Ps Bobby Butar Butar blog

Asal Mula Baptisan Percik

Posted on: Juni 17, 2008

ASAL MULA BAPTISAN PERCIK

Penulis: Ps Bobby MTh


percik

Dalam tulisan ini, sebagai pembelajar sejarah gereja saya ingin menggali mengenai asal mula baptisan secara percik. Pendekatan yang dilakukan tentu saja pendekatan Akademis Historis (sejarah). Saya tidak membahas secara teologis – dogmatis karena tentunya setiap gereja yang melakukan baptisan percik mempunyai alasan teologis – dogmatis tersendiri yang saya hormati.

Saya berusaha mencari jawaban yang obyektif dari sisi sejarah/historisitas mengenai asal mula berkembangnya tradisi baptisan percik dalam gereja. Dari hasil penelitian sejarah ada 5 faktor yang dapat ditulis:

Pertama: Kitab Didache (diperkirakan ditulis sekitar tahun 100-120) yg ditemukan pada tahun 1873 oleh Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel dan dipublikasikan pada 1883, memuat cara baptis secara percik sebagai pengganti cara baptis selam, jika jumlah air yang dibutuhkan tidak memadai.

Berikut teksnya, “Concerning Baptism. And concerning baptism, baptize this way: Having first said all these things, baptize into the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, in living water. But if you have no living water, baptize into other water; and if you cannot do so in cold water, do so in warm. But if you have neither, pour out water three times upon the head into the name of Father and Son and Holy Spirit. But before the baptism let the baptizer fast, and the baptized, and whoever else can; but you shall order the baptized to fast one or two days before.

Terjemahannya sbb: Mengenai Pembabtisan. Dan mengenai pembabtisan, babtislah dengan cara ini: Pertama tama, babtislah dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, dengan air kehidupan. Tapi jika tidak ada padamu air kehidupan, baptislah kedalam air yang lain, dan kalau kamu tidak dapat melakukannya dalam air dingin, lakukanlah dengan yang hangat. Tapi kalau kamu tidak juga punya semua itu, curahkanlah air tiga kali diatas kepala dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Namun sebelum pembabtisan hendaknya pembabtis berpuasa, dan yang dibabtis, dan siapapun yang dapat melakukannya, tapi kamu harus meminta orang yang akan dibabtis untuk berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya.

Perlu dicatat juga bahwa tidak diketahui secara pasti, apakah kitab “Didache” itu telah tersebar scara universal ke seluruh gereja pada waktu itu (abad 2 ) atau hanya digunakan jemaat setempat. Penemuan kitab itu pada tahun 1873 hanya seputar teks dalam kitab tersebut.

Kedua: dalam buku History of the Christian Church, Volume II, karangan Philip Schaff, pada halaman 191, ditulis bahwa baptisan percik mulai dilakukan gereja Katolik pada awalnya terhadap orang yang sakit (orang yang bertobat tersebut menderita sakit, sehingga tidak mungkin dilakukan baptisan selam) di tempat tidurnya. Kondisi “sakit berat” merupakan alasan bagi dilakukannya baptisan secara percik pada waktu itu.

Eusebius dari Caesarea (263 – 339), yang dikenal sebagai bapak sejarah gereja perdana (karena dialah yang pertama kali menulis buku sejarah gereja yan lengkap)  menulis bahwa Novatian (250) pernah dilarang untuk menjadi pejabat gereja, karena dahulunya ia dibaptis secara percik (saat itu ia sedang sakit keras).  Selengkapnya: The first specifically documented case of sprinkling involved a man by the name of Novatian (cir. A.D. 250), who lived in Rome. Novatian was believed to be at the point of death, and so was sprinkled in his sick bed. However, the case was very unusual. Eusebius of Caesarea (cir. A.D. 263-339), known as the father of church history, described the incident. He wrote that Novatian thereafter was restricted from being appointed as a church officer. Why was this? Because it was not deemed “lawful” that one administered “baptism” by “aspersion” (percik), as he was, should be promoted to the order of the clergy” (Eusebius: Ecclesiastical History, VI.XLIII).

Ketiga: Cyprian adalah tokoh gereja yang pertama kali “mengijinkan” penggunaan baptisan percik sebagai substitusi dari baptisan selam apabila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya dalam kasus orang yang akan menjadi Kristen dan dibaptis itu sedang sakit keras. (The first defense of sprinkling was offered by Cyprian (cir. A.D. 200-258), a writer in Carthage, who allowed sprinkling as a substitute for immersion, but only when “necessity compels” — as in the case of acute sickness (Epistle lxxv).

Keempat: informasi mengenai asal mula baptisan percik yang saya dengar dari dosen di Institut Teologi Dan Keguruan Indonesia (Seminary Bethel) Petamburan, Jakarta, yaitu Pdt. Thomas Bimo, M.Th pada mata kuliah Teologi Perjanjian Baru. Beliau mengatakan tradisi baptisan percik berawal tatkala seluruh kekaisaran Romawi harus memeluk agama Kristen, karena Kaisar Theodosius di tahun 380 M, mengeluarkan “dekrit/edict Theodosius” yang isinya mengatakan bahwa “Agama kekaisaran Romawi adalah agama Kristen“.

Dampak dari keputusan tersebut, adalah Kristenisasi massal di seluruh wilayah kekaisaran Romawi (Kalau tidak menjadi Kristen, akan berhadapan dengan tentara Romawi dan dihukum). Akibat kristenisasi massal tersebut, maka terjadilah baptisan selam besar-besaran. Situasi yang seperti itu, membuat kolam-kolam dan sungai-sungai menjadi sangat sesak. Akibatnya untuk memudahkan, maka orang-orang tersebut akhirnya dipercik dgn air. Alasan “praktis” yang terjadi karena sikon yang darurat itu, kemudian dijadikan “tradisi” oleh gereja Katolik (ingat saat itu di Barat, tidak ada aliran2 gereja, hanya ada gereja Katolik).

Demikianlah Gereja Katolik kemudian mempraktekkan dua macam baptisan, yaitu “selam = immersion” dan “percik = pouring/sprinkling) dalam kehidupan rohani gereja. Baptis percik dilakukan apabila ada kondisi yang tidak memungkinkan dilakukannya baptisan selam, misalnya orang yang akan dibaptis tersebut sedang sakit keras, ataupun situasi darurat lainnya.

Thomas Aquinas (1225-1274), salah seorang teolog terkemuka gereja katolik, pernah menyatakan bahwa baptisan selam adalah metode yang lebih “aman” meskipun ia juga mengakui baptisan dengan cara percik atau curah. (Thomas Aquinas (cir. A.D. 1225-1274), one of the most prominent Catholic theologians, acknowledged that immersion was the “safer” mode, though he allowed sprinkling or pouring). (Sumber: http://www.newadvent.org/summa/4066.htm)

Penggunaan baptisan percik yang terbatas dalam sikon darurat tsb, dikukuhkan dalam “the Council of Nemours” (A.D. 1284) yang mengeluarkan kebijakan bahwa “limited sprinkling to cases of necessity.”

Kelima: akhirnya di tahun 1311 dalam Konsili Ravenna, Gereja Katolik meresmikan “baptisan percik” sebagai satu-satunya cara baptis yang dilakukan gereja. Alasannya adalah baptisan selam tidak lagi penting sebab cara baru yaitu dengan dipercik adalah cara baptis yang dipakai gereja. (Baptism went for many years without change until the Catholic Church made the distinction that full immersion was no longer necessary in 1311 at the Council of Ravenna. They determined that full immersion was unnecessary and the term ‘pouring’ was the new accepted way of performing the baptism).

Demikianlah baptisan percik menjadi satu-satunya cara membaptis bagi petobat baru yang dipakai oleh Gereja Katolik sejak tahun 1311.

Dalam buku berjudul Historical Exhibition of Administration of Baptism, hlm 306,  seorang imam Gereja Katolik, Brenner, memberikan pernyataan mengenai hal ini “Selama 1300 tahun, baptisan umumnya dan biasanya dilakukan dengan menyelamkan seseorang ke dalam air, dan pada kasus yang luar biasa, percik atau menyiram air dilakukan. Kemudian belakangan ditolak sebagai metode baptisan, bahkan dilarang.” (For thirteen hundred years was baptism generally and regularly an immersion of the person under the water, and only in extraordinary cases a sprinkling or pouring of water; the latter was moreover, disputed as a mode of baptism, nay even forbidden).

Setelah reformasi Protestan yang dimotori Martin Luther pada tahun 1517, aliran-aliran dalam gereja Protestan banyak yang kembali pada baptisan selam (immersion) (Yunani: baptizo) seperti yang tertulis literal di Alkitab dan juga tradisi gereja (kira-kira tahun 30 M – 1311 M), namun ada juga yg tetap mempertahankan tradisi baptisan percik.

 

artikel terkait: Apakah Baptisan Selam Alkitabiah?

 

 

Referensi

1. Eusebius (1955 ed.), Ecclesiastical History (Grand Rapids: Baker Book House).

2. Philip Schaff, History of The Christian Church, Volume II

3. http://www.sarapanpagi.org

4. http://historicalresources.suite101.com/article.cfm/the_history_of_baptism

5. http://www.christiancourier.com/articles/907-does-archaeology-prove-that-baptism-may-be-administered-by-sprinkling

6. Wikipedia

7. http://www.newadvent.org/summa/4066.htm

About these ads

38 Tanggapan to "Asal Mula Baptisan Percik"

mengapa kita harus melakukan baptisan percik

so, baptisan percik intinya tidak mempunyai dasar dalam Alkitab??? jadi, bagaimana dengan denominasi yang mempergunakan cara percik? apa baptisan tersebut tidak sah??? apakah baptisan dapat dilakukan berulang kali??

tak ada bukti dalam Alkitab bahwa baptisan itu selam. itu hanya dilakukan untuk cari sensasi spy dapet jemaat lalu dirikan jemaat baru lalu jadi pemimpinnya lalu raup uang. tul ngggak ….?

Baptisan.

Definisi: Kata “membabtis” berasal dari bahasa Yunani bafti,zein,yang berarti “mencelup,membenamkan,” ( A Greek-English Lexxcon oleh Liddell dan Scott) Babtisan air Kristen adalah suatu lambang yang kelihatan bahwa pribadi yang dibabtis telah membuat pembaktian yang lengkap,secara terbuka,dan tanpa syarat melalui Yesus Kristus untuk melakukan kehendak Allah Bapa (Yehuwa).Alkitab antara lain juga menyebutkan babtisan Yohanes,babtisan dengan roh kudus dan babtisan dengan api.

Babtisan Kristen,apakah dengan memercikkan air atau membenamkan seluruh tubuh?

Yesus sendiri di babtis di sungai Yordan.
Markus 1:9,10 : ” Yesus dibabtis (dibenamkan) di sungai Yordan oleh Yohanes.Pada saat ia keluar dari air,ia melihat langit terkoyak.
Kisah rasul 8:36-38: “Mereka melanjutkan perjalanan,dan tiba disuatu tempat yang ada air.Lalu kata sida-sida (Etiopia) itu: ;Lihat , disitu ada air; apakah halangannya jika aku dibabtis?
Kisah 8:38: Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu,dan keduanya turun kedalam air,baik Filipus maupun sida-sida itu,dan Filipus membabtis dia. Jelas disini kata turun kedalam air berati masuk kedalam air atau nyebur.
Nah, ini sedikit sumbangan dari saya semoga diterima dengan akal yang logic

GBU 4 all n thanx buat pak Bob

Baptisan?

Yang nentuin “legalitas” Baptisan itu manusia atau Tuhan sich?

Ada yang menjamin gitu klo udah di-baptis selam lantas orang tersebut gak kembali ke dosanya lagee??

Just sharing, saya udah dibaptis keduanya lho..

Saya kadang ngerasa lucu gitu, ritus yang dipermasalahin, bukan esensinya. Esensinya kan keselamatan dari Lord JC.

Kita diberi hikmat untuk setidaknya mencari tau apa yang benar, in this case from THE HOLY BIBLE, n soal Baptis yang berasal dari kata Baptizo yach?? Yang berarti Baptis yang benar menurut Alkitab versi terjemahan aslinya adalah baptis selam.

Yang saya mau kritisi adalah, “rasa benar sendiri” sehingga kita sering menganggap yang lain salah.
Bisa melihat selumbar di mata Saudara kita, tapi balok di mata kita, kita tidak lihat.

Dari tulisan Bang Bobby, saya menyadari sesuatu, bukan kebetulan saya rasa, asal muasal Baptisan percik. Toh banyak jiwa jadinya kenal ama Lord JC. Sama seperti natal yang kog dirayain tgl 25 Desember??

So, kenapa kita gak saling mengasihi n melengkapi satu sama lain, alih-alih saling menyerang n menghakimi?

Thx 4 d Posting Pak Bobby

syalom…
mengenai baptisan sampai sekarang ini masih di pertentangkan..
tetapi yang kita harus sadari bahwa jelas dalam :
Yohanes 1:1 mengatakakan “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama – sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.
dari sini kita bisa simpulkan bahwa, Firman itu adalah Allah, dan kita tahu juga bahwa satu – satunya Firman Allah yang tertulis adalah Alkitab.. Amen!
So..
Kalau dalam Matius 3:16 sudah Jelas, Kalau Tuhan Yesus sendiri mau dibabptis Selam / dibenamkan, kenapa kita tidak…
Yesus adalah teladan kita, kenapa kita tidak mengikutinya…?
Apakah kita lebih tinggi dari Yesus sehingga kita cukup hanya percik saja..
disini bukan kita saling menyerang, tetapi kita harus menyatakan Firman Tuhan secara terus terang. tanpa harus di tutup – tutupi.
karena apa, Firman Tuhan sekarang sudah di campur sama Filsafat2.
Firman Tuhan sendiri mengatakan “kalau ya, katakan ya dan kalau tidak katakan tidak. selebihnya berasal dari si jahat / iblis”.
apakah kita meragukan Firman Tuhan…?
kalau kita meragukan Firman Allah berarti kita meragukan Allah, karena Alla adalah Firman itu sendiri.

syalom

Tuhan Yesus Memberkati

Shalom Ps !!!!
Pada suatu saat tahunnya lupa, saya beribadah puasa di gereja lokal, kebetulan ada seorang hamba Tuhan dari Medan selesai khobat, hamba Tuhan tersebut berdoa dan memberkati gembala gereja lokal kami, waktu kami jemaat diminta mengangkat tangan untuk memberkati gembala lokal kami, saya melihat dalam Roh bahwa tempat dimana kami ibadah gelap dan melihat lidah-lidah api turun dari atas dan diatas kepala nya memberkati Gembala kami, Matius 3 : 11 dan Lukas 3 : 16, apakah pertanda yang dimaksud dengan dibabtis dengan api mohon tanggapannya terima kasih Ps.
Tuhan Yesus memberkati.

Kebetulan saya baru menghadiri kebaktian rohani dimana kami sedang membahas arti baptisan. Banyak macam2 baptisan yang kami bahas di antaranya adalah: baptis SDbendera, baptis percik , baptis api/obor dan baptis selam. Sesuai apa yang di katakan oleh firman Tuhan baptis selam yang sesuai. Bisa di baca dalam Efesus 4:5 – Satu Tuhan, Satu Iman dan Satu Baptisan. Ingat, hanya ada satu baptisan. Bukan saya yang menambahkan kata-kata ini…tapi Alkitab say it. Pada Matius 3:13-16, kata-kata “Keluar” dimana opositenya adalah masuk. Jadi sebelum ada kejadian “keluar” berarti ada kejadian “masuk” sebelum itu. Jadi baptisan bukan untuk mencari sensai seperti apa yg di katakan oleh beberapa saudara kita. Alkitab adalah tulisan tangan para-para rasul yang mendapat ilham dari TUHAN. Tidak boleh ada yang menambahkan dan mengurangkan. Memang kita memperoleh keselamatan dari Tuhan, tp kalo kita tdk menuruti segala apa yang di perintahkan apakah bisa?Memperoleh keselamatan bukan hanya saling mengasihi satu sama lain. Hukum dasar, Kasihi Tuhan Allah mu, dan Kasihi sesama manusia, pada dua dasar hukum ini lah tertera semua hukum taurat its mean the 10 commandments.

Sekian dan terimakasih

setuju dengan artikel dari foreing_beauty.saya dari keluarga katolik dan saya pernah penasaran ketika saya mulai mencari Tuhan dan berhadapan tentang keberadan baptis selam dai samping baptis percik yang sudah saya kenal sejak kecil di kalangan keluarga.saya mempelajari baptisan secara alkitabiah dan saya menemukan dan bahwa baptisan selam lebih alkitbiah,,,
menurut saya di perlukan ketulusan dan kerendahan hati untuk menerima kebenaran tentang hal ini.
saran saya ; cobalah cari kata baptis.dan referensinya…

saran saya : cobalah cari kata baptis,dan referensinya dalam bahasa Inggris,Yunani,Ibrani. kalau anda mau jujur hati pasti menemukan bahwa kata baptis lebih mengacu pada selam.

God bless..

bukan untuk menyinggung denominasi gereja tertentu termasuk gereja lama saya,hanya untuk menyampaikan fakta alkitabiah

Terimakasih Sodara Budi, saya sendiri berada dari kalangan Gereja Advent. (Masehi Advent Hari ke Tujuh)
Bukan mau menghakimi denominasi gereja lain, tapi saya sebagai umat kristen berkewajiban untuk mengabarkan pekabaran yang benar.

Tuhan Yesus Beserta Kita semua. AMIN.

terlalu dini menyimpulkan percik salah

baptis jg punya arti lain yaitu mencuciayg penting setelah dibaptis kita mau buat apa?kalo tetap pd manusia lama kita,mau dibaptis disungai yordan skalian ga da gunanya.air hanya sbg lambang untuk membersihkan,yang terpenting roh kudus yg mengubah hidup kita.gereja katolik didirikan ole
h kristus jd ga mungkin sesat……!!!!!

Yesus tidak pernah dibaptis percik, jadi jika kita ingin ikut Yesus pasti kita ikut apa yang pernah dilakukan Yesus. BEtul, jadi baptisan percik sebenarnya tidak memiliki dasar alkitabiah sama sekali, jadi saya berpendapat bahwa hal itu harus diluruskan kembali oleh Bapak-BApak gereja sekarang ini sehingga apa yang diaktakan tentang satu baptisan itu banar-benar terwujud

apkah benar bahwa baptisan percik itu benar dan siapa pertama kali mengunakan hal ni?

Syalom saudara2ku terkasih dlm nama Tuhan kita Yesus Kristus…sebenarnya pada saat mnulis coment ini,hati sya sedih skali.karena ada sbahagian sdra2 yg “MERASA DISERANG” oleh sdra2 yg lain yg memberitahukan baptisan air yg benar dan Alkitabiah. Sya memberi pendapat ini jg bukan utk menyerang sdara2,tapi ini utk benar2 memberitakan kebenaran firman Tuhan. baptis selam, siram,percik dan tuang adlh cara pembaptisan yg SYAH sebagai cara pembaptisan sesuai dgn arti kata baptis itu sendiri. meskipun arti yg sebenarnya/utama adalah menyelamkan/ mencelupkan,itulah yg disebut pelbagai pembaptisan. masalahnya adlh didalam Ibrani 6:1-2 mengatakan bhw ajaran tentang pelbagai pembaptisan bukanlah ajaran Kristus.dan kalau dikerjakan/dilakukan adalah SIA2!! Ini jelas firman Tuhan yg mgatakan demikian, bukan sesiapapun.oleh karena itu timbul pertanyaan:
bagaimanakah cara baptisan yg benar kalau berbagai cara pembaptisan/pelbagai pembaptisan dikatakan bukan ajaran Kristus??jawabnya:
kita harus satu baptisan(Ef4:5)!!
Apakah yg disebut satu baptisan??kebanyakan org Kristen mgatakan satu baptisan adalah satu didalam formula nama Allah Bapa,Putera dan Roh Kudus dgn berbagai2 cara pembaptisan.jelas ini adalah tidak benar dan tidak tepat sesuai dgn firman Tuhan.karena yg dimaksud satu baptisan adalah selain satu didalam nama Allah Bapa,Putera dan Roh Kudus,jg satu didalam cara pembaptisan.
Apa dasarnya?dasarnya adalah firman Tuhan,yaitu pada
Kisah 1:1 yg mengatakan “bhwa Tuhan Yesus mengerjakan dan mengajarkan segala sesuatu” pastilah tentunya kepada murid2NYA.dan kalimat segala ssuatu ini jelas termasuk berbicara jg mengenai cara pembaptisan.apakah hal ini jg mempunyai dasar yg kuat bhwa Tuhan mengajarkan cara baptisan?? Adakah bukti tertulis??jwbnya: ADA !!
Yaitu pada Kisah1:15-26 bhwa pada saat itu Petrus berbicara tentang pengangkatan/pengundian seorg saudara untuk menjadi rasul mggantikan Yudas Iskariot yg telah berkhianat.yaitu persyaratan salah satunya adalah: SAUDARA2 YANG AKAN DIPILIH/DIUNDI,
TELAH MENERIMA BAPTISAN YOHANES PEMBAPTIS!! dan kita ketahui, sejarah pada masa Yohanes pembaptis,ia membaptis jelas dgn CARA MENYELAMKAN/MENCELUPKAN,jelas ini fakta sejarah yg tdk terbantahkan.dan Tuhan Yesus sendiri yg adalah ANAK ALLAH, membenarkan bhwa Yohanes pembaptis dan cara baptisannya adalah KEHENDAK ALLAH BAPA YANG MAHA KUASA YANG BERADA DISORGA! olehkarena itu,Tuhan Yesus sendiri dibaptis dgn cara selam. Dan jg pada Yoh 3:22+Yoh 4:1-2 yg menyatakan Tuhan Yesus menyertai murid2NYA MEMBAPTIS. Timbul pertanyaan:
dgn cara apakah murid2 Tuhan Yesus membaptis org2 yg percaya kepada NYA??
Saudara2 terkasih,mari kita berhikmat.apakah mgkin murid2 Tuhan Yesus membaptis dgn berbagai cara pembaptisan/pelbagai pembaptisan yaitu selam,siram,percik,tuang dll.jelas murid2 membaptis org2 yg percaya dgn satu cara pembaptisan, yaitu: yang dikerjakan dan diajarkan(Kis1:1) Tuhan Yesus/kehendak Allah Bapa yaitu baptisan Yohanes pembaptis yg menyelamkan/mencelupkan org2 yg dibaptis.jadi jelas sekarang apa maksud Paulus dgn arti:SATU BAPTISAN adlah satu didalam formula TRITUNGGAL, satu didalam cara baptisan dgn contoh teladan yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri.saya ingin tegaskan sekali lagi bhwa: BAPTIS SIRAM,PERCIK dan TUANG adalah juga arti dari baptisan dan syah sebagai pembaptisan! TETAPI…!! Berbagai Cara Pembaptisan ini,TIDAK PERNAH DIKERJAKAN DAN DIAJARKAN TUHAN YESUS UNTUK CARA PEMBAPTISAN AIR!!
Tuhan Yesus hanya MENGERJAKAN DAN MENGAJARKAN CARA PEMBAPTISAN SELAM,DAN OLEH KARENA ITU CARA PEMBAPTISAN SELAM MUTLAK BENAR!! bukan karena pembaptisan selam adlah kbenaran,melainkan karena Tuhan Yesuslah maka cara pembaptisan selam menjadi mutlak benar dan satu2nya cara pembaptisan air yg syah dan Alkitabiah/ajaran Kristus.timbul pertanyaan :
jadi bagaimana dgn pembaptisan ROH KUDUS ?? PEMBAPTISAN ROH KUDUS kan JELAS DENGAN CARA DISIRAMKAN/ DICURAHKAN.oleh karena itu,baptis air pun boleh dong,disiramkan/dicurahkan. disinilah jelas kita ketahui bhwa berbagai cara pembaptisan ada pada fungsinya masing2.pembaptisan ROH KUDUS jelas mggambarkan pencurahan,tidak mgkin penyelaman/ penguburan. pembaptisan AIR jelas mggambarkan penguburan
( Rom6:4),tidak mungkin pencurahan.karena itu untuk cara pembaptisan ROH KUDUS.pembaptisan PERCIK jelas mggambarkan pembasuhan/pemurnian/pentahiran dari kenajisan jasmani(Kel40:12; Imamat15:1-10.pembasuhan/pentahiran utk mbersihkn jasmani- banding 1Pet 3:21.baptisan kita bukan percik/pembasuhan yg adlh untuk membersihkan kenajisan jasmani.-Ib 9:10; 10:9.jelas dikatakan pelbagai macam pembasuhan telah dihapus setelah kedatangan Tuhan Yesus yg adalah PEMBAHARU).umat Israel dibaptis dlm laut dan awan jg jelas bukan berbicara pembaptisan air,walaupun didalam laut.dibaptis didalam laut artinya:umat Israel DIMASUKKAN kedalam laut yg telah dikeringkan ALLAH.dibaptis didalam awan artinya:umat Israel DINAUNGI/DIKAWAL oleh awan.satu lagi,tentang kebiasaan org Yahudi membaptis tangan,meja dan kursi dll.mari kita berhikmat.tulisannya memang baptis,tetapi artinya disesuaikan dgn konteks kejadiannya.yaitu baptis tangan,artinya:mencelupkan dan mencuci tangan.baptis meja,artinya:mencuci meja.jadi jelas semuanya arti baptis bermacam2,tetapi baptis air jelas hanya selam yg dikerjakan dan diajarkan Tuhan Yesus(satu baptisan Ef4:5).dan berbagai cara baptis yg lain,meski adalah cara pembaptisan juga,tetapi tdk dikerjakan dan diajarkan Tuhan Yesus(ajaran pelbagai pembaptisan).demikian saudara2ku semoga hal ini membuka hati saudara2…amin. GodBless..

Dan tentang komentar2 sbahagian saudara2 yg mengatakan: mengapa kita mempermasalahkan cara pembaptisan?
mengapa kita tdk melihat esensi dari baptis itu saja?
Apakah org yg telah dibaptis selam, emangnya tidak berbuat dosa lagi?
Jelas pernyataan2 ini adalah “BENAR” jikalau firman Tuhan membenarkannya.tetapi tanpa disadari pernyataan2 diatas menjadi PEMBENAR untuk MENGKORUPSI FIRMAN TUHAN! firman Tuhan/perintah Tuhan dilakukan dgn cara2 yg TIDAK BENAR/TIDAK DIAJARKAN,Contohnya ya seperti cara baptis.Allah Bapa dan Tuhan Yesus jelas telah meng AMIN kan cara pembaptisan selam-cara pembaptisan Yohanes pembaptis.dan jelas cara pembaptisan ini adalah perintah dari atas/hikmat dari atas.lalu sebhagian saudara2 seiman dalam melakukan baptis dgn cara dari arti kata baptis itu sendiri/ hikmat manusia/hikmat dari bawah/bumi.memang benar,arti kata baptis bermacam2,yaitu:selam,siram,percik,tuang,cuci,meliputi dan lain2.masalahnya adlh, perintah Allah Bapa/perintah dari sorga/perintah dari atas utk melakukan pembaptisan air adalah hanya dgn cara menyelamkan/mencelupkan.dan kalau saudara2 tetap dgn keyakinan saudara dgn percik dan siram,siapa yg bisa melarang?dan org yg dibaptis selam tdk berdosa lagi?ing jelas pertanyaan kekanak2an.jelas org yg dibaptis selam telah melakukan firman Tuhan dgn TEPAT!tetapi tentang berbuat dosa atau tdk adalah kerelaan diri utk dibaharui oleh firman Tuhan dan ROH KUDUS lah yg dapat memampukan hal itu.bukan kekuatan dan hikmat kita manusia..GODBLESS

menurut saya makna dari baptisan air itu adalah merupakan wujud ketaatan kepada Tuhan. Yesus ketika mau dibaptis Dia berkata kepada Yohanes pembaptis “biarlah hal itu (baptisan) terjadi karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah”. jadi Yesus melakukannya (baptisan) hanya karena KETAATAN. sebelum dibaptis Dia tidak berdebat soal cara baptisan ataupun soal kedudukanNya atau soal kesucianNya, tapi sekali lagi Yesus hanya mau TAAT. SO U,WHY NOT?
dalam melakukan ketaatan perlu kerendahan hati dan penyerahan diri.
berikutnya bisa kita lihat dalam amanat agung Yesus diprintahkan untuk membaptis. saya percaya kalau Yesus masih ada di bumi ini Dia akan melakukan apa yang Dia amanatkan kepada gereja-gerejanya untuk dilakukan.
jadi daripada berdebat,lebih baik TAAT saja!!
kalau masih meragukan lagi coba jawab pertanyaan ini: “menurut kamu baptisan Yohanes dari Surga atau dari manusia?”

baptisan percik apa benar atau salah, apakah menyelamatkan atau sekedar simbol… yang pasti belum dilakukan sebelum zaman kaisar konstantaien dan theodosius. jika demikian, berarti zaman sebelumnya, baptisan yang dilakukan gereja adalah seperti contoh baptisan yg diterima tuhan Yesus, dan kalayak ramai seperti yang dilakukan Yoh pembaptis dan rasul2 zaman gereja awal. jadi alkitab berkata: apakah kita lebih takut kepada Tuhan atau kepada manusia (pdt dan denominasi). yesus juga berkata: kalau engkau mengasihi Aku, maka hendaklah menuruti segala perintahku (termasuk contoh sakramen yg Tuhan Yesus contohkan). tq.gbu.

Benar yg dikatakan oleh sdri Juliana yaitu :
TAAT….! Dan taat itu, taat kepada Tuhan Yesus Kristus dan terlebih lagi kepada Allah Bapa.karena Tuhan Yesus sendiri “taat” kepada Allah Bapa.dan seperti yg dikatakan sdra Tertius:
apakah kita takut kepada Tuhan atau kepada manusia (Pendeta/Pastor dan denominasi).

Bacalah Imamat 10:1-2 tentang Nadab dan Abihu yg melakukan perintah firman Tuhan(mempersembahkan ukupan perbarahan adalah perintah firman Tuhan) tetapi dgn melanggar perintah firman Tuhan itu sendiri, yaitu dengan membubuhkan “API YANG ASING”.jelas Tuhan tidak menerima, walaupun sama-sama API….!

Demikian jg pembaptisan,
kita melakukan pembaptisan adalah jelas melakukan perintah firman Tuhan.
Tetapi kalau kita membaptis dan dibaptis dgn cara siram dan percik yg samasekali benar2 TIDAK ADA DASAR FIRMAN TUHAN…
Apa bedanya kita dgn Nadab dan Abihu yg mempersembahkan ukupan perbarahan tetapi dgn api yang asing???
Jadi jelas,
baptis air dengan cara percik atau siram = api yang asing….!

Bacalah kisah2 nabi Nuh,Musa dan nabi yg lainnya. Mereka kalau melakukan segala perintah firman Tuhan pasti dgn kalimat:
mereka melakukan “TEPAT” seperti yang dikatakan firman Tuhan.
Demikian sdra2.. Tuhan memberkati.

Maaf…komentar saya diatas maksudnya sdri Joana, bukan Juliana. Godbless

Yang satu bilang, baptis selam yang benar, satunya lagi bilang, baptis percik sudah cukup, semuanya mengklaim berlandaskan/base on alkitab.

Saya melihat alkitab sebagai buku yang paling rawan terhadap interpretasi ganda.

Mungkin kalo mau lebih sah lagi begini saja, lakukan baptis selam di sungai Yordan, seperti saat Yesus dibaptis disana, kalau perlu dicari dimana titik sungai yg digunakan untuk membaptis. Selidiki detail yang terjadi saat pembaptisan Yesus, lalu ulangi semirip mungkin. Mudah-mudahan baptisannya tergolong alkitabiah.

Koq seperti duduk diatas api jadinya, takut kalau2 baptisan yang kita gunakan tidak sah (baca : alkitabiah), lalu jadi meresahkan cara, bukan hakikat.

@Kris
kalau memang ada ayat FT yg memerintahkan kita dibaptis harus disungai Yordan, ya kita harus dibaptis disungai Yordan! Tapi ngga ada tuh sedikitpun firman Tuhan atw Tuhan Yesus memerintahkan kita dibaptis disungai Yordan. dan anda brkata kalau perlu sampai dititik dimana Yesus dibaptis. ya kalau firman Tuhan berkata bahwa kita sebagai pengikutNya harus dibaptis ditempat mana IA dibaptis dan bahkan harus tepat dititik mana IA dibaptis, ya kita harus dan wajib! Tapi tidak ada sama sekali ayat FT memerintahkan kita sedemikian itu. Trima kasih GB all

@Aldo

Betul sebenarnya esensinya.. Di Alkitab pun tidak dibilang, “engkau harus di baptis selam, tidak boleh percik”
1. dari asal kata nya saja sudah baptiso (ibrani) berarti menenggelamkan/selam, percik sendiri saja namanya rantiso
2. adat istiadat Yahudi
3. Dimana2 orang bertobat dulu baru dibaptis

nah Gereja membuat aturan atau rules yang menjadinya suatu ajaran yang dianggap benar. Nah terkadang gereja itu banyak melakukan aturan yang salah. Tak terkecuali. Karena aturan itu dibuat berdasarkan tafsiran yang salah akan Alkitab kita. Karena aturan gereja yang buat manusia, makanya tidak ada yang sempurna. Tapi kita harus tarik garis. Manakah yang lebih mendekati kebenaran.
Nah yang menjadi persoalan:
1. Gereja yang memakai percik sebagai baptisan sehingga orang tersebut dibaptis inilah yang menjadi masalah. kenapa? Karena kata baptis itu bukan hanya punya arti baptis saja, ada kuasa dari kata baptis. Krena itu orang yang dibaptis harus sungguh2. Bagaimana seorang anak kecil bisa melakukan itu? Kesalahan gereja membuat aturan seperti itulah yang buat repot dunia persilatan. Orang jadi pusing bolehkah kita dipercik ato tidak, ato bla.. bla…. bla…., karena aturan yang kita ciptakan sendiri.
2. Alkitab memang tidak menulis kamu hanya boleh dibaptis sekali saja. baptisan adalah tanda sebuah pertobatan. memang pertobatan harus terus dilakukan selama kita melakukan dosa. tapi bertobat yang dimaksud saat dibaptis adalah berbalik dari dosa dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita. Kita dibaptis dalam nama Tritunggal, dan berarti ada diri Allah/penyertaan Allah di dalam diri kita. nh kalo orang tersebut dibaptis dalam nama Yesus, seandainya dipercik berarti cuma kena sebagian, berarti kesungguhan kita cuma setengah2 juga. padahal kita harus ikut total. atau takutnya lagi baptisan itu tidak berlaku dimata Allah. Timbul pertanyaan. Lho kita tahu dari mana? kan kita bukan Allah? Persembahan mana yang diterima Kain atau Habel? padahal mereka sama2 mempersembahkan korban kabaran untuk Tuhan. tp mana yg diterima? ingat kalo Ajaran itu salah, pasti tidak berkenan di hati TUHAN.

kiranya dapat membantu ayat2 seperti ini:
Luk 3:3, Kis 2:38, kis 13:24, Kis 19:4-5

2. Anak2 tak pernah dibpatis oleh Tuhan Yesus, tetapi diberkati. markus 10:13-16

3. Baptisan harus ada pengakuan Dosa. Yoh 1:9

4. Yesus sendiri dibaptis untuk menggenapi. mat 3:15

Hidup Tuhan Allah kita

[...] Artikel terkait: Asal Mula Baptisan Percik [...]

hallo teman2 yg dikasihi Tuhan Yesus. saya ibadah di gereja pantekosta. statement saya hny berdasarkan apa yg telah saya pernah baca mengenai baptisan.
baptisan percik disahkan thn 1311, karena hal tsb suatu rekomendasi utk org2 yg sakit yg tdk bisa bangun. Kita bicara secara sejarah dan realita.

gereja yg saya tau baptis selam (GPdI, Mawar Saron, Bethany, Tiberias, Bethel, dll) adalah gereja yg mendapatkan berkat yg luar biasa dr Bapa di Surga. tdk perlu minta sumbangan uang. masa sih bekerja diladang Tuhan minta sumbangan ke umatnya, pdhal umatnya itu keadaan ekonomi pas2an. gereja2 yg baptis selam ini anti minta2, hny mengandalkan Tuhan.
Tolong anda2 klo ingin koment hati2, jng emosi.

saya sedih melihat anak-anak Tuhan memperdebatkan soal baptisan, bahkan cenderung menghakimi orang lain dan membenarkan aliran sendir. mari kita saling menghargai orang lain seperti Tuhan menghargai kita, tidak usah kita mengklaim bahwa sorga itu hanya milik aliran tertentu tapi mari kita mengaku pada Tuhan: Bapa ampuni aku orang berdosa ini aku tidak layak disebut anakMu karena, kejahatan kesombongan keanggkuan yang hamba perbuat.amin

Bg Nababan
saya berharap jgnlah pula abg mgatakan yg mbritahukan kebenaran firman Tuhan adlh mghakimi.memberitahu sesuai dgn firman Tuhan itu namanya bukan mghakimi bg..yah klo abg sdh mendengar n mbaca,tapi abg tetep pd keyakinan baptis percik, tdk ada yg boleh memaksa abg. dan jgnlah pula krna kita mbahas baptisan,abg berkata bhwa seolah2 sorga ada yg mgklaim milik kelompok sendiri2.. Tak ada firman Tuhan mgatakan begitu bg dan tak ada yg mgklaim begitu disini bg…mohon dikoreksi didalam kasih.. Gbu all

Babtisan? kn ud jelas dr penjelasan diatas, babtisan adlh sbg simbol penyerahan dan berbakti, jd jgn lg dpermasalahkn jenis babtisannya krn semua tergantung kondisi dan situasi, tdk ad yg terikat kecuali hatimu dng Tuhanmu, cara adlh keanekaragaman dan bkn perbedaan, krn babtisan hrs mlht kndsi, jk ad byk air y gpp babtis selam, jk dkit air kyk diarab gpp babtis percik atw pn lainya, krn itu bkn aturan yg mjd taurat, dan hal yg pntg adlh bhwa dibabtis ckup sekali dan ketika ada babtisan ulang maka itu adalah dosa……………

@chandra
bro,udah baca imamat10:1-2 tentang kisah nadab dan abihu?
Tlg bro baca dan apakah mnrt bro adakah korelasinya dgn topik ini? Dan apakah mnrt bro baptis percik sesuai dgn firman tuhan? Gbu

semua gereja benar adanya selama mereka masih percaya pada ALLAH , ANAK dan ROH KUDUS. tentang bagaimana cara baptisan entah itu percik dan selam tergantung kita masing2. yang penting seperti yg terdapat dalam efesus 4:5. karena kalau kita di baptis ulang atau 2 kali brarti kita tdk mengakui baptisan pertama yg dilakukan dalam nama BAPA , ANAK dan ROH KUDUS. saya sendiri bingung , karena saya diminta baptis ulang ttpi biarlah kuasa dan kehendak Tuhan yg bekerja , jgn kehendak saya .

I personally would like to book mark this specific posting,
“Asal Mula Baptisan Percik Ps Bobby personal blog” on my personal
site. Would you mind if perhaps Ido it? Thanks a lot -Cornelius

No, I don’t mind bro Cornelius.
Blessings

Yesus adalah penggenapan segala Hukum Taurat,, Yesus dibabtis air(babtisan Yohanes) bukan sebagai pertobatan,, karena Yesus tidak berdosa..tetapi kita yang sudah dibabtis dalam Nama Bapa Anak dan Roh Kudus,, (bukan air) telah turut dibabtis dalam kematian dan kebangkitannya,, apakah babtisan api adalah kita harus dibakar?

jadi kita dimateraikan bukan dengan air …tetapi dalam nama di atas segala Nama.. Nama yang ajaib Nama Yesus..

Cara Pembaptisan
Tentang cara pembaptisan (selam maupun percik), masing-masing pendukung memiliki berbagai alasan sebagai dasar acuan untuk menerapkan salah satu cara tersebut. Di bawah ini akan dikemukakan alasan-alasan mengapa metode baptisan percik yang dipraktekkan di GKA Gloria:

1. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa baptisan air adalah suatu tanda kelihatan dari karya Roh Kudus yang tidak kelihatan, yakni pekerjaan-Nya melahir-barukan orang berdosa. Baptisan air melambangkan baptisan Roh Kudus. Dalam Alkitab, air adalah simbol untuk melukiskan Roh Kudus (Yoh. 7:38-39). Air berfungsi untuk menyucikan, membasuh dan membersihkan sehingga noda dan kotoran menjadi hilang. Dengan demikian, maka baptisan air adalah lambang yang tepat untuk menyatakan baptisan Roh Kudus.
Alkitab juga mencatat bahwa karya Roh Kudus dalam kehidupan manusia selalu digambarkan sebagai ‘turun dari atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’. Nabi Yoel yang bernubuat tentang hari Pentakosta, melukiskan bahwa pada hari itu Roh Allah akan dicurahkan ke atas manusia (Yoel 2:28-29). Ketika para rasul mengalami penggenapan nubuat ini, mereka semua dihinggapi oleh “lidah-lidah seperti nyala api” (simbol dari Roh Kudus) yang turun dari langit (Kis. 2:2-4). Pada saat Tuhan Yesus menerima baptisan air dari Yohanes maka segera setelah itu, Roh Kudus turun ke atas diri-Nya dalam bentuk burung merpati (Mat. 3:16, Mark. 1:10, Luk. 21-22). Peristiwa di rumah Kornelius juga menyaksikan hal yang sama. Saat Petrus sedang memberitakan firman Tuhan, “turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.” (Kis. 10:44, 11:15).
Gerakan ‘turun ke atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’ adalah suatu pola kerja Roh Kudus dalam membaptis orang percaya. Karena itu, “Jika pencurahan Roh Kudus ke atas orang-orang itu adalah merupakan penetapan baptisan Roh Kudus, bukankah baptisan air sangat tepat dilambangkan dengan pencurahan air ke atas orang percaya?” (09) Jadi, alasan kita menjalankan baptisan percik adalah karena berdasarkan metode kerja dari Roh Kudus sendiri.

2. Para penganut baptisan selam berkeyakinan bahwa kata Yunani untuk membaptis yaitu “baptizw” (baptizo) atau kata infinitive-nya “baptizein” (baptizein) selalu bermakna utama mencelupkan atau menenggelamkan ke dalam air. Berlandaskan arti hurufiah kata ini, mereka sangat menekankan bahwa makna literal ini dengan sendirinya sudah menunjukkan cara baptisan yang tidak lain adalah dengan diselamkan.
Apakah benar demikian (makna menentukan cara)? Pertama, yang harus diingat adalah arti kata “baptizw” dan “baptizein” tidak bersifat “single-meaning” melainkan “multy-meanings”. Selain, ‘mencelupkan’ kata-kata ini bisa juga mengandung arti as ‘to wash’, ‘to bathe’, and ‘to purify by washing’. (10) Karena tidak bersifat “single-meaning” maka jika kelompok yang memegang baptisan selam telah memakai salah satu maknanya yaitu ‘mencelupkan’ untuk dijadikan penentu metode baptisan, maka golongan yang melaksanakan baptisan percik juga berhak mengambil makna lain dari kata ini (yaitu ‘to wash’ atau ‘to purify by washing’) untuk dipakai sebagai penentu cara baptisan.
Pada intinya, arti dari kata “baptizw“ dan “baptizein” tidak bisa menjadi argumentasi yang definitif untuk menentukan satu-satunya cara yang sah dalam pembaptisan. Fakta adanya aneka-arti untuk kata “baptizw“ dan “baptizein” menyatakan bahwa tidaklah memadai jika cara baptisan ditentukan hanya berdasarkan makna literal dari kata aslinya. Kedua, pada beberapa bagian Alkitab, kata “baptizw“ atau “baptizein” yang dipakai sangat jelas tidak mengandung arti menenggelamkan atau mencelupkan. Misalnya, Mark. 7:4, kata yang diterjemahkan oleh LAI sebagai “membersihkan dirinya” dalam bahasa Yunaninya adalah membaptis. Apakah setiap kali orang Farisi pulang dari pasar mereka pasti menenggelamkan dirinya ke dalam air? Tentu saja tidak. (11) Dalam Luk. 11:38 tercatat bahwa orang Farisi menjadi heran karena “Jesus did not first wash before the meal” (NIV). Terjemahan “wash” dalam bahasa Inggris ini adalah berdasarkan kata “membaptis” dalam bahasa Yunaninya.
Tentang ayat ini, Robert Rayburn berkomentar, “Dapatkah seseorang menjadi sedemikian bodoh dengan menganggap bahwa Yesus diharapkan menyelamkan diri-Nya sendiri secara keseluruhan ke dalam air setiap kali sebelum makan?” (12) Jadi, pada kedua bagian Alkitab ini, kata membaptis tidak dapat dipahami dengan pengertian hurufiah (mencelup, menenggelamkan) melainkan harus dimengerti secara simbolis yaitu pembasuhan, pembersihan atau penyucian. Ritual penyucian dalam Perjanjian Lama umumnya dilakukan dengan cara pemercikan darah (Ibr. 9:18-22). Sebab itu, penyucian yang dilakukan oleh Roh Kudus terhadap manusia berdosa dapat dilambangkan dengan cara baptisan secara percik.
Ketiga, dalam 1 Kor. 10:1-2, Paulus menulis bahwa umat Israel yang keluar dari tanah perbudakan Mesir adalah mereka yang telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Jelas yang dialami bangsa Israel dalam peristiwa ini adalah mereka berjalan melewati tanah kering. Jika dikatakan mereka telah dibaptis dalam lautan, kemungkinannya adalah mereka hanya terkena percikan air laut yang telah menjadi ‘tembok air’ di sebelah kanan dan kiri mereka (Kel. 14:21-22). Percikan air bisa terjadi karena angin yang menerpa ‘tembok air’ tersebut. Justru yang ditenggelamkan dalam air laut bukan bangsa Israel melainkan bangsa Mesir. (13) Berdasarkan realita sejarah umat Israel yang sudah dibaptis dalam laut namun sama sekali tidak dicelupkan atau ditenggelamkan melainkan kemungkinan besar hanya terkena percikan air laut, maka bisa dinyatakan bahwa sakramen baptisan dapat dilakukan dengan cara dipercik.

3. Pada umumnya kelompok yang melaksanakan baptisan selam berpendapat bahwa metode ini berdasarkan cara baptisan yang diterima Kristus. Karena Dia dibaptis secara selam maka pengikutnya harus mengikuti cara yang sama. Catatan Kitab Suci bahwa Yesus ‘keluar dari air’ (Mat. 3:16, Mark. 1:10) menjadi bukti tentang pembaptisan Kristus dengan cara diselam. ‘Keluar dari air’ berarti sebelumnya Ia masuk ke dalam air, lalu diselamkan dan muncul lagi ke atas permukaan air.
Sebenarnya, perkataan ‘keluar dari air’ (dari kata preposisi Yunani ‘apo’) ini tidak dengan sendirinya menunjukkan cara baptisan selam. ’Yesus keluar dari air’ tidak harus menyembul dari permukaan air, bisa juga naik dari dasar sungai ke tepian sungai/darat.” (14) Bisa jadi, Yesus hanya menjejakkan kakinya ke dalam sungai Yordan, lalu dengan posisi berdiri Yohanes Pembaptis mengambil air dan mencurahkannya ke atas kepala Kristus, kemudian Ia keluar dari air dan menginjakkan kaki-Nya di tepian sungai.
Bisa juga ada kemungkinan lain, Robert Rayburn berkata, “Sekalipun Yohanes dan mereka yang dibaptis hanya berada di paling tepi dari aliran air itu, dan tidak pernah meletakkan kaki mereka di dalamnya, ekspresi Yunani yang diterjemahkan dengan kata ‘keluar dari air’ masih tetap bisa dipakai. Itu berarti bahwa mereka pergi dari air itu.” (15) Singkatnya, kata ‘keluar dari air’ tidak dapat jadi alasan yang mutlak benar tentang cara selam sebagai metode pembaptisan yang sah.
Mungkinkah Yesus dibaptis secara percik? Dalam kehidupan dan pelayanan-Nya, Yesus memegang 3 jabatan yakni sebagai Nabi, Imam dan Raja. Menurut Robert Rayburn, selaku seorang Imam, Kristus mentaati peraturan tentang keimaman yang telah ditentukan dalam Perjanjian Lama. Peraturan ini bersangkut paut dengan proses pentahbisan yang dilakukan secara percik.
Orang Lewi adalah suku imamat. Kita dapat melihat ini dalam Bil. 4:3, 23, 30 dan 35, bahwa usia 30 tahun merupakan usia dari pengkhususan dan penyucian bagi seorang Lewi untuk tugas keimamannya. Kristus datang kepada Yohanes untuk dibaptiskan pada usia 30 tahun. Kemudian dalam Bil. 8:7 akan ditemukan bahwa petunjuk selanjutnya dari Allah kepada Musa berkenaan dengan pengkhususan orang Lewi: “Beginilah harus kau lakukan kepada mereka untuk mentahirkan mereka: percikkanlah kepada mereka air penghapus dosa.” (16) Tidak perlu diragukan lagi ini merupakan perintah yang benar dari Tuhan dan digenapi di dalam baptisan Kristus. Ia telah memberikan perintah ini kepada Musa. Kita boleh yakin bahwa Ia menggenapkannya di dalam diri-Nya sendiri. (17)

4. Teks Alkitab lainnya yang dipakai untuk mendukung metode baptisan selam adalah Yoh. 3:23. Dikatakan pada bagian ini bahwa Yohanes membaptis di dekat Salim ‘sebab disitu banyak air.’ Kata banyak air ini dianggap sebagai indikasi tentang baptisan selam (yang memang memerlukan banyak air). Tetapi benarkah demikian? Robert Rayburn berpendapat bahwa sebenarnya itu tidak dimaksudkan demikian. Karena kata aslinya bukan mengatakan ‘banyak air’ tetapi lebih tepat ‘beberapa air’ atau ‘beberapa mata air’. (Lagi pula) jarang sekali seseorang dapat menemukan sebuah mata air yang sedemikian besar untuk melakukan upacara baptisan selam…” (18)
Apakah Yohanes menjalankan baptisan selam? Menurut Mat. 3:5 “maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.” Ada yang memperkirakan dua juta jiwa yang dibaptis oleh Yohanes. Mungkin perkiraan ini terlalu banyak.
Rayburn menyatakan, kebanyakan orang yang konservatif memperkirakan angka-angka sekitar lebih dari seratus ribu orang. Dan semua pembaptisan ini terjadi dalam satu setengah tahun! Sama sekali lepas dari pembuktian Alkitab, akal sehat akan menuntut bahwa jumlah sedemikian banyak adalah di luar kemampuan seseorang untuk membaptis selam – itu berarti lebih dari dua ribu baptisan selam setiap hari! Ia akan menghabiskan seluruh hari setiap hari berdiri di dalam air, untuk waktu selama satu setengah tahun. (19)
Pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh Rayburn ini memberi penjelasan alternatif bahwa Yoh. 3:23 dan pembaptisan yang dikerjakan Yohanes tidak harus mendukung cara baptisan selam.

5. Sering juga diajukan bahwa baptisan terhadap sida-sida dari Etiopia adalah secara selam karena dikatakan “…keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia… dan…mereka keluar dari air” (Kis. 8:38-39). Argumentasi ini sangat menitikberatkan pada kata depan ‘(turun) ke dalam’ dan ‘keluar dari’. Pemakaian kata depan ini diyakini merupakan petunjuk mengenai cara baptisan.
Memperhatikan dengan teliti ayat ini, akan terlihat bahwa preposisi “eis” (ke dalam) diterapkan baik kepada Filipus maupun sida-sida Etiopia itu. Bila benar bahwa penggunaan “eis” adalah untuk mengindikasikan cara baptisan, maka konsekuensi logisnya akan membuat pembaptis dan yang dibaptis sama-sama terselam atau tercelup ke dalam air. (20)
Jelas hal ini tidak masuk akal. Lagi pula, dalam perjalanan itu, mereka sedang berada di tengah padang gurun. Apakah mungkin di daerah demikian ada sumber air seperti kolam yang cukup dalam untuk melakukan baptisan selam? Begitu juga penggunaan kata depan “eik” (keluar dari) tidak memberi pengertian tentang keluar dari permukaan air. Kata depan ini bisa berarti ‘pergi menjauh dari air.’ (21)
Peristiwa pembaptisan sida-sida Etiopia ini sama sekali tidak menjelaskan tentang cara baptisan baik selam ataupun percik. Jika mau menarik kesimpulan berdasarkan asumsi mengenai cara baptisan, nampaknya lebih masuk akal untuk menerima bahwa Filipus melakukan baptisan percik.

6. Pemegang baptisan selam selalu memakai perkataan rasul Paulus tentang dibaptis ke dalam kematian kristus, dikuburkan dan bangkit bersama-Nya (Rom. 6:3-4, Kol. 2:12) sebagai petunjuk eksplisit bertalian dengan cara pembaptisan. Ketika orang yang menerima sakramen baptisan diselamkan ke dalam air itu melambangkan kematian dan penguburannya bersama Kristus. Dan pada waktu ia muncul kembali dari dalam air, itu menandakan kebangkitannya dengan Kristus. Jadi, baptisan selamlah yang dipercayai sebagai simbol yang sangat cocok untuk melukiskan kebenaran yang dikatakan Paulus.
Pada hakekatnya teks dari Rom. 6:3-4 dan Kol. 2:12 ini tidak berbicara tentang metode pembaptisan. Yang dibahas adalah penyucian hidup orang percaya dari kuasa dosa. Karena orang percaya itu secara de jure sudah disalibkan bersama dengan Kristus, maka pada saat kini secara de facto ia harus menjalani kehidupan dengan tidak lagi membiarkan manusia lama berkuasa atas dirinya. Ia mesti mengalami “penanggalan akan tubuh yang berdosa” (Kol. 2:11). Ia harus hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus yang akan memampukannya untuk mengalahkan kuasa dosa. Roma 6 dan Kolose 2 harus dibaca keseluruhan perikopnya supaya inti beritanya dapat dipahami dengan jelas.
Mengenai baptisan selam sebagai simbol yang tepat untuk menggambarkan kematian dan kebangkitan orang percaya bersama Kristus; kita dapat melihat, justru sebetulnya fakta penguburan Kristus akan menolak perlambangan dari simbol baptisan selam. Kita harus ingat bahwa tubuh Kristus tidak dikuburkan dengan cara ditanam atau dimasukkan ke bawah permukaan tanah. Tubuh-Nya dibaringkan dalam kuburan batu yang berada di atas permukaan tanah. Jika demikian, di mana letak paralelnya dengan proses baptisan selam?
Orang yang diselamkan adalah orang yang bergerak ke bawah permukaan air lalu muncul lagi ke permukaan. Penguburan dan kebangkitan Kristus tidak seperti ini, Ia berada terus di atas permukaan. Pemahaman ini kiranya dapat menyadarkan kita untuk tidak membangun teori tentang metode baptisan dengan berlandaskan ayat-ayat yang ‘silent’ terhadap masalah tersebut

7. Pada hari Pentakosta, terjadi pertobatan massal sebagai respon terhadap khotbah yang diberitakan oleh rasul Petrus. Ada 3.000 orang bertobat dan pada hari itu juga mereka dibaptiskan (Kis. 2:41). Mungkinkah 12 rasul yang ada bisa membaptis orang percaya sebanyak ini dalam satu hari? “Tidak cukup fasilitas untuk membaptis selam 3.000 orang pada hari itu di Yerusalem. Di Yerusalem tidak cukup air untuk membaptis semua ukuran orang. Bahkan dengan hanya 12 rasul yang membaptis, tidak cukup waktu untuk melakukan baptisan selam.” (22)

8. Di samping ke tujuh point pertimbangan di atas, masih ada lagi beberapa alasan praktis yang akan lebih mendukung pelaksanaan baptisan percik:
• Bagaimana membaptis orang yang sedang dalam kondisi sakit parah (tidak bisa bangun, kesadaran yang kadang ada kadang tidak?) Tentu akan sangat menyulitkan atau hampir tidak mungkin bila orang sakit harus dibaptis dengan cara selam. Jadi, baptisan selam terbukti tidak efektif untuk orang sakit.
• Bagaimana membaptis orang yang ada di daerah yang sangat dingin, di kutub misalnya (yang suhunya minus di bawah 0 derajat)? Jika selam adalah satu-satunya cara baptisan yang sah, maka orang percaya di daerah demikian kemungkinan besar tidak akan menerima baptisan.
• Bagaimana membaptis wanita yang sedang mengalami menstruasi bila ia harus diselamkan? Keadaan ini tidak akan menjadi masalah kalau dijalankan baptisan secara percik. (23)
• Bagaimana membaptis orang yang ada di daerah yang sangat sulit mendapatkan air? Pemutlakan baptisan selam yang membutuhkan begitu banyak air akan menjadi penghalang dalam menggenapi perintah Tuhan Yesus?

Kesimpulan
• Alkitab tidak pernah berbicara tentang cara pembaptisan. Sebab itu, tidak boleh ada satu cara yang dimutlakkan (baik selam atau percik atau pencurahan) dan tidak perlu ada klaim mengenai satu-satunya cara yang sah dalam menjalankan baptisan.
• Kita harus mengakui bahwa makna baptisan jauh lebih penting dari pada caranya. Persetujuan terhadap statement ini akan menghadirkan sikap yang tolerir (bisa menerima) terhadap cara apa pun yang diterapkan, asal saja baptisan itu memakai unsur air dan dilakukan dalam nama Allah Tri Tunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19).
• Baptisan air adalah simbol atau tanda kelihatan dari baptisan Roh Kudus yang tidak kelihatan, di mana Ia berkarya melahirkan kembali orang berdosa secara rohani sehingga membuatnya menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Setiap orang yang memiliki pengalaman lahir baru, bertobat dan beriman adalah orang yang telah dibaptis oleh Roh Kudus. Selain menjadi tanda, baptisan air yang diterima dengan iman akan berfungsi sebagai meterai yang menyatakan kehadiran Roh Kudus yang memberikan jaminan keselamatan.
• Studi kata Yunani tentang baptisan (baptizo, baptizein) dan kata depan yang mengikutinya (apo, eis dan eik) tidak membawa kepada kesimpulan yang conclusive tentang metode baptisan selam. Sebab itu jangan menganggap bahwa cara ini lebih Alkitabiah dibandingkan dengan cara yang lain.
• Baptisan sebagai sakramen sama sekali tidak menyelamatkan. Seseorang diselamatkan Allah bukan karena dia sudah dibaptis. Namun sebaliknya, justru karena ia telah terlebih dahulu diselamatkan oleh Allah melalui anugerah-Nya yang diresponi dengan iman semata, maka baptisan menjadi suatu ‘public testimony’ (kesaksian di hadapan umum) tentang keselamatan yang telah ia miliki di dalam Kristus. •

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 305,626 hits

visitors

Readers

tracker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: