Ps Bobby Butar Butar blog

Menjadi Pemimpin Kristen

Posted on: April 24, 2008

Menjadi Pemimpin Kristen

Penulis: Ps Bobby MTh

Pendahuluan

John Stott mengatakan bahwa dunia masa kini ditandai oleh kelangkaan pemimpin gereja yang berkualitas. Kita dihadapkan kepada problema-sheepproblema yang berat. Banyak orang yang memperingatkan akan bahaya yang bakal menimpa dunia, terutama umat Kristen, tetapi hanya sedikit orang yang menawarkan cara-cara penangkalannya. Ketrampilan dan pengetahuan kita berlebihan, tetapi kurang dalam hikmat dan kearifan. Dengan meminjam metafora Tuhan Yesus, kita ini bagaikan “kawanan domba tanpa gembala” sementara para pemimpin seringkali tampil seperti “si buta yang memimpin orang buta”.

Umat Tuhan sedang mengalami kekurangan pemimpin yang berkualitas gembala seperti yang ada pada diri Kristus. Dan kurangnya kepemimpinan diantara orang-orang Kristen adalah krisis yang paling gawat dari semua. Pengaruh kesalehan masyarakat Kristenlah yang menahan lajunya kuasa kejahatan di kota-kota dan bangsa-bangsa. Kurangnya para pemimpin Kristen yang rohani, efektif dan kuat sangat melemahkan kesanggupan kita untuk bertahan melawan kekuatan si jahat.

Ketika berbicara tentang asal mula pemimpin biasanya selalu berkiblat pada tiga pandangan. Ada yang mengatakan pemimpin itu dilahirkan, ada juga yang mengemukakan teori bahwa pemimpin itu dibentuk dan teori ketiga (Great event theory) yang mengatakan bahwa pemimpin itu terbentuk oleh situasi dan kondisi khusus yang menekan, namun dari tekanan masalah itu akan keluar kualitas kepemimpinan seseorang. Saya percaya, pemimpin ada yang dilahirkan dengan bakat luar biasa. Namun pemimpin yang efektif adalah orang yang bersedia digembleng dan dilatih Tuhan melalui berbagai proses kehidupan maupun pembelajaran.

Shakespeare pernah mengatakan, “Ada yang besar karena dilahirkan besar, ada yang besar karena usaha sendiri, tapi ada juga yang besar karena dipaksa oleh keadaan”. Buku-buku manajemen selalu berbicara tentang kualitas dasar pemimpin yang alami, artinya tentang pria dan wanita yang memiliki intelektual, watak dan kepribadian yang kuat sebagai bawaan. Dan berkaitan dengan kepemimpinan Kristiani, dapat ditambahkan “suatu perpaduan antara kualitas alami dan kualitas spiritual,” atau dengan kata lain kepemimpinan Kristen adalah perpaduan antara bakat alami dan pemberian spiritual. Tidak cukup sampai disitu, kepemimpinan yang potensial harus dipupuk dan dikembangkan.

Teladan Kepemimpinan Tuhan Yesus & rasul Paulus

Yesus menunjukkan teladan kepemimpinan dengan jalan menjadi panutan, memberikan teladan kehidupan ketimbang memberikan perintah dan aturan-aturan yang memaksa. Ia senantiasa menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas. Tidak ada kesalahan maupun kejahatan di dalam hidup-Nya. Hidup-Nya transparan, semua orang dapat menilai dan menganalisa diri-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Yesus juga bukan hanya sekedar melalui kata-kata, namun juga disertai dengan hikmat dan wibawa ilahi.

Hal inilah yang harus diperhatikan setiap orang yang ingin meniru teladan kepemimpinan Yesus. Menjadi seorang pemimpin, baik dalam kehidupan diri sendiri, keluarga, masyarakat, gereja dan lingkungan lainnya dimana kita berada, harus memiliki kuasa, hikmat dan penyertaan Tuhan. Dengan demikian maka akan dapat mencapai kesuksesan didalam memimpin.

Salah satu peranan utama dari seorang pemimpin adalah menunjukkan teladan yang baik dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya. Paulus adalah seorang pemimpin besar dari gereja Tuhan di abad pertama. Dalam kitab 1 Korintus 11:1 ia menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Ia berhasil memultiplikasikan kepemimpinannya dengan mencetak pemimpin-pemimpin baru yang handal. Ia berhasil mendidik Timotius menjadi pemimpin dan gembala yang handal. Timotius pun kemudian menghasilkan pemimpin-pemimpin baru di dalam gereja yang digembalakannya.

Multiplikasi Pemimpin

Pertumbuhan dan perluasan kekeristenan terjadi sesuai dengan tersedianya para pemimpin yang berhasil guna. Myron Rush seorang pakar kepemimpinan Kristen terkemuka menceritakan pengalaman seorang rekan gembalanya.

Ted Grant ialah seorang gembala jemaat dari sebuah gereja besar, dinamis dan berkembang pesat di barat-daya Amerika Serikat. Namun ketika saya untuk pertama kalinya menjumpai Ted beberapa tahun lalu, gerejanya menghadapi berbagai masalah dan bergumul untuk mempertahankan kehadiran sekitar dua ratus jemaat pada kebaktian hari Minggu pagi. Gerejanya juga terlibat utang yang besar. Pertama kali saya bertemu Ted pada waktu seminar manajemen yang saya selenggarakan untuk para gembala jemaat dan pemimpin gereja di daerahnya.

Pada waktu itu Ted adalah seorang gembala sidang yang sedang mengalami frustasi. Karena ia merasa saya seorang luar yang dapat dipercayainya, ia menumpahkan isi hatinya kepada saya mengenai masalah untuk mendapatkan pemimpin-pemimpin yang memenuhi syarat di dalam gerejanya. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia mengalami kesukaran menerima calon-calon baru untuk memimpin gereja cabang, pimpinan departemen, anggota dewan pengurus/majelis, dan jabatan-jabatan puncak lainnya di dalam gerejanya. Selama percakapan berlangsung Ted mengatakan ‘Tampaknya saya tak dapat menemukan seseorang yang ingin berbuat sesuatu kecuali hanya duduk di kursi gereja dan menonton selagi beberapa orang dari kami melaksanakan seluruh pekerjaan.Tidaklah mengherankan bila kita mempunyai masalah. Tidaklah mungkin untuk membina sebuah gereja yang kuat tanpa adanya para pemimpin’.

Tahun lalu saya mendapat kehormatan untuk mengunjungi gereja yang dipimpin oleh Ted. Gereja itu sungguh telah jauh berbeda dari yang telah disebutkannya beberapa tahun sebelumnya. Mereka baru saja menyelesaikan tempat kebaktian yang baru dan merencanakan sebuah bangunan untuk pendidikan. Lebih dari 3000 orang menghadiri dua kebaktian pagi setiap hari Minggu. Dan departemen Misi Penginjilan mempunyai anggaran hampir 1 juta dollar AS. Setelah kebaktian berakhir saya mempunyai kesempatan untuk berbincang-bincang lama dengan Ted dan menanyakan kunci keberhasilan pertumbuhan gerejanya itu.

Ia mengatakan bahwa sejak perjumpaan dengan saya ia mulai mengadakan program pelatihan kepemimpinan di gereja. Ia dan timnya mengajar orang-orang cara untuk menjadi pemimpin sebelum mengharapkan mereka mencalonkan diri dengan sukarela untuk memegang peranan sebagai pemimpin.

Ted menjelaskan bahwa acara latihan kepemimpinan telah mencapai sesuatu yang oleh kotbah bertahun-tahun gagal untuk diperoleh. ‘Begitu kami mulai melatih anggota-anggota gereja kami tentang cara memimpin, cara mengajar dan cara mereproduksi diri mereka pada orang lain, maka kami tidak mempunyai masalah lagi untuk menemukan orang-orang yang memenuhi syarat kepemimpinan yang diperlukan oleh gereja. Sebenarnya kami telah melatih sedemikian banyak pemimpin dalam gereja kami sehingga kami telah mulai mendirikan sebuah gereja pendamping yang baru demi mempekerjakan semua tenaga pemimpin yang berlebihan itu’.

Mendengarkan pembicaraan Ted pada hari itu mengingatkan saya pada pentingnya peranan para pemimpin dalam keberhasilan dari organisasi apapun. Tanpa kepemimpinan yang tepat, maka gereja Ted bergumul untuk mempertahankan kelanjutan hidupnya, tetapi begitu mereka mulai membina para pemimpin yang efektif atau berhasil-guna maka gerejanya menjadi sebuah organisasi yang sangat berhasil. Melatih para pemimpin yang berhasil adalah rahasia keberhasilan mereka.”

Kualifikasi Pemimpin

Dalam konsep kepemimpinan Kristiani, ada beberapa faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Faktor-faktor itu adalah:

  • Visi (sense of mission)

“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat,” demikianlah dikatakan dalam Amsal 29:18. Visi adalah tujuan, sasaran, goal, arah, wahyu, mimpi yang hendak dicapai. John Stott mengatakan bahwa visi adalah suatu ihwal melihat, mendapat persepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadu pemahaman yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan.

Musa merupakan salah satu pemimpin besar yang mengerti benar mengenai visi. Ia berjuang keras memimpin bangsanya melawan penindasan Mesir, mengarungi padang gurun selama puluhan tahun, karena ia mendapat visi yang jelas tentang “Tanah Perjanjian”.

  • Pengetahuan dan keterampilan (knowledge-skill)

Visi harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dan keterampilan. Tidak cukup bagi Musa untuk memimpikan suatu negeri yang berlimpah-limpah madu dan susunya. Ia berusaha mewujudkannya. Ia menghimpun, menyatukan dan mengatur orang Israel menjadi suatu bangsa. Ia menggunakan pengetahuan yang didapatnya selama pendidikan di Mesir dan pengalaman bersama Tuhan untuk memimpin mereka melintasi gurun yang penuh bahaya dan kesukaran sebelum akhirnya mencapai tanah Kanaan.

  • Konsistensi (Consistency)

Konsistensi merupakan salah satu kualitas kepemimpinan yang paling utama. Musa lagi-lagi merupakan teladan konsistensi yang luar biasa. Berkali-kali dalam hidupnya bangsa Israel “menggerutu” terhadap kepemimpinannya dan menentang wibawanya. Akan tetapi Musa tidak menyerah. Ia tidak lupa akan panggilan Allah kepadanya untuk memimpin bangsa itu. Ia konsisten melakukan perintah Tuhan untuk membawa bangsa itu keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan.

Yohanes pembaptis, Daniel, Daud, Yosua merupakan teladan kehidupan lainnya berkenaan dengan faktor konsistensi. Kepemimpinan mereka tidak hanya “sukses” di awal saja, namun mereka konsisten mempertahankan kualitas kerja dan kepemimpinannya sampai akhir. Konsistensi berbicara tentang ketahanan, ketekunan dan fokus yang tidak pernah berkurang atau pudar dalam meraih tujuan kepemimpinan.

  • Karakter dan Integritas  (Character and Integrity)

Kepemimpinan Kristen merupakan kepemimpinan yang berpusatkan Kristus. Tidak ada seorang manusiapun di muka bumi ini yang akan mampu menjadi pemimpin Kristen yang handal bila ia tidak lebih dulu berjumpa secara pribadi dengan Yesus dan menjadi ciptaan baru (II Korintus 5:17). Ketika seorang menghendaki untuk menjadi pemimpin yang efektif, ia harus bertumbuh secara karakter.

Lynn E. Samaan dan Dunnam, pakar kepemimpinan mengatakan, “Pemimpin Kristen menerima kehidupan Kristus dengan iman dan menerapkannya dalam komitmen, disiplin dan perilaku/perbuatan, dimana kehidupannya setiap waktu mengungkapkan Kristus yang hidup di dalamnya sebagai kesaksian kepada dunia.” Tujuan utama pengembangan karakter adalah “kualitas hidup”. Yaitu kualitas hidup rohani yang berpusatkan Kristus. Kualitas hidup ini dipengaruhi oleh pekerjaan Roh Kudus dalam semua aspek dan peristiwa hidup serta respon atau komitmen (sikap) terhadap peristiwa serta pengalaman hidup tersebut. Buah Roh akan makin terpancar dalam kehidupan sementara buah daging makin terkikis.

Salah satu karakter pemimpin Kristen yang diinginkan Yesus terlihat dalam firman-Nya, “Kamu tahu bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi…Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…(Markus 10:42-45). Panggilan kita adalah untuk melayani bukan untuk dilayani dan menguasai. Pemimpin harus melayani dan memperhatikan kebutuhan bawahannya. Memberi kesejahteraan pada mereka, sehingga bawahan akan bersemangat menopang pemimpinnya. Seperti Yesus yang mencukupi kesejahteraan murid-murid-Nya dengan menunjuk bendahara untuk mengelola keuangan. Pemimpin Kristen bukanlah pemimpin-penguasa, melainkan pemimpin-hamba. Otoritas memimpin dilakukan bukan dengan kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasif.

Integritas berbicara tentang “apa yang dikatakan sama dengan perbuatan”. Dengan kata lain, seorang pemimpin yang sukses adalah seseorang yang kehidupannya “transparan”, luar dalam sama. Dia tidak saja menjadi teladan dalam perkataan dan kepemimpinan, tetapi juga melakukan dengan tepat semua yang dikatakannya.

Banyak kasus moralitas, korupsi dsb terjadi karena para pemimpin gagal melakukan prinsip-prinsip yang diajarkannya. Mereka hanya menjadi macan kertas atau macan panggung, namun ternyata ompong dalam melakukan perkataannya.


Kesimpulan

Umat membutuhkan pemimpin yang dapat diteladani, dalam segala segi baik karakter, manajemen, pelayanan maupun mau bekerja keras untuk memimpin orang-orang. Kepemimpinan Kristen bukanlah mau memerintah, akan tetapi menjadi teladan hidup. Pemimpin sukses adalah orang yang mampu mencetak pemimpin baru, dan bukannya iri atau takut tersaingi bila bawahannya sukses.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan bawahannya. Mencukupi kebutuhan hidupnya agar mereka dapat berkonsentrasi melakukan tugas pelayanan yang dibebankan tanpa harus dipusingkan akan persoalan makan, minum, pakai. Pantang menyerah, inovatif dan terus mengembangkan diri merupakan kualitas yang harus diperhatikan juga. Dengan demikian, akan membuat pelayanan pemimpin itu semakin efektif dan berhasil mencapai visi yang ingin diraihnya.

Wujud serta kualitas pemimpin Kristen yang ideal, diharapkan terlihat dalam kenyataan berikut: Memiliki karakter Kristus (Christlike), memiliki pengetahuan yang komprehensif – kemampuan serta ketrampilan (knowledge-skill) yang bersifat sosial (hubungan dengan orang) dan teknis (yang berhubungan dengan kerja). Memiliki konsistensi dan integritas dalam hidup dan kepemimpinannya, baik kepada kepada Allah, Gereja, pengikutnya maupun diri pribadi dan dunia serta memiliki tujuan hidup yg jelas (sense of mission) yang memberi motivasi dan dinamika bagi hidup dan pelayanannya.

Menjadi pemimpin yang baik sesungguhnya dapat dipelajari. Mempelajari teknik kepemimpinan disertai hati dan karakter Kristus akan menjadikan setiap kita pemimpin yang baik. Marilah menjadikan dunia ini lebih baik, dengan menjadi orang-orang yang memberi pengaruh positif kepada dunia.

Referensi:

Alkitab

John Stott, Isu-Isu Global, Menantang Kepemimpinan Kristiani, Jakarta: YKBK

Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen, YTLF

Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis, YTLF

Yakob Tomatala, Pemimpin yan Handal, YTLF

About these ads

6 Tanggapan to "Menjadi Pemimpin Kristen"

Model kepemimpinan Kristen tergambar dari Tuhan Yesus dan tokoh-tokoh di Alkitab. Berhadapan dengan realita sikap para pemimpin gereja baik lokal maupun aras sinodal … sering kita menjadi kecewa. Masalahnya bukan lagi Kristus yang menjadi panutannya dalam memimpin akan tetapi ‘orientasinya pada teori2 dunia bahkan pendapat dari pemimpin tersebut , yang nyata-nyata kebablasan tidak sesuai dengan patokan dasar Alkitab. Terima kasih tulisan ini memberikan motivasi untuk saya menghayati dan memahami kepemimpinan yang saya lakoni . Jbu

ya! memang benar sekarang yang dibutuhakan adalah pemimpin yang menjadi teladan bagi para anggotaya seperti Kristus, Ia tidak hanya rela berkorban saja tapi ia menjadi teladan yagn no.1!
bagi pemimpin gereja ataupun para Bapak Gembala jadilag teladan bagi jemaatmu, Amin!

Terima kasih atas tulisan-tulisan Bp. Bobby…
Sangat jelas & membangun.
Tuhan Yesus memberkati kehidupan dan pelayanan Bp Bobby.

Kepemimpinan agenda abadi sepanjang hajat gereja. Pemimpin Kristiani dah sulit mau dicari tolok ukur atau indikatornya…sebab semua sudah serba normatif dalam penguraiannya…. sy gak percaya ada pemimpin kristiani… bagi sy cuma satu pemimpin yi Yesus Kristus. yang laennya pemimpin sinode dan gereja semuanya rekan2 sekerjaNya yang bekerja u kepemimpinannya….. uraian di atas boleh2 aja..tetapi serba normatif… jadi gak usah di tambah embel2 “kristiani” atau “kristen”…maaf, saya kira ide itu hanya ide semu… menjadi pemimpin pun udah cukup….

Pemimpin saja tidak cukup bro,sebab buah dari pemimpin didasari landasan dan ideologi yang dianutnya.ide diatas tidak semu,anda sepertinya barisan sakit hati pada pemimpin anda.pemimpin kristen berarti pemimpin berideologi kristus.

saya mau tanya di injil ada cara cara untuk menikah ?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Blog Stats

  • 352,251 hits

visitors

Readers

tracker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: