, korban sembelihan dan korban-korban curahan, setiap hari sebanyak yang ditetapkan untuk hari itu, belum termasuk hari-hari Sabat TUHAN” Perhatikan ungkapan “belum termasuk hari-hari Sabat Tuhan”. Hal ini mengindikasikan bahwa memang hari sabat ada dua jenis yaitu hari sabat upacara Yahudi yang jatuh pada hari-hari atau tanggal atau bulan- bulan tertentu sesuai kalender Yahudi, dan hari Sabat mingguan(setiap hari ketujuh). Kadang kadang-kadang kedua jenis hari sabat ini bertemu pada suau tanggal. Jika hal ini terjadi maka hari itu disebut dengan hari yang besar(High Day/Great Day). Perhatikan ayat berikut. Yoh 19:31 “Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan”. Walaupun keduanya disebut hari sabat tetapi hari sabat yang satu sudah tidak berlaku sedangkan hari Sabat yang satunya lagi adalah masih berlaku sampai sekarang bahkan sampai selama-lamanya. ketika kita di selamatkan nanti dan kita memasuki Yerusalem Baru yang di catat dalam Kitab Wahyu 21 dan 22 maka kita masih akan memelihara hari Sabat yang tentunya hari Sabat mingguan ini. Perhatikan ayat berikut : Yesaya 66:22, 23 Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap. Bulan berganti bulan, dan Sabat berganti Sabat, maka seluruh umat manusia akan datang untuk sujud menyembah di hadapan-Ku, firman TUHAN. Adakah ada ayat-ayat di alkitab yang mendukung pemeliharaan Hari Minggu(Sunday) ? Jawab : Tidak ada. Dengan menggunakan konkordansi, kita bisa mengetahui bahwa dari 31.173 ayat Alkitab, hanya 8 ayat yang berbicara tentang hari pertama atau hari Minggu(Sunday). Ayat-ayat itu adalah : Mat 28:1 “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu”. Mrk 16:2 “Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur”. Mrk 16:9 “Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan”. Luk 24:1tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka”. Yoh 20:1 “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur”. Yoh 20:19 “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Tidak satupun dari keenam ayat ini, yang meganjurkan untuk berbakti pada hari itu. Berikut 2 ayat yang sisa. I Kor 16:2 Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. Perhatikan bahwa menurut ayat ini bahwa permintaan Paulus kepada orang-orang Kristen di Korintus untuk memisahkan uang untuk umat-umat Kristen di Yerusalem pada setiap hari pertama/hari Minggu, dilakukan di rumah. Jelas bahwa kegiatan pada hari itu, bukanlah kegiatan perbaktian. Kis 20:7 “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam”. Ayat ini mencatat satu-satunya kumpulan ibadah pada hari pertama dalam pekan pada perjanjian baru. Ayat ini tidak menyokong Pengudusan Hari Minggu minimal dengan 2 alasan berikut. 1. Menurut ayat ini ibadah diadakan karena Paulus bermaksud berangkat pada keesokan harinya, bukan ibadah mingguan rutin. Bukan karena untuk Pengudusan hari pertama. 2. Perlu diperhatikan juga bahwa kebaktian itu diadakan pada bagian malam pada hari pertama/hari Minggu. Dalam Alkitab, perhitungan satu hari dimulai dari matahari terbenam sampai matahari terbenam(Imt 23:32 dan Kej pasal 1). Alkitab bahasa Inggris Today English Version lebih jelas mengatakannya. Acts 20:7 “On Saturday evening(hari Sabtu malam) we gathered together for the fellowship meal. Paul spoke to the people and kept on speaking until midnight, since he was going to leave the next day”. Ibadah itu di lakukan pada hari Sabtu malam. Orang-orang Kristen mula-mula sering mengadakan upacara Perjamuan Suci bersama-sama(Kis 2:42). Jadi sebelum Paulus berangkat meninggalkan mereka, mereka mengadakan upacara Perjamuan Suci sekali lagi. Kalau ibadah itu untuk mendukung kesucian hari Minggu, mengapa tidak diadakan pada bagian siang pada hari pertama/hari Minggu ? Jawabannya adalah ibadah itu bersifat kondisional/situasional atau tidak rutin. Buktinya Paulus pada bagian siang di hari pertama itu, mengadakan perjalanan ke Asos. Artinya dia beranggapan bahwa hari itu bukanlah hari yang kudus. Paulus tau benar larangan untuk mengadakan perjalanan pada hari Sabat(baca Kel 16:19). Mengapa kebanyakan(mayoritas) orang Kristen di dunia ini tidak menjalankan Hukum keempat ? Jawab : Jawabannya adalah karena setan menggunakan imam-imam atau pendeta-pendeta/pastor-pastor untuk merubah hukum hari sabat menjadi hari minggu. Dua ayat ini sudah meramalkan atau menubuatkan terlebih dahulu. Yeh 22:26 Imam-imamnya(Pendeta-pendeta) memperkosa hukum Taurat-Ku dan menajiskan hal-hal yang kudus bagi-Ku, mereka tidak membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, tidak mengajarkan perbedaan yang najis dengan yang tahir, mereka menutup mata terhadap hari-hari Sabat-Ku. Demikianlah Aku dinajiskan di tengah-tengah mereka. Banyak pendeta-pendeta, sarjana-sarjana Alkitab termasuk ahli-ahli teologisengaja atau dengan sengaja mau menutupi kebenaran Sabat. sadarkah mereka bahwa dengan berbuat demikian maka mereka sudah menggenapi nubuatan Alkitab itu(Yeh 22:26 ) Dan 7:25 Ia(tanduk kecil yang adalah **edited**) akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu(hari Sabat) dan hukum(10 Hukum Allah), dan mereka akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah masa. mengenai Lukas 16 : 16 tidak perlu dijelaskan lagi karena sudah dijelaskan oleh saudara Yan dengan singkat, padat, jelas dan tepat.

Dalam komentar saya sebelumnya saya mempertanyakan wewenang rasul Paulus dalam tulisannya. Saya tidaklah bermaksud demikian, saya justru yakin akan tulisan rasul Paulus sebagai inspirasi dari Allah. latar belakang dari Paulus sebenarnya adalah orang Ibrani/Israel yang hebat dalam hal teologi keYahudian. dia adalah orang yang sangat terdidik. Perhatikan ayat berikut :
Filipi 3:4-6 “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”.
Jadi ketika Tuhan menggunakan Dia, dia menyatakan kebenaran sesuai latar belakangnya. Di satu sisi dia kelihatan menjunjung tinggi hukum, tapi di satu sisi dia kelihatan menentang hukum. Sisi yang menentang hukum ini yang sering digunakan orang ontuk menentang hari Sabat. Oleh karena itu tulisan rasul Paulus jika tidak dengan bijaksana, kesabaran dan doa dipelajari akan sangat membingungkan. Rasul Petrus juga ketika membaca tulisan rasul Paulus sangat bingung dan sakit kepala. perhatikan ayat berikut ;
2 Petrus 3:15-17 “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh”.
Untuk itu mari kita lihat fakta-fakta berikut ini :
1. Apakah Manusia dibenarkan oleh Penurutan Hukum atau oleh Iman ?
Jawab :
Rom 3:20 “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”.
Gal 2:16 “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat””.

2. Apakah manusia diselamatkan oleh Kasih Karunia atau oleh Hasil Usahanya Sendiri dalam penurutan Hukum?
Jawab:
Efe 2:8,9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

3. Benarkah Hukum sudah dibatalkan oleh karena manusia dibenarkan karena Iman ?
Jawab :
Tidak benar. Ayat-ayat ini mengatakannya.
Rom 3:31 “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya”.
Yak 2:14-26 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu ? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong ? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah ? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain ? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.
Yoh 3:36 “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya”.
Rom 2:13 “Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan diBENARkan”
Ulg 6:25 “Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita.”
Fil 2:12 “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir”

4. Benarkah oleh karena Kasih Karunia maka penurutan kepada Hukum
tidak di perlukan lagi ?
Jawab :
Tidak benar. Ayat-ayat ini mengatakannya.
Rom 6:14,15 “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak”.
Gal 5:13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa(melanggar hukum), melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”.

Benarkah bahwa jika kita rajin beribadah dan rajin berdoa, menurut Hukum atau tidak, tidak menjadi masalah ?
Jawab :
Tidak benar. Ayat-ayat ini mengatakannya.
Mrk 7:7-9 “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri””.
Ams 28:9 “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian””.

Jika saudara Bob menyamakan pengikut Sabat sama dengan ajaran Yudaisme, maka pendapat ini kurang Alkitabiah. Mengapa ? Karena walaupun di zaman modern ini hari Sabat dan orang Yahudi dikatakan identik, akan tetapi sesungguhnya Sabat dan orang Yahudi memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dilihat dari waktu kelahirannya. Hari Sabat, hari yang ketujuh lahir bersamaan dengan diciptakannya buni ini. Ayat berikut menyatakannya :
Kejadian 2:1-3 “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memBERKATi hari ketujuh itu dan meNGUDUSKANnya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”.
Itulah sebabnya ketika di gunung sinai Tuhan mengawali perintah Sabat dengan kata “INGAT”. Kata “ingat” berarti sesuatu telah perna ada atau telah lama ada dan sudah dilupakan atau mulai dilupakan. kata ingat juga mengartikan bahwa sesuatu itu sangat penting dan jangai sampai terlupakan.

Sedangkan orang Yahudi dan sabatnya (sabat upacaranya yang jatuh pada tanggal-tanggal tertentu setiap tahun/bukan Sabat mingguan atau bukan Sabat hari ketujuh) nanti mulai 2.100 tahun setelah dunia ini diciptakan. Lagi pula Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa hukum dan hari Sabat hari ketujuh itu bukan hanya untuk orang Israel saja. perhatikan ayatnya :
Mrk 2:27 “Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat””
Hanya hewan yang tidak wajib memelihara hari Sabat. Jika kita merasa adalah manusia maka berarti hari Sabat adalah untuk kita juga.
Pkh 12:13 “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang”.

Jadi kesimpulannya adalah :

Memang kita tidak diselamatkan oleh penurutan Hukum tetapi hal ini tidak membuat orang Kristen terbebas dari hukum Moral termasuk hukum Sabat. Memang kita tidak berada di bawa Hukum, tetapi hal ini tidak membuat orang Kristen terbebas dari hukum Moral termasuk hukum Sabat. Motivasi orang Kristen sejati dalam menurut hukum bukan karena untuk mendapat keselamatan atau masuk neraka, tetapi lebih karena RASA KASIH KEPADA TUHAN YESUS YANG TELAH MATI UNTUK MANUSIA YANG BERDOSA. Ayat berikut mengatakannya dengan lebih jelas :
Yohanes 14:15 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”.
1 Yohanes 5:3 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”
Itulah sebabnya
Rom 13:8 Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat
Rom 13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Yoh 13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Tetapi ingat, kasih bukan pengganti hukum tetapi kegenapan atau wujud dari kasih. Artinya orang yang mengasihi, tetap menurut hukum, bahkan menjadi bukti utama. Karena seperti iman juga, jika kasih tampa perbuatan pastilah kasih itu adalah kasih yang mati atau kasih yang pura-pura.

Hari sabat tidak pernah bermakna hari sabtu, tp berarti bermakna hari perhentian, yaitu suatu hari yg dikhususkan bagi Tuhan, karena dalam Alkitab (termasuk kitab2 deuterokanon Katholik dan orthodoks Syria) tidak terdapat bahwa hari sabat adalah harus hari sabtu, demikian jg hr minggu.

Menguduskan hari sabat adalah memisahkan suatu hari bagi Tuhan, krn kata kudus bermakna (yg terutama) adalah terpisah/ berbeda.

Jd hari sabtu atau hari minggu sah-sah saja selama dilakukan dlm nama Yesus Kristus kpd Bapa di Surga.

Ingin diskusi lebih lanjut (tentunya diskusi yg baik dan benar) silahkan add FB dan inbox sy, Ezequeel Stanley Lusikooy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 280,438 hits

visitors

Readers

tracker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: