Ps Bobby Butar Butar blog

Benarkah Orang Kaya Sukar Masuk Sorga?

Posted on: Mei 27, 2010

Benarkah Orang Kaya Sukar Masuk Sorga?

Penulis: Ps. Bobby M.Th

Bacaan: Matius 19:24

Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Suatu hari Tuhan Yesus berjumpa dengan seorang anak muda yang kaya raya. Anak muda itu seorang yang saleh dan mentaati seluruh hukum Taurat. Dengan bangga dia mengatakan kepada Tuhan Yesus, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Jawaban dari Tuhan kemudian membuat ia pergi dengan sedih.

Apakah perkataan Yesus yang membuat anak muda itu pergi? Tuhan berkata kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.”

Sesungguhnya bukan harta atau uang yang menjadi titik sentral dari perkataan Tuhan. Allah tidak menentang orang untuk menjadi berhasil dan kaya. Sebab, firman-Nya sendiri menulis bahwa “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Amsal 10:22). Tuhan sendiri ingin memberkati manusia. Tuhan ingin orang menjadi sukses dan berhasil. Ada banyak orang-orang dalam kisah di Alkitab yang hidupnya berkelimpahan. Abraham, Ishak, Yakub, Ayub, Daniel, Nehemia, Lydia adalah beberapa nama yang bisa disebutkan hidup dalam kelimpahan. Mereka kaya dan makmur.

Kalau demikian, mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah?” Persoalan utama disini adalah “hati”. Orang kaya tersebut ingin mempunyai hidup kekal, ingin masuk ke dalam Kerajaan Sorga, namun fokus utama hatinya bukanlah pada Allah sang pemilik Sorga, tetapi pada kekayaannya. Hal itu terlihat dari tindakannya yang pergi meninggalkan Yesus dengan sedih karena “banyak” hartanya.

Ia tidak mau “mempersembahkan” hartanya untuk kemuliaan Tuhan. Hatinya terikat pada uang/kekayaannya. Pusat hidupnya sesungguhnya bukanlah Allah -meskipun ia mengaku hidup saleh dan mentaati perintah-perintah Tuhan-. Pusat hidupnya adalah pengejaran kekayaan dan harta. Sehingga, ketika Tuhan memintanya untuk menyumbang orang-orang miskin dengan menjual seluruh hartanya, ia tidak sanggup memenuhi permintaan Tuhan Yesus tersebut. Hidupnya sebenarnya tertuju pada perkara duniawi dan bukan pada Kerajaan Sorga dan hidup kekal.

Allah atau Mamon

Dalam kesempatan lain, Tuhan Yesus mengingatkan betapa berbahayanya bila manusia mendewakan kekayaan melebihi Tuhan. Matius 6:24 mencatat perkataan Tuhan Yesus, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Apakah Mamon yang dimaksud dalam perkataan tersebut? Mengapa Mamon itu dibandingkan dengan Allah? Menurut Albert Barnes’ Notes on the Bible Mamon adalah kata dalam bahasa Syria. Mamon adalah nama suatu berhala yang disembah sebagai Dewa kekayaan. Kedudukan Mamon sama dengan Plutus dalam mitologi Yunani. Adam Clarke’s Commentary on the Bible menulis bahwa kata “Mamon” digunakan untuk istilah “uang” dalam Targum Onkelos (Targum adalah Kitab suci Perjanjian Lama dalam bahasa Syria).

Dr. Castel seorang ahli tafsir kitab suci mengatakan ada kemungkinan bahwa istilah “Mamon” bersumber dari istilah bahasa Ibrani “aman” yang berarti: to trust, confide (berharap, mengharapkan atau mempercayai). Agustinus, seorang bapa gereja dari abad-abad pertama mengatakan bahwa “that mammon, in the Punic or Carthaginian language, signified gain.” Senada dengan sumber-sumber tersebut, John Gill’s Exposition of the entire Bible menulis, “The word “mammon” is a Syriac word, and signifies money, wealth, riches, substance, and everything that comes under the name of worldly goods”.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Mamon adalah sikap yang mendewakan uang dan harta kekayaan. Sikap itu tanpa disadari bisa membuat manusia jatuh dalam kejahatan. Mengapa? Firman Tuhan menulis, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10).

Sikap cinta akan uang atau kekayaan kerap membuat manusia menjadi gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Kasus yang menghebohkan tanah air akhir-akhir ini tentang GT, merupakan salah satu contoh. Bagaimana dia kemudian berkolusi dan melakukan praktek-praktek yang tidak sepatutnya untuk meraih kekayaan. Memang pada akhirnya dia berhasil menjadi kaya, namun seumpama cendawan yang tumbuh di musim hujan, hal itu tidak bertahan lama. Kini, ia harus menghadapi proses hukum karena kejahatan yang dilakukannya.

Hati dan Harta

Firman Tuhan mengatakan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Apabila harta terbesar dalam hidup seseorang adalah Tuhan Yesus dan Kerajaan Sorga, maka disitulah hatinya juga berada. Akan tetapi, jika harta terbesar dari seseorang adalah uang atau kekayaannya, maka disitulah juga hatinya berlabuh.

Seseorang yang mempunyai prinsip hidup bahwa harta terbesar dalam hidupnya adalah Allah dan Kerajaan Sorga, akan tahan uji jika dia mengalami peristiwa kehilangan. Ayub merupakan sebuah contoh mengenai hal itu. Ketika iblis mencobai dia dengan mengambil hartanya melalui musibah, sehingga ia jatuh miskin dan sakit parah, Ayub tidak bersungut-sungut kepada Tuhan. Tidak ada sepatah katapun yang menghujat Tuhan. Justru dia berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. ” (Ayub 1:21-22). Ayub berhasil mengalahkan pencobaan terhadap keuangan dan hartanya sehingga pada akhirnya Tuhan memberkati hidupnya dua kali lipat.

Bagaimana bila peristiwa tersebut menimpa orang yang mendewakan uang dan kekayaan? Sudah dapat diduga, paling tidak ia akan stress, berduka, mungkin juga marah kepada Tuhan, bersungut-sungut dan tidak sedikit juga yang akhirnya bunuh diri karena tidak tahan mengalami kehilangan dan jatuh miskin.

Sikap yang Ideal

Apakah sikap yang ideal dan seharusnya dilakukan berkaitan dengan uang dan kekayaan? Sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, marilah meneladani Maria Magdalena, Yohana, Susana dan beberapa orang lain dalam Alkitab. Apakah yang mereka lakukan? Perhatikan ayat firman Tuhan berikut, “..Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Lukas 8:2-3).

Mereka adalah orang-orang kaya dan makmur yang menyadari bahwa harta kekayaan yang dimiliki karena berkat Tuhan saja. Oleh karena itu, mereka tidak menjadi pelit dengan kekayaannya. Justru mereka dengan semangat mendukung pelayanan Tuhan Yesus dengan kekayaan mereka. Mereka menyadari bahwa “mengumpulkan” harta di Surga merupakan hal terindah yang bisa diperbuat dengan apa yang mereka miliki.

Orang-orang itu menyadari bahwa uang dan kekayaan tidak bisa membawa mereka ke Surga. Oleh karena itu, mereka tidak membiarkan hatinya untuk sampai pada taraf “mencintai uang”. Uang dan kekayaan bisa dicari dengan kerja keras, ketekunan, disiplin, inovasi dan sebagainya. Uang dan kekayaan hanyalah “alat” agar membuat hidup lebih baik, dalam artian bisa memudahkan hidup mereka, namun mereka tidak mau hidupnya dikuasai oleh uang dan harta kekayaan. Mereka menghayati benar perkataan Tuhan Yesus, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:20).

Mengumpulkan harta di Sorga berbicara tentang kehidupan yang “memberi” arti bagi Kerajaan Allah. Baik melalui perkataan, sikap hidup, perilaku, keuangan dan segala aspek hidup lainnya. Orang-orang yang fokus hidupnya “mengumpulkan” harta di Sorga, tidak akan membiarkan tahta hatinya dikuasai oleh uang dan kekayaan maupun “berhala” zaman modern lainnya. Mereka akan menjaga hatinya dengan penuh kewaspadaan agar hanya terfokus kepada Yesus Kristus.

Kesimpulan

Persoalan utama bukanlah terletak pada uang atau kekayaan. Akan tetapi pada bagaimana sikap terhadap hal-hal itu. Karena, apabila sikap yang diambil adalah memilih mencintai uang dan kekayaan melebihi cinta kepada Tuhan, maka akan sangat sukar bagi seseorang untuk masuk Kerajaan Allah. Sebab, dia telah menempatkan Tuhan sebagai figur kedua dalam hidupnya dan lebih menomorsatukan atau memberhalakan uang/kekayaan.

Padahal firman Tuhan dengan jelas menulis bahwa Allah adalah Allah yang cemburu. Seperti nyata tertulis dalam firman-Nya, “Jangan ada padamu Allah lain di hadapanku.” Injil Lukas juga mencatat perkataan Tuhan Yesus, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13).

Jangan takut dengan masa depan, sebab firman-Nya dengan tegas telah mengatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Tuhan Yesus pasti memberkati kehidupan orang-orang yang mengasihi-Nya. Oleh karena itu, pilihlah untuk mencintai Tuhan melebihi cinta kita terhadap hal-hal yang lain. Meskipun untuk melakukan hal itu memang sukar dan berat bagi “kedagingan” kita. Akan tetapi, itu adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan, sebab hadiahnya sangat pasti, yaitu Hidup Kekal dalam Kerajaan Sorga selama-lamanya. Tuhan Yesus memberkati.

About these ads

5 Tanggapan to "Benarkah Orang Kaya Sukar Masuk Sorga?"

ok, very good blog, GBU

Mat 19:24 –
(1) Perkataan Tuhan di sini menunjukkan kemustahilan masuk ke dalam Kerajaan Allah bersandarkan hayat alamiah.
(2)Ayat 23 menggunakan Kerajaan Surga, tetapi di sini dipakai Kerajaan Allah. Pada butir ini Kerajaan Surga belum datang, tetapi Kerajaan Allah sudah ada. Karena itu, Tuhan memakai istilah Kerajaan Allah.

Mat 6:24 –
(1)Mengabdi = melayani sebagai budak.
(2)Setia Dalam bahasa Yunani, setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain, berarti mengabdi kepada yang seorang dan menentang yang lain.
(3)mamon Luk_16:9, Luk_16:11, Luk_16:13 Istilah Aram yang melambangkan kekayaan, kelimpahan. Mamon bertentangan dengan Allah, menunjukkan bahwa kekayaan atau kelimpahan adalam lawan Allah, merampas umat Allah dari pelayanan mereka kepada Allah.

semoga masukan ini berguna bro.! great blog !

Kaya banyak beramal baik banyak pahala tapi miskin berbuat jahat ya masuk neraka

mengumpulkan harta di sorga dalam Matius bukan berarti tidak diperbolehkan mengumpulkan di bumi tetapi asalkan hati tetap tertuju kepada Tuhan bukan harta…god write…….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 333,046 hits

visitors

Readers

tracker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: