Ps Bobby Butar Butar blog

Perkawinan antar suku/ras

Posted on: April 30, 2008

PERKAWINAN ANTAR SUKU/RAS


“Gue bingung nih. Si Ucok maunya pesta kawin kami diadakan di kampungnya. Padahal gue kan interracialmaunya di sini aja. Apa sih bedanya. Yang penting khan menikah,” urai Tanty. Jeffry mengeluh, “Aku bingung sama ortunya Ling-Ling. Masa kami dilarang pacaran hanya karena gue bukan Cina. Padahal kami udah saling cinta.” Di tempat lain, Olivia sedang bingung karena orangtuanya menolak Frederick, hanya karena ia seorang asing. Padahal mereka sudah dua tahun berpacaran.

Perbedaan warna kulit telah membuat perpisahan dan perbedaan antar umat manusia sejak masa yang sangat lama. Prasangka-prasangka suku maupun ras telah begitu mendunia bagaikan penyakit menular yang sangat berbahaya, bahkan sampai hari ini. Perbedaan kulit antara hitam dan putih pernah membuat Amerika Serikat hancur dalam perang saudara berkepanjangan pada beberapa abad yang silam. Konflik-konflik antar suku di Indonesia masih seringkali kita lihat seperti di Kalimantan yang baru lalu. Kalau begitu bagaimana dengan perkawinan antar suku atau ras? Dapatkah cinta menghancurkan tembok-tembok pemisah itu? Apakah pandangan Alkitab mengenai perkawinan beda suku ataupun warna kulit tersebut?

Beberapa orang berpandangan bahwa perkawinan antar ras sesungguhnya telah dilarang Allah. Mereka mengatakan bahwa perkawinan antara Israel dengan orang asing (beda kultur maupun warna kulit) dilarang dalam kitab Perjanjian Lama. Pandangan yang bersifat rasis ini tidaklah Alkitabiah. Memang Alkitab melarang anak-anak Israel kawin dengan bangsa-bangsa asing, namun larangan itu bukan karena alasan suku maupun kulit, tetapi lebih karena Israel adalah orang percaya, sementara bangsa-bangsa asing tersebut merupakan penyembah-penyembah berhala atau orang yang tidak percaya (Ulangan 7:3-4). Raja Salomo dicela bukan karena ia menikahi wanita-wanita asing, namun karena wanita-wanita asing tersebut adalah penyembah-penyembah berhala, sementara Salomo sendiri adalah Raja dari kerajaan yang ber-Tuhankan YHWH. Perjanjian Lama bahkan tidak membedakan perlakuan antara orang Israel asli dengan orang-orang asing yang menetap bersama umat Israel (Keluaran 12:48-49). Belum lagi dengan Rut, ia adalah orang asing, namun diterima Allah, bahkan menjadi nenek moyang biologis dari Yesus (Matius 1:5).

Bagaimanakah pandangan Perjanjian Baru? Dalam I Korintus 6:14-16, kita melihat bahwa Paulus hanya melarang perkawinan antara orang Kristen dan non-Kristen, bukan antar suku maupun ras. Jadi, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak melarang adanya perkawinan campuran. Larangan hanya berlaku jika orang percaya/Kristen kawin dengan orang yang tidak percaya/non-Kristen.

Kita patut bersyukur memiliki Allah yang penilaiannya tidak berdasarkan apa yang kelihatan saja, namun lebih melihat pada hati manusia itu sendiri dan tidak pernah membedakan orang (Kis 10:34). Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, termasuk perbedaan suku, bangsa, maupun warna kulit. Kita semua berasal dari pria dan wanita yang pertama, yaitu Adam dan Hawa. Perjanjian Allah dan Abraham pun mencakup semua bangsa, tatkala ia mengatakan bahwa oleh Abraham semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej 12:1-4). Para nabi dalam Perjanjian Lama merindukan bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain akan datang ke hadirat Tuhan bersama-sama, tatkala Mesias itu telah menerangi bangsa-bangsa sama seperti umat Yahudi, tatkala Allah mencurahkan Roh-Nya atas semua manusia dari segala bangsa (Mzm 2:7-8, 22:27-28; Yes 2:1-4; Yoel 2:28). Kerinduan para nabi itu terwujud dalam kedatangan Yesus Kristus.

Dalam suratnya, rasul Paulus mengatakan bahwa di dalam Kristus, tidak ada lagi halangan dan perbedaan antara Yahudi dan bukan Yahudi, orang merdeka dan hamba, pria dan wanita (gal 3:16); antara orang bersunat maupun tidak, orang Barbar atau orang Skit (Kol 3:11) karena semua milik Kristus, adalah juga keturunan Abraham sehingga berhak menerima janji Allah.

Kita telah melihat bahwa tidak ada larangan atau hambatan dari Allah berkenaan dengan perkawinan antar suku maupun ras. Kita juga telah membaca bahwa rencana berkat dan keselamatan Allah berlaku untuk semua orang dari segala suku, bangsa, kaum dan bahasa.

Sebagai kesimpulan akhir ada beberapa point yang dapat menjadi bahan perenungan kita bersama. Bagi kamu yang hendak merencanakan menikah dengan orang yang berbeda suku maupun ras, ada konsekuensi-konsekuensi yang harus diperhatikan. Pertama, pasti ada suara ketidaksetujuan entah dari orangtua, maupun dari keluarga besar. Kedua, dalam perkawinan antar suku maupun ras, ada perbedaan-perbedaan adat maupun kebiasaan yang harus diatasi. Seringkali adaptasi dalam perkawinan antar suku/budaya lebih sukar daripada perkawinan antar ras.

Oleh karena itu, kebiasaan-kebiasaan adat, maupun lainnya harus dapat diatasi bersama. Usahakan untuk dapat saling memahami budaya masing-masing dan menyesuaikan diri selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Terakhir, seperti kata orang-orang bijak, ketika kamu menikahi seseorang, sesungguhnya kamu menikah dengan seluruh keluarganya juga. Untuk itu, bagi kamu yang hendak menikah dengan kekasih yang beda suku maupun ras, harus mempersiapkan diri untuk dapat beradaptasi dan menghadapi sikap seluruh keluarga besarnya, baik yang mendukung maupun menolak hubungan kalian. Jangan lupa mintalah pertolongan Tuhan dalam doamu, supaya Dia memberkati dan menolong hubungan yang sedang dijalin itu sampai ke gerbang perkawinan.

About these ads

3 Tanggapan to "Perkawinan antar suku/ras"

aku sekarang juga sedang mengalami hubungan dengan beda suku, aku sendiri seorang chinese dan calon ku yang mungkin jadi pasangan hidupku nanti dari suku batak. kita sudah berproses salam 2 tahun untuk bisa saling mengenal satu sama lain melalui proses proses pelayanan kami di gereja, saat ini hubungan kami menjadi jauh lebih transparan dengan orang tua kami masing masing. namun tetap saja ada beberapa kalangan dari keluarga maupun gereja yang memberikan respon yang kurang baik dengan hubungan kita, saat ini kita hanya berteguh untuk saling menjalani proses yang benar dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis…terkhususnya dengan yang berbeda suku. memang semua nya terasa lebih berat dibandingkan dengan hubungan lawan jenis dengan yang sesama suku, tapi saya percaya ini sebuah harga yang harus kita bayar untuk bisa menunjukan pada orang tua kita masing masing bahwa kita bisa melelui nya dengan ujian waktu

@ Eva
Good luck Eva..
God be with you both..

Saya gadis chinese yg mencintai laki-laki dr suku batak. Keluargaku telah menerima segala kelebihan dan kekurangan dr pacarku. Tapi masalah datang dari keluarga laki-laki yang memegang teguh adat istiadat batak dan menginginkan menantu dari suku batak juga. Sekarang saya bingung harus bagaimana karena orang tuanya masih belum bisa terima saya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 332,956 hits

visitors

Readers

tracker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: